Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 69. Vampire Hunter


TRV 69. Vampire Hunter


“Tidur yang nyenyak, little mate.”


Satu kecupan ia daratkan di kening belahan jiwanya yang sudah terlelap dalam buaian pulau kapuk. Sebelum beranjak ia memastikan jika tubuh mungil pemilik rambut merah keemasan, kadang terlihat seperti neutral red yang lahir di Castleton, Derbyshire itu tidak kedinginan. Selimut tebal yang lembut dan menghangatkan, ditarik ke atas sehingga menutupi tubuh mungil tersebut.


Luccane juga meninggalkan sesuatu dari dalam saku celana yang ia gunakan. Sebuah benda berdiameter bulat, berwarna putih bening. Di dalam benda bulat tersebut terdapat sesuatu yang bergerak-gerak. Mutiara kidung siren namanya. Benda mistis yang menyimpan suara kidung siren—nyanyian siren—yang merupakan nyanyian lagu memikat hati, sehingga siapa pun yang mendengarnya akan terbuai.


Dalam legenda yang berkembang, kidung siren atau “seirenes” digunakan untuk memikat hati pelaut. Ketika para pelaut itu mendengar nyanyian siren menjadi terbuai, sehingga kapal mereka menabrak karang lalu tenggelam. Sedangkan di tangan Luccane, Mutiara kidung siren digunakan untuk membuat sang belahan jiwa tidur nyenyak. Mengingat ia kerap kali mendapati belahan jiwanya itu tidur tidak nyenyak karena mimpi buruk.


“Semua sudah berkumpul?” tanya Luccane kala berhasil keluar dari dalam ruangan.


“Sudah, my Lord.”


Mendengar jawaban dari tangan kanannya, Luccane pun mantap mengambil langkah untuk masuk ke ruang arsip. Ia paling benci jika disuruh untuk menunggu, jadi ia memastikan terlebih dahulu. Apa para tamu yang diundang sudah datang atau belum.


“Kalian sudah berkumpul rupanya.”


Tujuh mahluk dengan jubah hitam yang berdiri membentuk sebuah lingkaran itu kompak memberikan penghormatan saat Luccane memasuki ruangan. Mereka semua adalah “tamu” yang diundang oleh Luccane secara pribadi. Tidak mudah mengundang mereka yang notabene tinggal di berbagai penjuru bumi, mulai dari daratan Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika, hingga Australia.


“Seharusnya kalian sudah tahu apa tujuan ku mengundang kalian ke Luccane The Palace.”


“Yes, my King.”


Mereka bertujuh menjawab dengan kompak. Padahal mereka menggunakan bahasa berbeda untuk berkomunikasi sehar-hari. Namun, dalam kesempatan ini mereka menggunakan bahasa yang sama.


“Mahluk itu telah bangkit,” ujar Luccane seraya mendudukkan diri di singgasana miliknya. Ia kemudian menatap mahluk berjubah di depannya satu per satu. “Mahluk yang bisa menelan energi kegelapan itu ada di Inggris.”


“Bukan kah mahluk itu sudah binasa?” tanya salah seorang mahluk berjubah yang berada di sebelah kanan singgasana Luccane.


“Binasa bukan berarti telah kembali ke Valinóë,” sahut suara dari seberang, lebih tepatnya sebelah kiri singgasana Luccane. “Dia menelan banyak jiwa kegelapan. Tidak mudah untuk membuatnya kembali ke Valinóë.”


“Benar sekali. Mungkin selama ini kita pikir dia telah kembali ke Valinóë, padahal dia hanya terkubur di suatu tempat.”


“Sekarang dia malah terbangun lagi.”


“Mungkin dia terbangun karena mencium aura titisan The Goddess.”


Mendengar sang belahan jiwa dibawa-bawa, Luccane masih memilih untuk diam dan mendengarkan. Mengumpulkan “mereka” yang merupakan sisa vampir ras murni yang masih ada di bumi bukan lah hal mudah (walaupun sama-sama ras murni, mereka berbeda golongan dengan para Lord vampir). Biarkan saja mereka menumpahkan unek-unek yang mereka pendam semenjak kemunculan mahluk penelan jiwa kegelapan yang berasal dari golongan Proscris Vampire. Mahluk itu masih ras vampir, namun karena sifat tamak yang ia miliki, membuatnya terus berkeinginan untuk berada di earth tanpa memikirkan Valinóë. Padahal keabadian sekalipun punya batas serta ada efek yang timbul seiiring bertambahnya usia.


