
“Ada apa, beautiful lady? Anda terlihat sedang mencemaskan sesuatu.”
Pertanyaan itu muncul dari pria rupawan yang tampil gagah dengan setelan hitam yang dipadukan dengan dasi berwarna hijau turquois. Kedua tangannya juga dilapisi sarung tangan putih, seperti biasa. Ia tampak sudah sangat rapih, padahal masih begitu pagi. Sebastian memang selalu identik dengan kerapihan.
“Kamu mau pergi ke suatu tempat, Sebastian?”
“Saya baru kembali,” jawab Sebastian dengan langkah mendekat pada sang lady. Mereka bertemu tepat di depan kamar pribadi milik Luccane. “Berry galatte yang terlihat sangat manis,” komentarnya tiba-tiba dengan senyum yang mulai terbit di bibir.
Lucciane pun menunduk, menatap piring dengan sepotong Berry galatte yang masih tersisa. Jika mendengar kata “manis” yang disatukan dengan “Berry galatte”, Lucciane jadi mengingat Luccane. Vampir berwajah Adonis itu juga berkata jika Berry galatte-nya manis, setelah memakan langsung dari tangan Lucciane.
“Anda baru kembali dari ruang my Lord?”
Pertanyaan Sebastian berhasil mengembalikan kesadaran Lucciane secara penuh. Ia pun mengangguk seraya mengulas senyum. Rasanya tak sopan memikirkan orang lain saat berbicara dengan seseorang yang jelas-jelas berdiri di hadapannya.
“Apa suasana hati my Lord hari ini sedang baik?” tanyanya, ambigu.
Lucciane tentu saja merespon pertanyaan tersebut dengan raut bingung. “Aku rasa suasana hati Luccane baik-baik saja hari ini,” jawab lucciane sekenanya. Setahunya memang begitu. “Kita tadi sempat bercengkrama, suasana hatinya sepertinya baik-baik saja.”
Sebastian mengangguk paham seraya tersenyum tipis. Ketika ia hendak pamit untuk undur diri—meninggalkan Lucciane yang masih berdiri disana. Namun, sebelum rencana itu terwujud, Lucciane terlebih dahulu memanggil namanya. Membuat Sebastian kembali membalikkan badan.
“Sebastian.”
“Yes, my Lady. Ada yang Anda butuhkan?”
Lucciane mengangguk dengan segera. “Apa kamu tahu lebih detail tentang para Lord vampir yang dikirim ke Land of dawn?”
Sebastian menautkan kening. Kendati demikian, sepersekian berikutnya ia mengangguk dengan sopan. “Ada apa? beautiful lady menginginkan informasi tentang mereka?”
Tanpa sungkan Lucciane mengangguk. “Aku … ingin tahu apa mereka baik-baik saja.” Ia pikir Sebastian pasti lebih mudah diajak untuk berbicara soal mereka (para Lord vampir).
“Saya paham maksud Anda,” sahut Luccane. “Saat ini para Lord vampir ada di salah satu bagian paling berbahaya di Land of dawn. Mereka sedang menghadapi duplikat Centaur, Talosta, Typhon serta anjing milik dewa Hades dari World of dawn atau underdawn, yaitu Cerberus.”
Lucciane tidak dapat menutupi keterkejutan saat mendapat informasi tersebut. “Mahluk seperti apa Centaur, Talosta, Typhon dan Cerberus itu? apa mereka berbahaya?” tanyanya kemudian.
Sebastian mengangguk. Bagi mereka yang suka mengulik atau tertarik pada sejarah serta seluk-beluk mengenai mitologi Yunani kuno, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama mahluk menyeramkan seperti Centaur, Talosta, Typhon dan Cerberus. Keempat monster itu sangat berbahaya dan punya kekuatan yang unik sampai langka.
“Sangat berbahaya, beautiful lady.”
“Lalu … bagaimana dengan para Lord vampir?”
“Mereka akan binasa,” ujar Sebastian tanpa rasa simpati. “My Lord sendiri yang sudah menentukan ajal mereka.”
“Apa kamu … tidak bisa menyelamatkan mereka, Sebastian?”
Sebastian tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Senyum tipis juga masih tersungging di bibirnya. “Tidak ada yang bisa saya lakukan tanpa izin My Lord.”
Kalimat tersebut seharusnya cukup bagi Lucciane untuk mengerti, jika di Luccane The Palace pemilih serta pembuat keputusan adalah Luccane de Khayat. Sebastian serta segelintir penghuni di dalam bangunan megah bergaya Victoria itu hanya tunduk dan patuh pada perintah Luccane. Jadi, jika menginginkan sesuatu, seharusnya Lucciane sudah paham harus pergi kemana untuk mendapatkannya.
“Untuk saat ini lebih baik Anda tidak ikut campur, beautiful lady.”
“Tapi …” Lucciane menggantungkan kalimatnya.
“Apa Anda tahu kenapa My Lord berkeinginan untuk membinasakan para Lord vampir?” lanjut Sebastian.
Lucciane menggelengkan kepala. Ia tidak tahu alasan pastinya.
“Itu karena para Lord vampir sejak dahulu selalu merasa jika mereka adalah yang paling benar, hanya karena mereka dilahirkan sebagai ras murni.” Sebastian tampak memperlihatkan perubahan pada raut wajahnya. Namun, ia pandai menutupi. “Mereka bahkan berani menentang benang takdir yang sudah jelas-jelas tidak dapat dirubah oleh siapapun, termasuk para mahluk immortal.”
“…”
“Dengar ini baik-baik, beautiful lady. Jauh sebelum Anda lahir ke dunia, My Lord hanya lah seorang anak tanpa orang tua. My Lord hidup sebatang kara selama sisa hidupnya, karena ulah siapa?” sengaja Sebastian menggantungkan kalimat, demi melihat reaksi lawan bicaranya. “Karena selisih paham yang disebabkan oleh para Lord vampir,” lanjut Sebastian. “Kejadian seperti kemarin pernah terjadi, dulu sekali. Saat raja vampir terdahulu masih berkuasa. His Lord merupakan raja yang bijaksana, kemudian jatuh cinta pada manusia biasa yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi soumatenya.”
“A-pa pasangan raja vampir terdahulu yang kamu maksud adalah Milady Iness?”
“Benar. Milady Iness adalah titisan The Goddess sebelum Anda, beautiful lady. Sama seperti Anda yang sudah ditakdirkan untuk menjadi belahan jiwa My Lord, Milady Iness juga memiliki takdir yang sama.”
Ternyata benar, runtuhnya kerajaan vampir terdahulu memang ada sangkup pautnya dengan Lord vampir. Namun, Lucciane masih belum mengetahui secara lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga memupuk banyak dendam hingga generasi berikutnya. Mungkin ia bisa bertanya ke La’ti atau Marry, karena bertanya kepada Sebastian masih menyisakan banyak kepingan puzzle yang kosong.
Lucciane harus tahu, kenapa "mereka" yang bisa saja terdiri dari para Lord vampir tega memisahkan pasangan yang saling mencintai seperti orang tua Luccane? bahkan tega membuat seorang anak kehilangan kebahagiaan.
🦋🦋🦋
Note :
CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 🤲
Semoga suka 😘
Tanggerang 24-02-23