
Tengteng~
Tengteng~
Suara khas dari bunyi lonceng emas yang terpasang di atas pintu masuk La Vie En Rosé berhasil menarik perhatian beberapa orang di dalam ruangan. La Vie En Rosé sedang menerima beberapa pembeli saat seorang pria rupawan dengan pakaian formal melangkah masuk. Rupa rupawan serta bola mata abu-abu kebiruannya menjadi dua hal yang paling pertama menarik perhatian. Sigap, seorang waiters berjenis kelam*n perempuan menyambut kedatangannya. Mengarahkan ke sebuah meja kosong, serta menanyakan apa yang hendak dipesan.
“Tuan saya ingin bertemu pemilik La Vie En Rosé.”
Pria rupawan lain yang datang bersama dengannya buka suara. Mengajak bicara waiters tersebut.
“Nona Gwen?” tanya si waiters, memastikan.
Sebastian tersenyum tipis seraya mengangguk. “Benar. Pemilik La Vie En Rosé.”
“Baik, Anda bisa menunggu sebentar. Saya akan memanggilkan nona Gwen,” kata si waiters sebelum pamit, mengundurkan diri. Meninggalkan mereka berdua yang masih menjadi pusat perhatian.
Mungkin sedikit-banyak dari mereka mengenal salah satu dari dua pria rupawan tersebut merupakan anggota dari House of Lords. Seorang pengusaha tampan dan mapan, Luccane de Khayat. Suatu kehormatan bisa berjumpa dengan seorang pria muda yang hebat dan berbakat sepertinya.
“Tempat ini sudah tidak sama lagi,” lirih Luccane.
Ini bukan kali pertama ia mengunjungi La Vie En Rosé. Kunjungan pertamanya justru saat grand opening La Vie En Rosé yang dipimpin langsung oleh Chef Gustaff beserta Istrinya. Sampai kemudian berganti ke pemilikan, menjadi milik Lucciane. Luccane sudah pernah datang berkunjung beberapa kali. Mungkin pada saat itu keberadaannya luput dari pandangan Lucciane.
Biasanya, aroma vanilla coklat samar-samar tercium sampai pintu masuk. Aroma harum tersebut berasal dari cupcake berwarna merah yang baru ditata di dalam etalase kaca. Cupcake itu perlu di angin-angin supaya dingin, baru bisa dihias dengan cream cheese frosting yang terbuat dari cream cheese, unsalted butter, dan whipped cream bubuk. Tinggal kocok cream cheese dan unsalted butter hingga lembut, kemudian campurkan whipped cream bubuk serta air es, lalu mixer hingga mengembang dan kaku. Namun, kali ini berbeda. La Vie En Rosé telah berganti kepemilikan. Telah berganti juga manajemen pula.
Mungkin jika dulu La Vie En Rosé terkesan hangat dan homey dengan satu pegawai tetap yang selalu hilir mudik, sekarang sudah berbeda. Bukan lagi satu pegawai, namun sekarang ada beberapa pegawai yang memakai seragam dengan name tag akrilik di setiap baju mereka. La Vie En Rosé yang mengandung arti “hidup dalam warna merah muda” juga sekarang sudah tidak menonjolkan arti kalimat tersebut pada jenis cake dan pastry yang dipajang pada etalase kaca. Biasanya cake dan kudapan manis didominasi oleh nuansa warna merah muda yang identik dengan cinta dan kasih, kini telah diganti dengan beragam warna.
“Permisi, tuan-tuan.”
Ada suara yang menginterupsi, membuat Luccane dan Sebastian menarik perhatian. Menatap ke arah datangnya sumber suara tersebut. Di samping meja yang ditempati, beberapa meter jarak yang terbentang di antara mereka, berdiri seorang wanita yang menggunakan gaun ala pengantin dengan atasan renda warna putih yang dipadukan dengan rok aksen ruffle. Ia juga menggunakan hiasan kepala fascinator (topi) ala keluarga kerajaan.
Penampilan wanita tersebut sangat berbeda sekali dengan penampilan kepala Chef pastry pada umumnya. Lucciane biasa tampil alakadarnya, menggunakan dress sederhana yang nyaman ia gunakan saat membuat cake atau pastry. Berbanding terbalik dengan Gwen Garcia, kakak tirinya yang sepertinya sangat menjaga image serta penampilan. Di tangan Gwen, La Vie En Rosé diubah menjadi tempat untuk menikmati kudapan manis yang dibubuhi kemewahan. Sudah jauh dari kesan hangat dan homey yang biasa dirasakan oleh semua kalangan.
