
TRV 64. Deeptalk
“Masih terasa sakit?”
Dengan telaten pria rupawan itu menyeka sisa darah di ujung bibir belahan jiwanya. Mereka telah selesai melakukan proses blood feeding. Itu artinya sekarang mereka telah menjadi belahan jiwa sejati. Bahkan semua penghuni Luccane The Palace pun telah menjadi saksi bersatunya dua mahluk berbeda ras yang telah ditakdirkan untuk bersama itu.
“Sedikit,” jawab Lucciane.
Gadis cantik itu tampak lemas pasca menahan rasa sakit yang terasa begitu menyiksa kala ia berhasil menelan darah Luccane lewat tautan bibir mereka. Padahal lazim-nya proses blood feeding dilakukan dengan cara bersulang—sebuah perantara untuk mengekspresikan rasa cinta, harapan, semangat tinggi, dan rasa kagum.
Pada zaman dahulu, bersulang saat proses blood feeding juga akan diikuti dengan pengucapan kata-kata seperti ‘cheers’. Arti dari kata-kata tersebut adalah saling mendoakan dan bersorak untuk mengekspresikan kegembiraan telah terjadinya ikatan resmi di antara sepasang belahan jiwa. Namun, zaman telah berganti. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan proses blood feeding. Seperti contohnya Luccane yang langsung menghisap darah sang belahan jiwa dari sumber yang paling tepat. Ia benar-benar membuat sejarah baru dengan cara itu.
“Rasa sakitnya mungkin akan bertahan untuk beberapa saat,” ujar Luccane seraya membawa tubuh belahan jiwanya itu semakin mendekat. Rapat. Sampai tidak ada celah di antara mereka. “Istirahat lah. Aku akan menemani mu.”
Lucciane tersenyum lemah. Tubuhnya mungkin masih merasakan efek dari proses blood feeding, namun hatinya bekerja dengan normal. Perasannya benar-benar berbunga-bunga. Jantungnya juga tak mau kalah. Bekerja begitu tak biasa, karena degupnya sekarang masih tidak stabil.
“Aku rasa jantung mu akan meledak sebentar lagi, little mate.”
Lucciane mengerucutkan bibir diam-diam saat mendengar godaan tersebut. Ia tahu betul jika jantungnya sedang out of control. Namun, bagaimana bisa Luccane mengatakannya dengan begitu jelas? Apakah pria itu tidak dapat melihat wajah belahan jiwanya yang mulai merah seperti kepiting rebus.
“Hei, jangan sembunyikan wajah merah itu dariku.”
“Tidak mau,” tolak Lucciane yang makin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Luccane. Ia malu. Benar-benar malu.
“Kau ini benar-benar,” lirih Luccane seraya menjatuhkan satu kecupan di kening belahan jiwanya. “Bagaimana bisa The God menciptakan manusia sepertimu?”
“Memangnya apa yang salah dengan penciptaan ku?” sahut Lucciane dengan suara kecil. Namun, masih terdengar di telinga Luccane. Jangan lupakan fakta jika ia punya pendengaran yang sangat peka.
“Kau terlalu berbakat untuk membuat ku gila.”
Ingin rasanya Lucciane tersenyum sangat lebar mendengar kalimat tersebut. Namun, ia hanya memasang tampang cemberut saat Luccane manarik dagunya supaya wajahnya mendongkrak. Pandangan mereka bertemu lagi.
“Coba tunjukkan wajah cantik mu,” katanya dengan suara beratnya yang terdengar santai. Padahal jantung Lucciane sudah kembali menggila. Dasar organ tubuh yang sangat sensitif!
“Apa kau tahu, penantianku selama ratusan tahun rasanya tak sia-sia setiap kali memelukmu.”
Lucciane tahu jika Luccane telah menunggunya dengan sabar selama ini. Entah dengan cara apa mengapresiasi kesabaran pria itu, karena Lucciane tahu jika Luccane bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan di dunia ini. Sedangkan ia hanya seorang gadis sebatang kara yang tidak punya apa-apa. Apresiasi yang biasa ia berikan hanya cinta yang tanpa syarat.
“Terima kasih telah setia menunggu aku selama ini.”
Luccane tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir belahan jiwanya. “Tidak perlu berterima kasih. Kelahiran mu adalah hadiah untuk hidupku yang terlalu suram.”
“Untuk kedepannya, hidup kamu akan aku buat lebih berwarna!” seru Lucciane, penuh keyakinan.
Hal tersebut malah membuat Luccane tak segan-segan melepaskan kekehan. Sedikit banyak pria itu jadi lebih sering menunjukkan ekspresi semenjak bertemu dengan Lucciane. Padahal biasanya ia hanya menunjukkan ekspresi tak suka dan biasa saja. Sepertinya Luccane telah menjilat ludahnya sendiri. Dulu ia pernah menolak mentah-mentah kelahiran calon soulmate nya ketika dibahas oleh Sebastian.
