Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 29. Nyanyian Siren


Angin sejuk membelai surai kemerahan gadis cantik yang sejak tadi memeluk lututnya sendiri di dekat padang yang ditumbuhi oleh ilalang dan eulalia kering. Hari sudah berganti. Matahari telah berhenti menyinari bumi, berganti dengan bulan yang terlihat cantik dari bawah sini. Walaupun sedang berada di tempat terbuka, gadis cantik itu tak perlu takut, karena bulan bersinar dengan sangat terang. Ditambah lagi kunang-kunang yang berterbangan. Menambah kesan terang di tempat tersebut.


Namun, semua keindahan di tempat bernama Land of dawn itu tidak dapat menghiburnya. Banyak sekali spekulasi yang memenuhi rongga di dalam kepala, sehingga perasaannya pun menjadi tidak menentu. Bahkan Seelie, teman barunya yang berasal dari ras Fairies juga tidak bisa membantu. Mahluk bersayap itu hanya bisa memaparkan apa yang ia ketahui.


“Minum lah sedikit, kamu terlihat sangat pucat,” bujuk Seelie. Sebuah cawan berisi cairan berwarna kuning, berbau harum, ia sodorkan ke arah Lucciane.


“Aku tidak haus. Nanti saja,” tolak Lucciane halus.


“Minum saja sedikit. Ini adalah cairan manis dari bunga-bunga yang tumbuh dan dirawat oleh para Fairies kebun,” tutur Seelie. “Minum sedikit saja supaya kamu tetap punya energi.”


Tidak mau membuat Seelie sedih, Lucciane pun mengangguk dan menerima cawan tersebut. Meneguk isinya satu kali guna membasahi kerongkongan.


“Bagaimana rasanya? Manis bukan?”


Senyum tipis Lucciane berikan seraya menyeka sudut bibirnya. “Iya. Manis sekali.”


Mungkin jika di tempat tinggalnya, cairan manis yang diberikan Seelie disebut nectar. Rasanya manis dan legit seperti madu, serta memiliki aroma yang sangat harum. Cukup cocok dinikmati di saat sepert ini.


“Bagus lah jika kamu suka.” Seelie tersenyum lebar seraya berkacak pinggang. “Raja vampir bisa marah jika miliknya tidak dijaga dengan baik.”


“Jangan bicara seperti itu,” ucap Lucciane dengan raut wajah yang seketika menjadi muram. “Aku bukan milik siapapun.”


“Tapi, tanda kepemilikan itu …”


“Ini cuma tanda yang ditinggalkan akibat hisapan yang terlalu kuat,” dalih Lucciane. Salah satu tangannya bergerak guna menyentuh tanda kemerahan yang seharusnya sudah hilang.


“Tanda itu memang harus dibuat dari hisapan. Jika lewat gigitan, sudah pasti manusia biasa akan berubah menjadi vampir.”


Lucciane tertegun mendengarnya. Benar juga perkataan Seelie. Jika waktu itu Luccane menggunakan taringnya untuk menggigit leher Lucciane, apa sekarang Lucciana sudah berubah menjadi vampir?


“Asal kamu tahu, tanda kepemilikan yang ditinggalkan itu berbeda. Tergantung dari bagaimana cara dibuatnya.”


“Begitu kah?” Lucciane merespon dengan wajah innocent. Dari apa yang ia tonton di televisi waktu kecil, serta baca dari buku dongeng klasik, vampir akan menggigit manusia untuk menghisap darahnya. Setelah itu korbannya akan berubah menjadi vampir dan memburu manusia lain. Namun, ternyata ada yang berbeda versi real-nya.


“Biasanya tanda kepemilikan ditinggalkan untuk menandai kepunyaan. Istilah ini juga berlaku bagi ras werewolf. Dalam ras berdarah panas tersebut, ada pemimpin yang disebut Alfa. Pasangan Alfa biasanya disebut Luna.” Seelie bergerak, mengambil beberapa kelopak bunga aster untuk menghiasi rambut merah Lucciane yang seolah-olah bersinar di bawah cahaya bulan. “Luna seorang Alfa biasanya ditandai. Tanda itu dibuat lewat sebuah gigitan. Nah, pada ras vampir juga sama. Bedanya, ada beberapa jenis tanda yang bisa ditinggalkan.”


“Apa saja?”


Seelie tampak memainkan sayapnya sebelum mengambil posisi di dekat Lucciane. Mahluk mistis satu itu sepertinya memang tidak bisa diam. “Tanda kepemilikan pemimpin atas pengikutnya. Tanda kepemilikan individual atas kepemilikannya. Dan terakhir, tanda kepemilikan individual terhadap pasangan sejatinya.”


“Apa bedanya poin ke dua dan ke tiga?” tanya Lucciane. Jika point pertama ia bisa langsung paham tanpa harus dijelaskan. Namun, poin ke dua dan ke tiga itu terdengar sama saja.


