Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 23. Terpencil



“Dimana ini?”


Anak laki-laki berwajah rupawan berkulit sangat putih dengan pejamas hitam itu baru saja membuka mata. Namun, bukan tempat yang disebut “kamar” menjadi pemandangan utama. Melainkan tumpukan salju dimana-mana. Gunung-gunung serta perbukitan juga terlihat berwarna putih, karena tertimbun salju.


“Sebastian? Kau ada di mana? Sebastian!” panggilnya. Menyerukan nama sang tangan kanan. Pria yang lebih tua darinya itu selalu muncul ketika dipanggil, namun kali ini sepertinya itu tidak berlaku.


“Dimana ini?” lirihnya seraya memeluk tubuh sendiri. Ia bukan bukan kedinginan, karena ia sendiri adalah anak yang lahir dari perkawinan antara manusia dan titisan The Goddess. Walaupun begitu, tetap saja ada hawa dingin yang terasa jika memang keadaan disekitar berada pada suhu abnormal. Mengingat darah manusia juga mengalir pada tubuhnya.


Walaupun terlahir dari ayah seorang raja vampir, ia masih terlalu muda untuk dibiarkan solo hiking di tempat seperti ini. Tempat yang tidak ia kenali sama sekali.


“Apa ini Greenland?”


Ia pernah mendengar dari vampir wanita yang bertugas menjadi maid di tempat tinggalnya, jika ada tempat di bumi yang sebenarnya tidak dianjurkan untuk dihuni oleh manusia. Nama tempat tersebut adalah Greenland. Di sana suhu bisa mencapai 0° celcius. Bahkan pada suhu terdingin bisa mencapai -18° celcius.


Dinamai Greenland, namun hampir 80 persen daratan ditutupi oleh salju. Berbanding terbalik dengan Iceland yang notabene diselimuti oleh lahan hijau. Bukan tanpa alasan tempat tersebut dinamai Greenland, karena pada tahun 982 Masehi, Erik The Red, seorang pemimpin bangsa Viking mendarat di pulau tersebut. Saat itu suhu di Greenland masih terbilang hangat, sehingga alam hijau masih bisa terlihat dengan jelas. Berbeda dengan sekarang, sepanjang mata memandang hanya ada tumpukkan salju dimana-mana.


“Sebastian!” panggilan itu kembali di serukan seraya kaki kecilnya mengambil langkah.


Padahal ingat betul sedang berada di atas tempat tidur. Bukan untuk tidur, hanya berbaring. Namun, ia tiba-tiba terbuai untuk menutup mata. Entah apa alasannya. Ketika kembali memutuskan untuk membuka mata, ia sudah ada di sini. Gambaran tempat terselimuti oleh salju yang tebal memang sempat terlintas di kepala. Namun, siapa sangka ia akan berpindah dengan begitu cepat melewati ruang yang membentang begitu panjang.


Kejadian seperti ini bukan baru pertama kali ia alami. Sebelumnya, anak laki-laki berwajah tampan yang masih seusia anak-anak sekolah menengah pertama itu pernah tiba-tiba berpindah ke tempat bernama Bioluminescent Bay atau Biobay di Viewquest, Puerto Rico. Ia tiba-tiba terdampar di sebuah pantai yang tampak menyala-nyala di antara kegelapan. Menghantarkan warna biru pada setiap deburan ombak yang menyapa pada daratan.



Tampak seperti adegan dalam film life of Pi. Terlihat tidak nyata, namun tempat ajaib itu memang ada. Pantai tersebut bisa menyala berkat adanya mikroorganisme yang dapat menyala biru terang saat malam hari. Pantai itu bahkan disebut-sebut sebagai pantai bioluminescent paling terang di dunia.


Selain pantai menyala di Bioluminescent Bay di Viewquest, Puerto Rico, ia juga pernah tiba-tiba berpindah ke Tokyo, Jepang. Bahkan pernah terdampar di pulau Socotra yang berjarak sekitar 80 km dari negara Somalia dan masuk dalam wilayah negara Yaman yang berada di jazirah Arab atau memiliki jarak sekitar 380 km. Kepulauan Socotra sangat terisolasi sehingga sepertiga dari organisme pulau tidak dapat ditemui di tempat lain selain di pulau itu.



Untung saja sejauh ini perpindahannya selalu berakhir pada tempat yang sepi, bukan tempat umum atau tempat-tempat yang selalu dipadati oleh manusia. Namun, tak dapat dipungkiri jika ia memang belum terbiasa dengan kemampuannya.


“My Lord.”


Entah pada hitungan sekon ke berapa, akhirnya anak laki-laki bernama Luccane itu mendengar suara sang tangan kanan. Ia sudah cukup lelah menunggu. Lama-kelamaan jenuh juga berkeliaran di tempat yang sepenuhnya tertutup salju. Tidak ada mahluk hiudp lain yang ia temukan di sana, kecuali beberapa hewan buas seperti rubah kutub.


“Kenapa lama sekali!”


Pria yang datang menggunakan setelah khas itu tersenyum simpul. Sebelum menjawab pertanyaan Lord mudanya, ia lebih dulu memasangkan mantel bermaterial cukup tebal pada bahu lawan bicaranya.