“Aku tidak pernah berpikiran untuk memiliki pasangan.”
‘Jawaban yang dewasa sekali,’ gumam Sebastian. “Tapi, ini adalah perkamen yang ditulis berdasarkan rasi bintang saat kelahiran Anda.”
Luccane tampak tidak tertarik sama sekali pada pembahasan tentang soulmate atau pasangan sejati. Lagipula ia terlalu muda untuk memikirkan ranah tersebut. Untuk saat ini, tujuan utamanya adalah berlatih, berlatih, kemudian belajar supaya dapat menjadi vampir yang kuat, dan cerdas. Kedua kemampuan tersebut sangat dibutuhkan sebagai dasar bertahan hidup.
“Omong-omong, Anda tetap harus mengetahui isi perkamen ini, My Lord.”
“Tidak perlu,” tolak Luccane. “Lebih baik kau temani aku berlatih pedang.”
Sebastian mengangguk, namun tak segera beranjak. “Jika bukan hari ini, kemungkinan besok, atau lusa. Saya akan tetap membuat Anda mengetahui isi perkamen ini.”
“Memang apa pentingnya isi dari sampah itu?”
“Petunjuk soal pasangan Anda yang kemungkinan belum lahir ke dunia.”
“Bagus. Sekalian saja jangan pernah terlahir,” sahut Luccane, sarkas.
Luccane bahkan pernah berkata sangat jahat, tidak menginginkan soulmate nya lahir ke dunia. Mungkin jika kalimat itu berbalik menjadi doa, sekarang ia masih hidup dengan penuh kesuraman. Tidak akan pernah ada gadis bersurai merah keemasan yang tinggal di Luccane The Palace. Tidak akan pernah ada alasan yang menjadi penyebab pertarungan antara dirinya dnegan para Lord vampir terakhir pula. Karena alasan kenapa kehidupannya lebih berwarna dan bermakna belakangan ini adalah kehadiran belahan jiwanya, yaitu Lucciane Garcia.
“Maaf,” ucap Luccane tiba-tiba.
“Maaf untuk apa?” bingung Lucciane. Pasalnya Luccane tiba-tiba meminta maaf. Padahal ia tidak membuat kesalahan apapun.
“Untuk kata-kata kasar ku yang pernah tidak menginginkan kelahiranmu.” Luccane menjauhkan wajah, menatap ke sembarang arah. Asal jangan bertemu tatap dengan iris biru belahan jiwanya. Namun, gadis cantik itu berhasil membuatnya terkejut saat mengambil tindakan cukup berani dengan … menaiki tubuhnya.
Tolong dicatat baik-baik, gadis cantik dan pecinta binatang menggemaskan itu telah berani menaiki tubuh seorang raja vampir.
“Turun. Little mate.” Ia meminta dengan penuh penekanan. Masih enggan menatap langsung ke arah lawan bicaranya.
“Tidak sebelum kamu menjelaskan apa maksud dari kalimat yang kamu ucapkan barusan.”
“Aku hanya pernah salah bicara,” jawab Luccane seraya mengalihkan pandangan. Kali ini menatap langsung ke arah belahan jiwanya. “Waktu itu aku masih terlalu naif. Masih dibutakan oleh dendam, ketimbang memikirkan masa depan.”
Lucciane terpaku mendengarnya. “Lalu sekarang bagaimana?”
“Bagaimana apanya, little mate?” tanya Luccane dengan kedua tangan melingkari pinggang mungil belahan jiwanya. Dalam sepersekian detik berikutnya, ia berhasil membalikkan posisi. Membuat belahan jiwanya kembali berada di bawah penjara dua lengan kokohnya. “Jika kau bertanya tentang perasaan ku setelah bertemu kau yang dulu sempat tidak aku inginkan kelahirannya, jawabannya tetap sama.”
“A-pa?” tanya Lucciane ragu. Kalimat itu benar-benar membuat ia over thinking.
Luccane tersenyum tipis seraya merendahkan tubuhnya. Kali ini bukan bibir merah yang beberapa jam lalu ia sesap habis-habisan targetnya, melainkan leher yang telah dibubuhi mark serta segel kepemilikan. Tempat paling favorit baginya.
“Seperti hari pertama,” jawab Luccane di depan leher Lucciane. Letak di mana ia membuat mark saat proses blood feeding. “Ketika aku begitu terpesona melihat kau lahir ke dunia,” lanjutnya. “Detik itu juga aku sadar telah jatuh cinta,”
🦋🦋🦋
TBC
Note : Semoga suka 😘
Tanggerang 28-02-23