“Aku jelaskan satu per satu,” kata Seelie, pengertian. “Tanda pertama biasanya diberikan tanpa gigitan. Seorang pemimpin akan menandai pengikutnya, seperti predator di alam liar menandai wilayah kekuasaannya. Biasanya jika pengikut ditandai, tujuannya agar membedakan dari pengikut kelompok lain. Tujuan lainnya adalah sebagai tanda kesetiaan.”


“Tanda kedua biasanya diberikan seorang vampir dalam cakupan yang lebih kecil. Misalkan soliter—kelompok kecil, atau seorang kepala keluarga pada orang-orang yang berada dalam perlindungannya. Tanda yang terakhir, tanda kepemilikan yang diberikan pada pasangan. Tanda ini biasanya menjadi simbol jika manusia yang telah ditandai, sepenuhnya menjadi milik sang pemberi tanda. Tanda ini juga akan melindungi manusia tersebut dari vampir lain.”


“Biasanya tanda ini ditinggalkan lewat gigitan dua taring yang akan meninggalkan jejak khas. Tanda yang ditinggalkan bisa tampak di mata atau tidak, tergantung keinginan si pembuat tanda.”


Seelie menatap Lucciane lekat. Ia juga sempat mencuri pandang ke arah tanda yang ditinggalkan Luccane. Di matanya, tanda itu terlihat sangat jelas. Tanda yang membentuk simbol Luccane The Khayat.


“Biasanya jika tanda yang ketika dibuat, akan ada proses tukar darah juga. Itu adalah proses sakral yang akan mengesahkan mereka sebagai soulmate. Pasangan yang tidak akan terpisahkan, kecuali oleh maut. Akan tetapi …”


“… biasanya,” lirih Seelie. “Jika seorang manusia biasa telah bersedia menjadi soulmate, itu berarti dia sudah siap dan bersedia menjadi bagian dari ras vampir. Meninggalkan kehidupan normal sebagai seorang manusia.”


Lucciane kembali tertegun mendengarnya. Untuk poin yang ketiga ternyata cukup banyak perihal yang harus dipertimbangkan. Hening kemudian kembali menjadi penengah. Lucciane tidak memberikan respon apapun lagi, sampai-sampai Seelie sendiri kebingungan.


Di tengah keheningan tersebut, tiba-tiba terdengar suara indah yang mengalun begitu indah. Mendayu-dayu, menghanyutkan siapapun yang mendengarkannya secara seksama.


“Dari mana datangnya suara ini?”


“Dari danau yang langsung terhubung dengan samudra,” jawab Seelie. “Kamu mau melihatnya lebih dekat? Seelie bisa menunjukkan jalan.”


Lucciane mengangguk kecil. Ia tiba-tiba penasaran dengan suara indah yang mengalun di antara keheningan tersebut. Syair yang dinyanyikan sangat indah, menarik siapapun yang mendengarnya untuk segera mendekat.


“Tetap fokus, jangan sampai karena nyanyian ini kamu terperosok ke dunia ilusi,” ujar Seelie, memperingati.


“Suara indah dari mana ini?” Lucciane bertanya ketika ia tidak menemukan sumber dari nyanyian indah tersebut. Mereka sudah tiba di danau, tetapi tidak ada apa-apa.


“Dari dalam air.”


“Apa?” kaget Lucciane. “Bagaimana aku bisa … mendengarnya?”


“Karena kamu istimewa,” jawab Seelie. “Syair atau nyanyian yang menghanyutkan ini namanya kidung siren.”


“Kidung siren?”


Seelie mengangguk. “Nyanyian siren. Salah satu cara mereka untuk berkomunikasi, menjerat manusia, sampai menyampaikan rasa suka ketika bertemu dengan pasangannya.” Ia kemudian menunjuk bebatuan yang timbul pada bagian tengah danau. “Di bawah sana, kidung siren sering terdengar. Itu tanda jika siren laki-laki sudah mulai menemukan pasangannya.”


“Begitu, ya?” lirih Lucciane. “Aku rasa … aku pernah mendengar nyanyian yang sama seperti nyanyian barusan.”


“Ohoo~” Seelie mengeluarkan suara khas nya. “Dimana kamu mendengar nyanyian siren?”


“Di Luccane The Palace,” jawab Lucciane gamblang. “Saat aku sakit, aku sempat berpikir jika aku berhalusinasi karena telah mendengar nyanyian yang begitu merdu. Ketika aku bangun di pagi hari, aku juga tidak terlalu ingat. Tapi, saat barusan aku mendengar nyanyian siren, aku … merasa sangat yakin.”


Seelie tersenyum tipis seraya menyentuh bahu Lucciane dengan lembut. “Itu mungkin terjadi jika Raja vampir yang melakukannya. Mengingat Raja vampir punya mutiara siren yang bisa mengeluarkan nyanyian siren.”


“…”


“Benda itu mungkin tidak berpengaruh sama sekali pada ras vampir. Namun, pada ras manusia seperti kamu, benda itu bisa sangat berpengaruh.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 09-02-24