“Apa nona adalah pemilik La Vie En Rosé?” Sebastian bertanya dengan nada bicara yang ramah. Ia memang memiliki 1001 kepribadian, namun yang paling sering ditonjolkan adalah kepribadian ramah dan bersahabat.
“Benar. Saya adalah Gwen Garcia, pemilik La Vie En Rosé.”
Gwen memperkenalkan diri dengan baik. Ia tampak percaya diri saat berkata jika ia adalah pemilik La Vie En Rosé. Luccane maupun Sebastian bukan tidak mengenal Gwen. Mereka tahu, cuma sebatas tahu, karena nama itu belakangan kerap menjadi perbincangan.
“Tuan saya adalah pelanggan lama di tempat ini,” ujar Sebastian seraya tersenyum tipis.
Gwen mengangguk. Sesekali ia melirik Luccane yang tampak enggan bicara langsung padanya. Pria rupawan itu lebih tertarik fokus pada hot Americano yang ia pesan. Menikmatinya dengan cool, selagi minuman bercitarasa pahit itu masih terasa hangat.
“Ah, itu adik saya,” sahut Gwen. “Namun, sayang sekali saya tidak bisa mempertemukan kalian dengan adik saya.” Raut wajah Gwen kemudian berubah. Seolah-olah kesedihan menyelimuti wajahnya yang disapu make up tersebut. “Tiga bulan yang lalu, adik saya … mengalami peristiwa buruk.”
“Peristiwa buruk?” tanya Sebastian, tidak percaya.
Gwen mengangguk sedih. “La Vie En Rosé sempat didatangi perampok. Saat kejadian hanya ada adik saya. Perampok itu kemudian … menghilang bersama adik saya.”
“Menghilang?” Sebastian yang satu-satunya menjadi orang memberikan respon. Sedangkan Luccane diam-diam merekam semua pembicaraan tersebut. Sudut bibirnya sempat terangkat saat Gwen dengan lugas bercerita.
“Kerampokan?”
“Benar, tuan …”
“Sebastian,” sahut si pemilik nama. “Sebastian Saunders.”
“Tuan Sebastian,” ulang Gwen. Seolah-olah sedang mengetes nama pria rupawan berusia 1.500 tahun itu di bibirnya. “Hingga saat ini adik saya masih dalam proses pencarian. Saya dan ibu saya telah melakukan yang terbaik, namun hasilnya belum ada perkembangan sama sekali. Oleh karena itu, sekarang saya yang mengelola La Vie En Rosé.”
“Saya paham perasaan Anda,” respon Sebastian. “Kedatangan kami ke sini hanya ingin memastikan.”
“Memastikan?” gumam Gwen. “Maksud Anda?”
“Memastikan bahwa nona Lucciane belum dinyatakan meninggal dunia oleh otoritas setempat. “ Sebastian tersenyum tipis melihat kilat keterkejutan di wajah Gwen. “Mengingat kekasih tuan saya masih hidup dengan sehat di Luccane The Palace.”
Kalimat yang baru saja ditambahkan Sebastian berhasil membuat Gwen terkejut sejadi-jadinya. Kekasih tuannya? Berarti kekasih pria rupawan yang sejak tadi diam saja adalah Lucciane? Tapi, bagaimana bisa?!
“Anda bisa mencocokkannya sendiri,” kata Sebastian lagi. Ia kemudian mengeluarkan telepon pintar keluaran terbaru dari brand iPhone dari saku jasnya. Menunjukkan sebuah potret yang mencetak gambar gadis cantik bersurai merah keemasan yang sedang berada di kebun apel milik Luccane The Palace. Ketika jemarinya bergulir, ada satu gambar lagi yang mencetak wajah gadis yang sama. Kali ini gadis itu sedang berada di meja makan bersama Luccane. Tampak tengah menikmati sarapan bersama.
“Pemilik La Vie En Rosé yang sebenarnya masih hidup,” tambah Sebastian dengan senyum hangat yang justru membuat jantung Gwen merasa ditikam.
🦋🦋🦋
TBC
Note : Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 27-02-23