“Kali ini agak sulit melacak keberadaan Anda, My Lord.”


“Jadi ini salahku?” sahut sang Lord, dingin. Bahkan mampu mengalahkan dinginnya suhu di sekitar.


Pria yang bernama Sebastian itu menggeleng. “Ini murni karena Anda belum bisa mengendalikan kekuatan. Jika Anda sudah bisa mengendalikannya, Anda bisa pergi kemanapun sesuai yang Anda inginkan.”


“Jika dengan belajar mengendalikan kekuatan ini bisa membuatku pergi kemana pun, ada satu tempat yang ingin aku kunjungi, Sebastian.”


“Di mana kah itu, My Lord?” tanya Sebastian seraya membersihkan butiran salju yang mengotori pucuk kepala sang Lord.


Untuk sejenak Sebastian tertegun akan keinginan sang Lord yang ingin mengunjungi world of the dawn, underworld atau dunia bawah. Tempat orang-orang yang sudah meninggalkan dunia.


“Untuk apa Anda pergi ke World of the dawn?”


“Untuk menemui ibuku,” sahut sang Lord tanpa ragu. “Aku hanya ingin menyampaikan bahwa setelah ibu pergi, ayahku juga pergi dari dunia ini.”


“My Lord …”


“Aku ingin ibuku tahu jika orang-orang yang dia pikir baik, ternyata berhati busuk.”


Sebastian mengangguk paham. Setelah memastikan sang Lord siap untuk kembali ke Luccane The Palace, ia menyempatkan diri untuk berlutut. “Listen, My Lord.”


Luccane menatap Sebastian dengan iris abu-abu kebiruannya yang diselimuti oleh kegelapan. Alasan kenapa aura di sekitar anak itu gelap semenjak beberapa waktu ke belakang.


“Jadilah kuat, My Lord. Anda harus bisa mengendalikan kekuatan Anda, sehingga Anda bisa pergi kemana pun Anda suka.” Tepukan ringan Sebastian berikan pada bahu sang Lord. “Namun, sampai kapan pun Anda tidak akan bisa pergi ke underworld. Sekalipun jika Anda bisa, saya akan menghalangi keinginan Anda. Karena di sana bukan lah tempat bagi mahluk yang masih terikat dengan dunia.”


Butuh waktu lama bagi Luccane untuk memahami ucapan Sebastian. Sampai berusia dewasa, dan telah berhasil mengendalikan kemampuannya untuk berpindah tempat, ia baru perlahan-lahan mengerti. Sama seperti kemampuan teleportasi yang ia miliki. Kemampuan itu harus terus dilatih bertahun-tahun lamanya, baru bisa dikendalikan dengan baik. Sampai titik dimana ia bisa pergi ke berbagai tempat di bumi dalam sekejap. Ia tetap tidak bisa mengunjungi world of the dawn atau underworld.


“Kenapa tiba-tiba membawaku kesini?”


Lucciane kembali mendapatkan kesadaran pasca terpukau oleh keelokan pemandangan di sekitarnya. Tempat ini begitu menakjubkan.


“Kau butuh tempat ini untuk sementara waktu,” balas Luccane. “Tetaplah disini sampai aku menjemputmu lagi,” pesan Luccane seraya menyentuh kedua sisi wajah Lucciane yang begitu kecil dalam rangkuman tangannya. “Ada urusan yang harus aku selesaikan.”


Lucciane menggelengkan kepala dengan segera. “Jangan tinggalkan aku,” lirihnya seraya memegang kemeja bagian pinggang sang Lord. Ia sadar akan segera ditinggalkan di tempat terpencil tersebut.


“Aku tidak pernah berniat untuk meninggalkanmu, little lady.” Satu kecupan singkat Luccane berikan. Ketika menarik wajahnya kembali, iris abu-abu kebiruan itu tampak menunjukkan kilat berbeda. “Tunggulah aku,” ujarnya sebelum melakukan hal yang sama saat ia melakukan teleportasi untuk pertama kali pada Lucciane—menutup mata gadis cantik itu dengan telapak tangannya.


Membiarkan pandangan sang gadis tertutup oleh kegelapan.


“Tidak. Jangan tinggalkan aku!” ronta Lucciane. Meminta dengan sangat. Namun, ucapannya kalah cepat dengan Luccane yang sudah kembali melakukan teleportasi.


Pria rupawan pemilik iris abu-abu kebiruan itu menghilang tanpa jejak saat Lucciane bisa kembali membuka matanya.


“Jangan tinggalkan aku …” lirih Lucciane dengan tubuh yang merosot ke tanah.


Ia benar-benar ditinggalkan di tempat terpencil yang begitu indah dan juga terkesan… mistis. Tempat dengan semilir angin sejuk yang mendamaikan jiwa dan raga, seolah-olah angin itu dikirimkan langsung oleh anemoi—para dewa angin—yang terdiri dari Boreas (angin utara musim dingin), Notos (angin selatan akhir musim panas), Zefiros (angin barat musim semi), dan Euros (angin timur musim gugur).


"Kembalilah atau aku akan membenci kamu untuk selamanya ... Luccane."


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 05-02-23