Suara deep bass yang berasal dari salah satu mahluk berjubah itu mengalihkan perhatian Luccane. Sudah lama ia tidak mendengar suara tersebut. Suara satu-satunya kerabat anggota kerajaan vampir kuno yang masih tersisa. Dulu keluarganya memegang kekuasaan atas sebuah wilayah. Jika disamakan dengan peerage—sistem hukum yang secara historis tersusun dari dari beberapa gelar kebangsawanan (biasanya turun-temurun)—keluarganya memegang gelar Archduke. Dalam kekaisaran Romawi Suci, gelar ini berada di bawah Emperor (Kaisar) dan King (Raja) dan di atas Grand Duke (Adipati Agung) dan Duke (Adipati). Namun, hal tersebut masih menjadi perdebatan.


Kendati demikian, semenjak abad keenam belas, gelar Archduke dan Archduchess disandang oleh semua anggota Dinasti Habsburg tanpa disertai wilayah kekuasaan. Dalam hal ini, pengertian gelar Archduke telah berganti menjadi pangeran dan putri.


“Mahluk itu telah menyiapkan pasukan Proscris Vampire dalam jumlah besar,” kata Luccane dengan nada datar. Ia sudah melakukan investigasi secara mandiri lewat tangan kanannya, yaitu Sebastian Saunders yang serba bisa.


“Pantas saja selama ini banyak Proscris Vampire bermunculan. Di wilayah Utara, para pemburu Proscris Vampire bahkan mulai kewalahan.”


“Para pemburu dari Selatan akan membantu. Sebisa mungkin kita harus segera menumpas pasukan Proscris Vampire itu sampai ke akarnya. Jika tidak, umat manusia akan berada dalam bahaya.”


Musyawarah itu berjalan dengan hidmat dalam beberapa saat. Sebastian yang kebetulan hadir di sana juga mendengarkan dengan baik. Topik utama pada masalah yang mereka bahas bukan saja soal satu Proscris Vampire penyerap jiwa kegelapan, namun tentang keberlangsungan hidup umat manusia. Para Proscris Vampire yang bersifat agresif dan tidak bisa menahan hasrat untuk meminum darah akan menggigit manusia manapun yang tampak di mata mereka. Itu lah kenapa Proscris Vampire dalam jumlah besar akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup umat manusia.


“Untuk saat ini pemburu Proscris Vampire paling banyak ada di Selatan. Kami juga baru mendapatkan satu kelompok tambahan yang terdiri dari para Lord vampire.”


Pemburu vampir pada ras mereka disebut Vampire hunter. Vampir yang diburu pun bukan vampir sembarangan, melainkan vampir dari golongan Proscris Vampire atau vampir buangan. Biasanya para vampir buangan ini berasal dari berbagai golongan. Mereka dibuang oleh ras sendiri karena berbagai alasan, mulai dari penghianatan, ketamakan, sampai dianggap sebagai ancaman.


Vampir hunter tidak selamanya berasal dari ras vampir, dari ras manusia juga ada beberapa kelompok yang melebihi perkumpulan mereka sebagai vampir hunter. Mereka memburu vampir tanpa pandang bulu. Sedangkan vampir hunter dari ras vampir hanya memburu Proscris Vampire yang berpotensi membahayakan keberlangsungan hidup vampir yang lain. Vampir hunter satu ini juga dibekali dengan ketangkasan yang mumpuni, serta kecerdasan dalam menghadapi berbagai situasi.


“Apa yang kau maksud adalah Lord vampir yang masih tersisa?”


Mahluk berjubah yang tadi membawa-bawa topik tentang “Lord vampir” langsung mengangguk. “Mereka baru tiba di Selatan, dan baru bergabung dengan vampir hunter senior setelah mendapat berkat serta persetujuan dari Uskup Agung.”


Luccane tersenyum miring mendengarnya. “Jadi, mereka masih hidup?”


Ketujuh mahluk berjubah itu kompak terdiam kala mendengar kalimat yang baru saja raja mereka lontarkan. Sedangkan Luccane sendiri kini menyeringai kecil, masih agak tidak percaya dengan fakta yang baru saja ia ketahui. Ternyata para Lord vampir yang sudah ia kirim ke Land of dawn masih hidup. Bahkan sekarang mereka bergabung dengan vampir hunter di Selatan. Namun, jika mereka masih hidup, kenapa mereka tidak kembali “bertekad” untuk merebut belahan jiwanya yang merupakan titisan The Goddess? Kenapa tiba-tiba mereka bergabung dengan vampir hunter di Selatan?


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 06-03-23