Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 68. Lucheren & Gwen


TRV 68. Lucheren & Gwen


Gwen menunduk dengan gelisah di dalam mobil yang sedang melaju, membawa ia dan sang ibu ke London. Tiba-tiba ada undangan makan malam yang dikirimkan secara pribadi ke kediaman mereka. Padahal setelah ayahnya wafat, yaitu Chef Gustaff, sudah jarang, bahkan hampir tidak ada undangan makan yang dikirimkan secara pribadi. Ada pun undangan yang datang hanya dari beberapa pihak perusahaan yang pernah bekerjasama dengan Chef Gustaff semasa hidup.


“Mom, sebenarnya makan malam ini bertujuan untuk apa?” tanyanya kemudian. Memecahkan keheningan yang semenjak meninggalkan Bristol menyelimuti mereka.


Sang ibu sendiri yang tampil anggun dan menawan dalam balutan dress model klasik tampak lebih banyak diam. Seolah-olah ada banyak hal yang sedah dipikirkan oleh otaknya.


“Kenapa tiba-tiba Nyonya Ryana mengundang kita makan malam?”


Pertanyaan kembali dilontarkan oleh putrinya. Mau tak mau, Madam Gie harus menyudahi pergulatannya dengan isi kepala. Mendengar nama istri sah dari Robert—pria yang hampir menikahinya puluhan tahun silam—langsung membuat Madam Gie terjaga.


“Putra tunggal Ryana baru saja kembali dari perjalanan bisnis di luar negeri. Dalam rangka menyambut kepulangan putra sematawayangnya, dia kemudian membuat acara makan malam sederhana di salah satu restoran bintang lima dekat sungai Thames.”


Gwen mulan paham akan maksud dari undangan tersebut. Namun, entah kenapa ia masih saja merasa gelisah. Perasaan itu mudah muncul semenjak kedatangan Sebastian dan pria rupawan yang mengenalkan diri sebagai kekasih adik tirinya. Sampai sekarang Gwen masih kesulitan untuk menerima kenyataan yang ada. Kemungkinan besar jika adik tirinya masih hidup, maka ia dan sang ibu bisa masuk penjara karena telah melakukan banyak tindak kejahatan.


Selain itu ia juga akan kehilangan hak atas La Vie En Rosé. Selain La Vie En Rosé, ia juga pasti akan kehilangan restoran bintang 5 yang selama ini dikelola oleh mendiang ayahnya. Restoran bergensi tersebut sudah memiliki 20 cabang yang tersebar di seluruh Inggris, dan Gwen telah susah payah merebut hak atas kepemilikan restoran tersebut. Padahal jelas-jelas hak atas kepemilikan restoran tersebut jatuh kepada Lucciane selaku anak yang lahir dari hubungan sah antara Chef Gustaff dan istri pertamanya.


“Tenang lah, sayang,” ujar Madam Gie kala mereka berdua memasuki sebuah restoran bintang lima yang letaknya dekat dengan sungai Thames.


Setelah menempuh perjalanan dari Bristol, mereka langsung datang ke tempat diselenggarakannya acara makan malam, yaitu salah satu restoran bintang 5 yang ada di dekat sungai Thames. Sungai terpanjang kedua di Inggris yang airnya mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut. Sungai sepanjang 356 kilometer dengan luas perairan mencapai 12,935 km² ini bermuara di laut Utara.


“Malam ini kamu akan bertemu pria rupawan lain, selain pria tempo hari yang mengaku sebagai kekasih anak itu.”


“Maksud Mommy?” bingung Gwen. Apa maksud dari perkataan sang ibu adalah putra semata wayang dari teman lama ibunya, Ryana Spencer.


“Mommy dan Ryana sepakat untuk mempertemukan putra dan putri kami pada makan malam kali ini.”


Gwen terdiam mendengarnya. Jika sang ibu sudah berkata demikian, berarti ia sudah tidak punya pilihan lain. Toh, bagi Gwen sang ibu adalah yang Maha Benar. Selama ini selalu hidup bak tuan putri dari keluarga aristokrat dalam keseharian, namun di balik semua didikan aristokrat tersebut, ibunya tak lebih mendidik Gwen agar menjadi ‘nyonya’ rumah yang elegan, bagaimana pun cara yang ia gunakan untuk meraih posisi tersebut. Entah dengan cara menggoda suami orang, atau bahkan sengaja menaiki ranjang pria yang telah beristri, yang terpenting adalah ketika sudah mendapatkan posisi ‘nyonya’ di rumah si pria, ia bisa terlihat berbeda dari image wanita ‘perebut’ di luar sana.


“Maaf telah membuat kalian lama menunggu, padahal kami yang mengundang kalian.”


