
TRV 61. Sakit
“Jika besok pagi suhu tubuh nona Lucciane masih sama, sebaiknya dibawa ke rumah sakit, my Lord.”
Masukan itu datang dari Marry sang kepala koki. Alih-alih membawa dokter, Sebastian memilih untuk mengumpulkan para penghuni Luccane The Palace terlebih dahulu. Ia kemudian menjelaskan alasan kenapa mereka semua dikumpulkan pada tengah malam. Alasannya tentu saja karena calon nyonya di kediaman tersebut mengalami demam tinggi. Sehingga sang tuan rumah menjadi sangat cemas.
Sebastian memang tidak menemukan dokter, namun ia mengetahui fakta jika dulu Marry sempat menjadi seorang perawat pada awal masa perang dunia ke satu. Marry adalah ras vampir murni yang sempat menikah dengan seorang perwira perang, kemudian sempat memiliki seorang putri. Putrinya itu meninggal karena terjangkit demam tinggi, namun telat mendapatkan penanganan dari para ahli. Semenjak peristiwa tersebut, sedikit-banyak Marry telah mengetahui cara untuk mengatasi demam tinggi pada anak-anak maupun orang dewasa.
“Demam merupakan bentuk reaksi tubuh untuk membantu memerangi virus dalam tubuh, seperti flu,” ujar Marry. “Demam tinggi pada manusia bisa saja berlangsung selama satu sampai tujuh hari. Tergantung penyebabnya, apakah virus atau disebabkan oleh hal lain.” Marry dengan telaten menyentuh permukaan kening Lucciane. Sekilas, ia sempat membayangkan wajah putri kecilnya yang tengah mengerang kesakitan akibat suhu tubuh yang tinggi.
Putri Marry terlahir sebagai dhampir atau seorang anak yang terlahir akibat perkawinan antara orang tua vampire dan manusia. Dhampir adalah mahluk campuran, bukan vampire dan juga bukan manusia. Pada umumnya Dhampir memiliki kekuatan khas vampire, namun tidak dengan kelemahan-kelemahan yang biasanya. Namun, pada kasus putri Marry, gen dari ras manusia lebih dominan. Sehingga putrinya itu punya kelemahan seperti umumnya ras manusia.
“Kita bisa membantu mendinginkan tubuh nona Lucciane menggunakan waslap dingin,” lanjut Marry. “Cukup gunakan waslap ke area dahi atau pergelangan tangan untuk membantu meredakan demam.”
Luccane menjadi pendengar yang setia. Ia berdiri tidak jauh dari belahan jiwanya yang masih menutup mata sejak tadi. Sekarang bukan saja Marry yang datang ke ruangan pribadinya, ada pula La’ti yang ikut risau pasca mendengar informasi bahwa Lucciane jatuh sakit. Kedatangan mereka berdua telah membantu Luccane menangani kondisi Lucciane.
“Lalu apa lagi yang harus dilakukan?” tanyanya kemudian.
“Untuk saat ini hanya itu yang dapat dilakukan, my Lord. Mengingat demam ini diakibatkan oleh simbol Moon Goddess, bukan virus atau sejenisnya. Kita hanya perlu menjaga sirkulasi udara.”
“Kalian bisa pergi sekarang.” Luccane baru buka suara pasca yakin jika tidak ada lagi informasi yang hendak disampaikan oleh kepala koki Luccane The Palace itu.
Marry dan La’ti pun pamit undur diri pasca memastikan jika kondisi Lucciane masih bisa dikendalikan. Yang penting adalah menjaga cairan tubuh, serta suhu tubuh supaya tidak melonjak pesat, atau bahkan turun secara drastis. Sekarang mereka mempercayakan semuanya pada Luccane.
“Bertahan lah sebentar lagi, little mate.” Luccane kini telah bergabung dengan belahan jiwanya itu. Kain waslap dingin dengan telaten ia gunakan untuk mendinginkan kulit sang belahan jiwa, lebih tepatnya pada area dahi.
Suhu tubuh Lucciane masih tinggi, Luccane dapat merasakannya walaupun ia tidak memiliki suhu tubuh seperti manusia. Namun, setidaknya tubuh dingin yang ia miliki dapat membantu belahan jiwanya. Maka dengan segera ia ikut berbaring, memeluk tubuh lemah belahan jiwanya itu.
“Kau adalah gadis yang hebat, little mate. Kau bahkan berani masuk ke hutan kegelapan tanpa keraguan.”
Luccane memang sudah lama mengawasi mate-nya. Namun, ia tidak pernah menyangka jika sang belahan jiwa akan datang dengan cara yang bisa dibilang cukup ekstrim. Dikejar para pembunuh bayaran, sampai akhirnya berlari tunggang-langgang ke arah hutan kegelapan yang jelas-jelas terkenal sangat berbahaya. Namun, belahan jiwanya itu tetap berlari tanpa arah dan keraguan. Sampai pada akhirnya kaki mungil tanpa alas kaki itu sampai ke gerbang Luccane The Palace yang posisinya ada di tengah-tengah hutan kegelapan.
“Get well soon, little mate.”
Satu kecupan Luccane daratkan di kening belahan jiwanya yang terasa begitu jelas menghantarkan rasa panas. Ia harap malam segera berlalu, supaya belahan jiwanya bisa segera melewati masa-masa menyakitkan ini. Esok ia menginginkan kesembuhan bagi belahan jiwanya. Semoga saja The God segera mengabulkan permintaan tersebut.
🦋🦋🦋
“Sakit?”
