
“Bagaimana? Apa bisa menghubungi Kak Lynn?”
Luke yang sedang berkonsentrasi penuh, hanya bisa menggelengkan kepala. Ia sedang mencoba untuk berkomunikasi dengan sang kakak, yaitu Lynn yang entah berantah ada di mana.
Luke sudah berusaha semaksimal mungkin menggunakan tenaga yang tersisa. Walaupun sempat menemukan sinyal keberadaan Lynn, tetap saja panggilan yang ia berikan tidak mendapatkan respon balik. Sepertinya Lynn tidak memiliki banyak kesempatan untuk merespon balik. Padahal sudah berkali-kali Luke mengirimkan panggilan.
“Apa kondisi Kakak baik-baik saja?” gumam Leon dengan tatapan tertuju pada Liontin kehidupan digunakannya sebagai gelang tangan.
Benda yang mirip Rosario tampak itu tampak memiliki kilau berbeda pada keempat permata yang menghiasinya. Dari keseluruhan permata, milik Lynn yang berwarna putih, paling redup cahayanya. Bahkan cahaya itu sesekali padam. Hal itu tentu saja membuat para adiknya cemas bukan main. Permata itu akan terus akan berwarna jika pemilik jiwa kehidupan masih terikat dengan dunia. Jika warna permatanya redup dan sekejap padam, itu berarti pemilik jiwa kehidupan sedang berada dalam kondisi berbahaya.
“Kita harus segera keluar dari sini,” ujar Leon, penuh tekad. “Bagaimana pun caranya, kita harus keluar tanpa menyentuh jeruji besi itu.”
Penghalang terbesar mereka adalah jeruji besi yang bukan sembarang besi. Walaupun tampilan jeruji besi itu biasa saja, ditambah karat menghiasi di berbagai permukaan. Namun, siapa yang menyangka jika besi itu sangatlah berbahaya. Mereka bisa langsung kehabisan kekuatan jika terus memaksa keluar lewat jeruji besi itu.
“Aku akan mencoba mengunakan kekuatan serigala yang aku miliki,” pungkas Luke.
“Apa kamu yakin? Cahaya bulannya …” Leon menatap lemah ke arah jendela kecil yang menjadi satu-satunya penerangan di tempat tersebut.
“Ini sudah cukup.” Luke kemudian megambil posisi di ruang yang mendapat sinar bulan. Walaupun tadi sudah menggunakan banyak tenaga, ia harap masih bisa memanggil wujud serigalanya. Untuk itu Luke harus bisa berkomunikasi dengan jiwa serigala yang bersemayam di tubuhnya.
Ketika sedang berkonsentrasi penuh, tiba-tiba Leon mengejutkan kedua mereka. Lord vampir paling muda itu heboh saat menunjukkan sesuatu yang baru saja terjadi pada liontin kehidupan miliknya. Hal itu tentu menganggu Luke.
“Ada apa? kamu menganggu konsentrasi ku!” seru Luke, terpancing emosi.
“Jangan marah, Kak. Lihatlah dulu,” sahut Leon seraya mendekat ke arahnya. “Liontin kehidupannya …”
“Kenapa?” gumam Lomon. “Apa ada sesuatu yang terjadi dengan liontin kehidupannya?”
“Permata milik Kak Lynn …berevolusi.” Leon menunjuk permata dengan jiwa kehidupan milik Lynn dengan wajah terperangah. Hal itu tentu saja membuat kedua saudaranya ikut penasaran.
Ketika dilihat secara seksama, permata dengan jiwa kehidupan milik Lynn yang tadinya memunculkan sinar putih bersih yang sempat redup dan remang, kini telah berganti warna. Dari putih menjadi putih bercampur dengan warna keemasan.
Menurut guru besar mereka, jika permata jiwa kehidupan sampai berevolusi, itu berarti pemiliknya telah mengalami fase tersulit dalam kehidupan sebagai Lord vampir. Namun, ketika berhasil melewati fase tersebut, maka si pemilik jiwa akan mendapatkan berkat dari para Elder vampir terdahulu yang tidak kembali ke Valinóë maupun yang telah kembali ke Valinóë. Ditambah lagi fakta jika Lynn telah dipilih sebagai pasangan titisan The Goddess berikutnya oleh para Elder vampir. Ia punya banyak berkat dari para leluhur.