Madam Gie dan Gwen yang sudah tiba dan duduk terlebih dahulu pada meja yang telah di-reservasi, langsung berdiri guna menyambut anggota utama dari keluarga Spencer, yaitu Robert Spencer dan Ryana Spencer.


“Kami juga baru sampai,” ucap Madam Gie kala menyambut kedatangan mereka.


Pasca bercakap-cakap sebentar, mereka yang baru saja dipersilahkan duduk kembali, sebuah suara bass yang cukup berat menginterupsi. Membuat pasangan Spencer itu menoleh secara bersamaan, diikuti oleh Madam Gie dan Gwen.


“Sepertinya kedatanganku yang paling terlambat,” ucapnya ketika berjalan kian dekat ke arah meja yang sudah diisi oleh 4 orang. “I’an sorry, Mom, Dad, and …” suara bass berat itu sempat menghilang untuk beberapa saat, karena si empunya mengalihkan pandangan pada Madam Gie dan Gwen secara bergantian. “ …Madam Gie with his daughter,” lanjutnya dengan iris coklat terang bak mata elang yang menatap lekat pad Gwen. Seolah-olah seorang predator baru saja menemukan mangsa empuk di hutan belantara.


Acara makan malam tersebut berjalan dengan lancar. Bahkan saking lancarnya, dua anak dari dua keluarga yang sebelumnya tidak pernah berjumpa sama sekali itu pasca acara makan malam selesai, mereka setuju untuk dijodohkan. Ryana sebagai ibu Lucheren Khayansar merasa senang sekali mendapat calon menantu putri dari teman lamanya sendiri. Image Gwen Garcia di mata publik memang tidak perlu diperbaiki lagi, saking baik dan bagusnya. Terlebih lagi sekarang nama Gwen sedang naik daun.


Sedangkan bagi Madam Gie, hasil dari makan malam tersebut membuat ia merasa berada di dalam situasi yang menempatkan dirinya pada dua sisi. Di satu sisi ia merasa senang untuk putrinya, karena Lucheren Khayansar yang mewarisi darah Spencer adalah salah satu The Golden Man alias pria emas. Pria muda dengan sebidang prestasi dan tentu saja punya pekerjaan yang tetap dengan penghasilan yang tidak sedikit. Namun, di sisi lain Madam Gie merasa kesempatan untuk main gila dengan mantan orang terkasihnya di masa lalu akan semakin terbatas.


🦋🦋🦋


“Orang-orang ku tidak sembarangan mengingat nama orang yang tidak berkepentingan.”


Suara berat dan dalam itu agaknya berhasil mengejutkan Lucheren Khayansar yang sama sekali tidak menyadari keberadaan mahluk penghisap darah lain di tempat tersebut, kecuali pria di hadapannya. Sebastian.


“Ternyata ada tuannya.” Kalimat itu bukan pujian, namun sindiran yang tersirat. Lucheren sepertinya sengaja berkata demikian saat pertemuan perdananya dengan raja vampir. “Aku merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda, tuan …”


“Luccane de Khayat,” potong Gwen. Ia sempat membeku untuk beberapa waktu saat mendengar suara berat yang terpatri dalam ingatan. Disusul dengan wajah rupawan milik Luccane The Khayat yang tampak memenuhi penglihatan. Sungguh kejutan yang menyenangkan. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ada yang ingin saya sampaikan.”


“Kau juga mengenalnya?”


Gwen mengangguk kecil. “Dia mengaku sebagai … kekasih adikku yang sudah menghilang semenjak beberapa bulan lalu,” cerita Gwen. Ia kemudian kembali memusatkan perhatian pada Luccane. “Jika benar adikku, Lucciane masih hidup, pertemukan lah kami.”


Luccane tidak menjawab. Sebastian juga bungkam dan memilih untuk menunggu jawaban dari sang Lord. Bukan ranahnya untuk menjawab. Sedangkan Lucheren tampak tertarik dengan topik pembicaraan tersebut, sampai-sampai ia menarik sebuah smirk.


“Aku ingin melihat adikku secara langsung,” tambah Gwen, menantang secara terang-terangan. Jika benar Lucciane masih hidup, ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Baru Gwen akan percaya.


“Soal wanitaku …” Luccane buka suara. Aura gelap seketika kerasa mengintimidasi atmosfir di sekitar. Saking kentara nya, Bryc yang masih berada di meja costumer service saja bisa merasakan perubahan atmosfer tersebut. “… dia tidak perlu dipaksa untuk berjumpa. Jika ingin, dia akan keluar sendiri untuk memberikan pelajaran pada manusia yang berniat menyingkirkannya.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 04-03-23