Wanita paruh baya yang tampil dengan dress klasik berbahan lembut dan berpotongan panjang hingga betis itu menggeleng kecil. Model baju yang mirip dengan baju Duchess of Cambridge itu sempat tidak jelas posisinya, namun telah dibenarkan kembali oleh si pemilik.
“Tidak.”
“Bagus lah. Lain kali kita bisa lebih menghemat waktu jika bermain seperti itu,” sahut pria paruh baya yang baru saja memasangkan jam tangan rolex di pergelangan tangan kirinya. “Sekarang katakan apa maumu? Sampai-sampai kau datang jauh-jauh dari Bristol untuk bertemu denganku.”
Wanita itu menoleh. “Aku butuh informasi tentang salah satu anggota dewan kehormatan.”
“Anggota dewan kehormatan?” pria paruh baya yang masih terlihat bugar di usianya yang sudah mendekati kepala lima itu menautkan kening. Ia kemudian berjalan ke sebuah sofa, tempat di mana ia menyimpan jas hitam mahalnya. “Siapa?”
“Luccane de Khayat,” sahut wanita paruh baya yang sekarang sudah kembali tampil on fire seperti semula. Semua pakaian yang sempat acak-acakan sudah kembali ia kenakan dengan benar. Riasan di wajahnya pun sudah dibenahi.
“Anda mengenalnya bukan?”
“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal anak muda yang ambisius itu,” jawab si pria. “Ada apa? kenapa tiba-tiba kau ingin informasinya? Jangan bilang jika putri cantikmu sedang dekat dengannya?”
Madam Gie. Ya, wanita paruh baya itu adalah Madam Gie. Tampak mengulas senyum anggun saat mengambil posisi duduk di samping pria yang ia katakan sebagai ‘kenalan dekat’ pada putrinya. Pria yang pernah putrinya jumpai di kunjungan ke Bletchley Park untuk peringatan dan penghormatan pada pahlawan tanpa tanda jasa pada perang dunia kedua. Pria yang sejak dulu menjadi bala bantuan baginya. Pria yang sudah berkeluarga, namun tetap mendambakan tubuhnya.
“Tidak,” bantah Madam Gie. “Aku ingin informasinya karena dia tiba-tiba datang dan mengaku sebagai kekasih dari putri tiriku.”
“Bukannya putri tirimu sudah tewas di hutan kegelapan?” tanya pria paruh baya yang merupakan salah satu anggota House of Lords atau dewan kehormatan tersebut.
“Itu lah masalahnya,” jawab Madam Gie seraya memainkan cincin yang melingkari jari tengah tangan kanannya. “Pria itu punya bukti bahwa anak itu masih hidup?”
“Bagaimana bisa dia masih hidup setelah masuk ke hutan kegelapan?”
“Entah lah. Aku juga masih tidak percaya. Akan tetapi, Gwen melihat buktinya sendiri.” Madam Gie menatap lawan bicaranya lekat. “Kamu harus membantuku, Robert.”
Pria bernama Robert itu tampak terdiam untuk beberapa saat. Ia baru teringat sesuatu setelah menelaah dengan baik nama yang baru saja diucapkan oleh Madam Gie. “Anak ambisius itu … berasal dari afiliasi buruh dan merupakan bangsawan seumur hidup,” katanya kemudian. “Dia berbeda dengan ku yang dipilih oleh dewan, karena anak itu dipilih langsung oleh pantai.”
“Jadi, maksud mu dia bukan orang sembarangan.”
Robert mengangguk. “Kau tahu sendiri jika pemimpin bayangan dewan pada saat ini berasal dari afiliasi buruh, seorang Baroness. Dengar-dengar anak ambisius itu berada di pihaknya. Tidak ada banyak informasi terkait anak itu, karena dia memang sangat tertutup masalah pribadi.” Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah sebuah lukisan yang menampilkan potret seorang wanita cantik dengan pakaian vintage. “Ada desas-desus yang mengatakan jika dia adalah anak haram, karena identitas kedua orang tuanya tidak diketahui sama sekali.”
“Cih, anak haram?” Madam Gie berdecih lirih. “Pantas dan cocok sekali dengan anak kesayangan Gustaff.”
“Jangan senang dulu, karena ada desas-desus lain yang mengatakan jika anak itu adalah keturunan kerajaan. Desas-desus itu bisa jadi benar, karena anak itu tercantum sebagai bangsawan seumur hidup.”
Kali ini Madam Gie terbungkam. Anak haram? Keturunan keluarga kerajaan? Bangsawan seumur hidup? jadi, identitas mana yang benar?
“Cari identitas lengkapnya untukku.”
Robert menoleh, menatap pada Madam Gie dengan raut wajah yang tidak terbaca. “Putraku akan kembali minggu ini. Ku harap kau bisa mengatur pertemuan putraku dengan putri mu, Gwen.”
Madam Gie tak lantas meng-iyakan. Bagaimana bisa pria yang selama ini bermain api dengannya, masih saja kukuh ingin menjalin hubungan lewat putra dan putri mereka.
“Kamu yakin, Robert?”
“Ya. Kenapa? Apa ada masalah?”
“Lalu … bagaimana dengan hubungan kita jika putramu dan putriku …”
“Kita hanya teman, Gie. Ingat itu baik-baik dalam kepala mu,” potong Robert sebelum beranjak pergi. “Temui lah Ryana dulu sebelum kembali ke Bristol,” tambahnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan. “Istriku sudah lama ingin bicara dengan teman lamanya.”
🦋🦋🦋
TBC
Note : Semoga suka 😘
Tanggerang 28-02-23