“Berarti Kakak baru saja mengalami fase tersulit,” ujar Lomon. “Apa mungkin, Kakak hampir saja kembali ke Valinóë?”
“Bisa jadi,” gumam Luke. “Ingat perkataan Sebastian?” Ia lantas menatap Lomon dan Leon bergantian. “Kekuatan seorang raja vampir tidak mudah untuk ditandingi.”
“Benar juga,” sahut Lomon. “Untung saja Kakak mendapatkan banyak berkat dari para leluhur.”
“Kalau begitu, kita juga harus berusaha sekali lagi,” timpal Lomon. Ia kemudian menatap jeruji besi yang memagari mereka dengan dunia luar. “Besi itu pasti punya kelemahan.”
“Sebastian bilang besi itu bisa menguras habis tenaga ras vampir. Kemungkinan itu tidak berlaku saat aku berubah wujud menjadi serigala.” Luke menyuarakan opininya kembali. Kali ini punya semangat lebih membara untuk berubah wujud menjadi werewolf. Namun, tiba-tiba ia mendapatkan pesan telepati dari Lynn.
“Ada apa, Kak?” tanya Leon, cemas. “Jika kekuatan Kakak belum pulih, sebaiknya Kakak jangan terlalu memaksakan diri.”
“Benar perkataan Leon, lebih baik kamu istirahat dulu sampai pulih. Kita butuh meditasi.”
Luke menggeleng setelah beberapa saat memejamkan mata dalam diam. “Kak Lynn baru saja mengirim pesan berupa gambaran. Armor Kak Lynn telah berganti, karena kekuatan Kak Lynn sudah berevolusi. Saat ini Kak Lynn sedang melawan Sebastian untuk menyelamatkan titisan The Goddess.”
Armor yang Luke maksud adalah baju jirah atau penutup yang digunakan untuk melindungi satu objek atau individu dari cidera atau kerusakan fisik, terutama senjata yang kontak langsung selama pertempuran berlangsung. Setiap petarung dalam ras mitologi pasti dilengkapi dengan armor.
Para Lord vampir juga dibekali dengan armor khusus sebagai body protection, karena mereka kerap kali terlibat pertarungan. Armor itu bisa berubah, sesuai dengan tingkat kekuatan serta kemampuan si pengguna. Selain itu, armor mereka juga telah didesain sedemikian rupa, sehingga ketika digunakan fleksibel dan terasa nyaman.
Ada pula istilah plot armor. Walaupun sama-sama mengutip kata “armor”, namun beda maksud. Plot armor sendiri merupakan kondisi dimana sorang mahluk immortal tidak bisa kembali ke Valinóë sebelum menjalankan tugas vital mereka. Kendati demikian, pada beberapa kasus, plot armor juga memiliki tanggal kadaluarsa atau batasan. Ketika tidak mampu menyelesaikan tugas, namun batas yang telah diberikan habis, maka ia akan dikembalikan ke Valinóë.
“Kalau begitu kita juga barus berusaha!” seru Leon dengan semangat berkobar. Ia pun segera mengambil posisi duduk bersila, siap melakukan meditasi untuk memulihkan kekuatannya.
“If we never try, we will never know,” tambah Leon.
(Jika kita tidak pernah mencoba, maka kita tidak akan pernah tahu)
“If plan A didn’t work, the alphabet still has 25 more letters,” sahut Lomon, mengutip sebuah peribahasa bijaksana. “Jika rencana A tidak berhasil, abjad masih memiliki 25 huruf lainnya,” ulangnya lagi. Kali ini dengan smirk kecil. Kemudian ia menyusul Leon untuk mengambil posisi meditasi. Mereka butuh ketenangan untuk mengembalikan kekuatan.
Luke sendiri tersenyum miring melihat bagaimana kedua saudaranya saling melemparkan kutipan peribahasa. “Ya, ini memang bukan waktunya untuk menyerah,” imbuhnya. “Kak Lynn telah berusaha dengan susah payah. Kita juga harus melakukan hal yang sama.”
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : Jangan lupa komentarnya!
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 18-02-23