Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 49. Jawaban dari Rasa Penasaran


“Makan.”


Suara berat Luccane kembali menginterupsi. Berhasil membuat Lucciane meraih kesadarannya kembali. Ternyata sejak tadi ia melamun dengan posisi tangan memegang sendok berisi baked beans. Lucu sekali. Bahkan ada Luccane yang menyaksikannya.


“Segera habiskan sarapan mu,” tambah Luccane dengan dagu yang diarahkan ke piring berisi full English breakfast.


Masih ada sosis, telur mata sapi, bacon, black pudding, kentang, tomat goreng, serta jamur tumis yang belum tersentuh sama sekali. Menu makanan yang sempat dianggap mewah dan ekslusif ibu bukan saja mengenyangkan, namun dapat meningkatkan metabolisme kerena jenis makanan yang tersaji dipanggang, bukan digoreng. Bagus untuk belahan jiwanya yang sempat kehilangan banyak energi pasca melakukan proses blood feeding.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Lucciane tiba-tiba. Tangannya yang memegang sendok berisi baked beans ditaruh kembali ke tempat asalnya.


“Tanyakan saja.” Luccane yang mengambil posisi duduk di bibir tempat tidur menjawab dengan santai. Seolah apapun yang akan ditanyakan oleh Lucciane bukan lah masalah baginya. “Ada yang menganggu pikiran mu?”


Lucciane mengangguk. “Bagaimana bisa … aku di sini? Di Luccane The Palace?”


“Karena aku membawamu pulang.”


Lucciane menautkan kening mendengarnya. “Saat aku kehilangan kesadaran, kita masih berada di Castil Vamfield. Kamu … sedang bertarung melawan Lynn dan saudara-saudaranya. Lalu, aku tidak ingat apapun lagi setelah itu.” Ia bercerita tentang memori terakhir yang diingat, sebelum kehilangan kesadaran dan bertemu dengan wanita cantik bernama Iness serta suaminya yang mirip sekali dengan Luccane.


Mengingat pertemuan itu, Lucciane kontan menatap Luccane lekat. Jika diperhatikan lebih detail, pria yang disebut suami Iness sangat mirip dengan Luccane. Besar kemungkinan pria itu adalah … ayah Luccane!


Bagaimana Lucciane bisa yakin? Karena mereka sangat mirip. Bahkan sama persis. Iness juga mengenal Luccane dan Sebastian. Bahkan seperti kenal dekat dengan mereka berdua. Jika dugaan Lucciane benar, maka Iness adalah ibunya Luccane.


“Ibu kamu …”


“Kenapa dengan ibuku?” sahut Luccane. “Kenapa tiba-tiba membahas ibuku?”


“Aku bertemu seorang wanita cantik yang mengenalkan dirinya sebagai Iness di dalam mimpi,” tutur Lucciane. “Milady Iness sangat cantik. Bola matanya berwarna biru, rambutnya brunette, ikal di bagian bawah. Senyum hangat selalu tersungging di bibirnya. Apa kamu mengenal Milady Iness?”


Luccane mengangkat tangannya, alih-alih langsung menjawab. Tangan yang terangkat itu kemudian bergerak guna menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah belahan jiwanya ke belakang telinga. “Hm. Aku mengenalnya.”


“Apa itu … ibumu?” Lucciane bertanya dengan hati-hati.


“Hm. She is my Mother,” jawab Luccane gamblang. Tidak ada sedikitpun kebohongan yang hendak ia tutup-tutupi. “Apa ibuku baru saja menyapamu?”


Lucciane mengangguk dengan kikuk. Jadi benar, wanita cantik itu adalah ibunya Luccane. “Milady Iness membicarakan soal kamu.”


“Apa lagi yang ibuku bicarakan?” tanya Luccane dengan senyum tipis yang tersungging.


“Sebastian.” Lucciane menjawab dengan singkat. “Milady Iness bilang jika Sebastian mewarisi darah Wizard dan bertanya apakah dia memperlakukan aku dengan baik? Kemudian aku menjawab jika Sebastian sangat baik. Bahkan orang pertama yang memberikan kesan baik padaku saat datang ke Luccane The Palace adalah Sebastian,” celoteh Lucciane. Kali ini ia dengan senang hati berceloteh panjang kali lebar.


Sedangkan Luccane sedang menjadi pendengar yang baik.


“Ternyata ibu lebih banyak bercerita saat bersamamu.” Sebastian membawa tangannya guna meraih bagian bawah dagu Lucciane agar gadis itu menatap ke arahnya. “Ada lagi yang kau temukan selama bertemu ibuku?”


