
“Uhuk … uhuk …”
Suara batuk serta rintihan itu berhasil membuat pria rupawan yang berada dalam posisi berdiri dengan satu tangan berpegangan pada pedang legendaris sebagai penopang merasa terganggu. Geraman lirih kemudian terdengar.
“Berisik sekali,” lirihnya. Ia tahu betul jika dari masa asal suara-suara tersebut.
Jawabannya, dari mana lagi jika bukan dari seonggok tubuh tak berdaya yang tergeletak di atas permukaan lantai yang terbuat dari marmer. Darah tampak merembes dari balik pakaian yang digunakan. Tak berbeda jauh dengan pemilik suara naas tersebut, ia yang masih sanggup berdiri juga sudah terluka sangat parah. Sehingga tak ada niatan untuk beranjak pergi ke manapun, karena ia rasa ajal bisa menjemput kapan saja.
Dua mata pedang yang sama-sama tajam itu berhasil menembus batas akhir sebuah pertarungan. Senjata yang diciptakan sebagai senjata dengan kekuatan super itu berhasil melukai keduanya, bukan lagi sebelah pihak. Namun kedua belah pihak. Pertarungan sengit yang terjadi benar-benar seimbang. Hanya saja, sang Raja masih sanggup berdiri dengan bantuan pedang legendaris sang ayah sebagai penopang.
“Apa dulu leluhurmu menggunakan cara seperti ini untuk membunuh ayahku?” tanya sang Raja.
Saat ayahnya tewas dengan kondisi mengenaskan, ia masih terlalu kecil untuk memahami situasi serta kondisi. Namun, yang pasti ia sangat ingat jika sang ayah juga terluka parah … hampir di sekujur tubuhnya.
“Sebaiknya kau tidak mengingatkan peristiwa kelam itu lagi,” ucap Luccane. Lewat pertarungan ini, ia benar-benar dibuat berkelana ke masa lalu. Bayang-bayang sang ayah yang diserang oleh para Lord vampir, bahkan Elder vampir, tiba-tiba berkeliaran di kepala. Ia membayangkan berada di posisi sang ayah yang saat itu pasti merasa kewalahan.
“Tapi kau memilih mengungkit peristiwa itu lewat pertarungan ini.” bersamaan dengan berakhir kalimat tersebut, Luccane terbatuk dua kali. Ada rasa nyeri yang datang berkali-kali. Kali ini sangat terasa sekali.
Di sisi lain, Lynn sudah tidak mampu berkata-kata. Luka yang disebabkan oleh tebasan pedang legendaris milik raja vampir terdahulu benar-benar membuatnya dekat dengan ajal. Ia kehabisan cara untuk menghabisi Luccane, di saat tubuhnya sendiri sudah seperti itu.
“Si*l,” umpat Luccane saat luka di tubuhnya kembali mengeluarkan darah. Hal itu kontan membuat kekuatannya berkurang, sehingga ia harus lebih kuat berpegangan pada pedang yang ia jadikan sebagai penopang. “Aku bahkan belum membalas semua penderitaan yang kau rasakan, Ayah,” gumamnya getir. “Apa hanya sampai disini perjuangan putra bodoh mu ini?”
Luccane memejamkan mata guna menekan rasa yang timbul. Ia tidak menyangka jika memang takdir begitu lurus hingga saat ini. Padahal ia berniat untuk mengubahnya. Dalam kondisi tersebut, tiba-tiba Luccane membuka mata saat merasakan sesuatu yang begitu familiar. Aroma, aura, serta keberadaan yang begitu familiar dalam indra. Tak berselang lama, tubuhnya benar-benar kehilangan keseimbangan. Menyusul Lynn yang sudah tumbang sejak lama. Terbaring di atas dinginnya lantai yang terbuat dari marmer.
“Sial*n,” gumamnya saat melihat seekor The glasswinged butterfly hinggap di dadanya. Ia pernah melihat hewan itu, dulu sekali. Saat wajah cantik sang ibu masih menghiasi pandangan matanya. Biasanya mahluk bersayap elok itu suka menampakkan diri jika sang ibu memangil. “Gadis itu aman berada di Land of dawn,” ujarnya dengan suara lirih. Melihat kupu-kupu yang biasa menempel pada titisan The Goddess, membuat ia mengingat calon soulmate-nya. “Dia pasti akan suka tinggal di sana, karena bangsa peri …”
“Luccane.”
“Si*l. Apa sekarang aku berhalusinasi?” pikir Luccane seraya menutup matanya menggunakan lengannya yang tertutup baju. “Jika The God mengizinkan, aku ingin melihat gadis kecil itu sebelum kembali ke Valinóë. Jika tidak …”
“Luccane!”