“Aku bertemu sorang pria yang sangat mirip dengan kamu.” Pandangan iris biru Lucciane kini hanya tertuju pada pahatan wajah tampan di hadapannya. Meneliti setiap pahatan sempurna buatan The God. “Apa mungkin itu adalah … ayah kamu?”


“Bagaimana perawakannya?”


“Tinggi, tampan, bola matanya abu-abu seperti kamu, tetapi tidak kebiruan. Tubuhnya tegap, mengenakan pakaian militer, entah pakaian dinas kerajaan. Yang jelas dipenuhi epolet-epolet keemasan serta tanda kehormatan.”


Luccane tahu apa yang dimaksud dengan ucapan sang belahan jiwa. Sosok yang dikatakan “sangat mirip” dengannya itu pasti menggunakan pakaian dinas yang mencerminkan identitasnya sebagai seorang pemimpin, serta seorang panglima sebuah pasukan perang pada masa kejayaannya itu ... pasti ayahnya. Raja vampir terdahulu. Luciano de Khayat. Siapa lagi yang punya rupa fisik sangat mirip dengannya, selain sang ayah. Hampir semua kesempurnaan pada sosok itu diturunkan kepadanya, selaku keturunan satu-satunya.


“Itu ayahku,” jawab Luccane, sekaligus melunasi rasa penasaran yang sempat menghinggapi belahan jiwanya. “Luciano de Khayat, raja vampir terdahulu.”


“Sekarang habiskan sarapan mu,” ucap Luccane, mengingatkan. “Semua itu baik untuk tubuhmu.”


Lucciane mengangguk, kemudian kembali melanjutkan acara sarapannya. Luccane juga sesekali menyeka sudut bibirnya yang terkena noda. Pria itu jadi sangat peka dan perhatian. Sebenarnya Lucciane masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kedekatan mereka. Bagaimana pun selama ini ia tidak pernah dekat dengan kaum Adam. Wajar jika Lucciane masih sering kikuk menghadapi keintiman yang terjalin di antara mereka.


“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” sadar jika Lucciane kembali tenggelam dalam lamunan, Luccane pun inisiatif bertanya.


Dikarenakan Luccane yang sudah lebih dahulu peka akan rasa penasarannya, Lucciane pun mengangguk tanpa sungkan. “Bagaimana kita bisa kembali ke Luccane The Palace? Maksudku, waktu itu kamu terlibat pertarungan dengan Lynn dan saudara-saudaranya. Bagaimana bisa kamu sekarang ada di sini …”


“Jangan berbelit-belit,” potong Luccane. “Kau penasaran dengan kondisi Lord vampir itu?”


“…”


“Your friend’s hm?”


Lucciane menunduk takut saat Luccane sudah menatapnya dengan iris abu-abu kebiruan yang mengintimidasi. “Aku … hanya ingin tahu soal mereka.”


“Bukan cuma pemimpin Lord vampir itu?”


“Tentu saja bukan!” seru Lucciane cepat. “Aku memang mencemaskan Lynn. Tapi, mereka semua datang kesini karena aku. Rasanya wajar jika aku merasa cemas.”


“Mereka tidak penting untuk kau cemaskan.” Kali ini Luccane menjawab seraya beranjak. Kentara sekali jika mood vampir rupawan itu anjlok jika sudah membahas para Lord vampir. “Lebih baik habiskan sarapan itu, kemudian bersiap lah.”


“Tapi kamu belum menjawab pertanyaan …”


“Aku menunggu di ruang kerja,” potong Luccane. “Lakas lah datang. Aku tidak suka menunggu.”


Kecuali menunggu Lucciane.


Lucciane adalah pengecualian bagi Luccane. Walaupun telah menunggu selama ratusan tahun lamanya, Luccane tak merasa waktunya terbuang sia-sia setelah berhasil melakukan proses blood feeding dengan belahan jiwanya. Tinggal selangkah lagi guna mengesahkan ikatan di antara mereka. Luccane sudah tidak sabar rasanya.


“Pertanyaan kau yang satu itu akan terjawab di sana.”


Lucciane yang sempat menunduk, kembali mendongkrak guna menatap Luccane. Memastikan jika apa yang didengar olehnya barusan adalah suatu kebenaran.


“Perlu kau ingat bahwa aku tidak pernah mengingkari perkataanku.”


Lucciane masih tak bergeming saat Luccane berjalan semakin jauh, meninggalkan tempat tidur yang Lucciane gunakan. Namun, saat pria itu hendak keluar dari pintu yang sudah berhasil ia buka, bibir Lucciane juga terbuka. Melantunkan dua buah kalimat yang membuat bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis.


“Luccane, aku senang bertemu orang tua kamu. Mereka juga terlihat sangat menyayangi kamu.”


🦋🦋🦋


TBC


NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 🤲


Semoga suka 😘


Tanggerang 21-02-23