Suara gadis bersuarai merah itu sekarang terdengar semakin jelas dan dekat. Membuat Luccane tanpa sadar tertawa kecil. Ia pikir para mahluk tak kasat mata yang menjadi penunggu di tempat ini sedang mempermainkannya. Si*l.
Jika saja kondisinya tidak seperti ini, ia akan memanggil salah satu mahluk peliharaannya untuk membasmi mahluk kasat mata yang berani mempermainkannya. Namun, saat suara itu kembali terdengar dibarengi dengan sebuah sentuhan yang mampir pada salah satu bagian tubuhnya, ia langsung mengeluarkan smirk kecil.
“Little lady,” panggilnya, memastikan. Jika itu memang gadisnya.
“Yes, I’am here.”
Smirk itu belum hilang saat Luccane menyingkirkan legan yang menutupi matanya. And then, ketika ia berhasil membuka mata, gadis cantik pemilik surai merah serta iris biru jernih itu ada di depan matanya. Hadir dengan raut wajah risau yang menghiasi rupa cantiknya. “Kenapa kau ada di sini?”
“Tidak perlu,” tolak Luccane. “Luka ini … tidak dapat disembuhkan, little lady.” Tangan Luccane terangkat, bergerak ke arah wajah mungil gadisnya. Ketika berhasil disentuh, ia tersenyum tipis. Kejadian yang sangat langka sekali, saat mahluk immortal sepertinya yang terkesan dingin seperti es, terang-terangan menyunggingkan senyum. Walaupun sangat tipis. “Kau pulang dengan siapa hm? Apa Sebastian yang menjemputmu dari Land of dawn?”
Lucciane menggeleng. “Aku meminjam portal sihir milik bangsa Elf.”
“Begitu kah?”
Sekali lagi Lucciane mengangguk. Wajah cantiknya yang tampak menyiratkan kecemasan, berangsur-angsur lebih tenang. “Seelie membantu aku pergi ke menara kembar milik bangsa Elf. Di sana aku bertemu Eliót yang membantu aku pulang dengan cepat ke Luccane The Palace.”
Luccane terkesan mendengar cerita dari perjuangan gadisnya. Ternyata ia tidak takut sama sekali, walaupun ditinggal di Land of dawn. Padahal notabene nya tempat itu dihuni berbagai jenis ras mahluk mitologi yang memiliki berbagai bentuk dan rupa.
“Kamu harus bertahan,” ucap Lucciane seraya membawa Luccane pada pangkuan. Sedangkan Lynn sendiri diserahkan pada Sebastian.
Semenjak tiba di area yang menjadi tempat pertempuran Luccane dan Lynn, Lucciane sudah melihat keduanya dalam posisi terbaring lemah. Ia tentu saja cemas bukan main. Awalnya ia ingin memastikan kondisi Lynn terlebih dahulu, namun hati kecilnya memilih Luccane sebagai prioritas utama. Padahal dilihat dari segi mana pun, mereka sama-sama terluka parah. Hanya saja Lynn sudah tidak banyak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Berbeda dengan Luccane yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
“Luka My Lord sangat dalam,” ujar Sebastian yang sudah merendahkan tubuh di samping sang Lord. “Ini membahayakan.”
Mendengar lanjutan dari kalimat Sebastian, Lucciane tentu saja semakin risau. Ia … terlambat datang untuk menghentikan pertarungan Luccane dan Lynn. Lihatlah sekarang bagaimana kondisi mereka.
“Lalu bagaimana dengan Lynn?” pandangan Lucciane tertoreh pada Lynn yang terbaring begitu saja.
“Mengenaskan,” sahut Sebastian. “Inti kehidupan yang ada di dalam tubuhnya mulai meredup.”
“Inti kehidupan?” kening Lucciane mengernyit mendengar kalimat tersebut. Ia baru tahu soal ‘inti kehidupan’.
“Sekumpulan energi kehidupan,” jawab Sebastian. “Seorang mahluk immortal kami juga memiliki inti kehidupan, sama hal nya dengan manusia yang memiliki organ-organ vital. Jika inti kehidupan melemah, itu berarti ajal sudah semakin dekat,” tambahnya. “Biasanya para Lord vampir menandai hal seperti itu lewat Liontin kehidupan.”
Sebuah benda Sebastian tunjukkan. Jika dilihat sekilas, benda itu mirip sekali dengan … “… Rosario?” tebak Lucciane.
“Bukan, ini Liontin kehidupan,” koreksi Sebastian. “Jika salah satu dari empat permata ini tidak bercahaya, berarti pemilik jiwa yang tersimpan di dalamnya telah binasa.”
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘
Tanggerang 16-02-23