
Sensasi familiar yang berasal dari area leher berhasil membuat Lucciane merasa tidak nyaman dalam tidurnya. Ada sesuatu yang menyesap area tersebut. Sesekali bergantian dengan sisi yang lain. Terasa dingin dengan tekstur yang lebut dan kenyal. Sesekali ia merasakan tubuhnya merinding, karena diterpa udara pada area sensitif yang terletak di sana.
Seiring dengan berjalannya waktu, bukan saja sesapan yang ia rasakan, namun juga gigitan-gigitan kecil. Seolah-olah gemas pada area pada permukaan kulit lehernya, gigitan itu kentara sekali tidak dibarengi dengan keinginan untuk melukai. Namun, tetap saja menimbulkan gelenyar aneh yang … menganggu.
Lama-kelamaan, bukannya berhenti, benda dingin dengan tekstur lembut dan kenyal itu malah semakin menjadi-jadi. Mau tidak mau, Lucciane yang masih berada di alam bawah sadar memutuskan untuk meraih kesadaran secara penuh dengan cara membuka mata. Perlahan namun pasti, kelopak matanya yang ditumbuhi bulu mata lentik mulai terbuka. Meloloskan iris biru yang jernih, siap mencari tahu apa yang sebenarnya menganggu tidurnya. Ketika berhasil menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata, hal pertama yang ia lihat adalah sekumpulan rambut hitam nan lebat yang menutupi akses untuk melihat bagian tubuhnya sendiri.
“Finally, you wake up, little mate.”
Sekumpulan rambut hitam nan lebat itu bersuara. Lebih tepatnya sang pemilik sekumpulan rambut hitam nan lebat yang menutupi akses untuk melihat bagian tubuhnya sendiri. Tak lama, sekumpulan rambut hitam nan lebat itu terangkat dan menunjukkan wajah Adonis yang sedang menyunggingkan senyum setipis kertas dari atas tubuhnya.
“Luccane …” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur. “… kamu sedang apa di sini?”
Pemilik wajah Adonis itu tidak segera menyingkir dari atas tubuhnya. Alih-alih menjawab, ia malah melontarkan kalimat lain. “Kau sangat terlambat.”
“Apa?” Lucciane yang kebingungan, kontan memberikan respon demikian.
“Aku menunggu.”
“Kamu menunggu?” salah satu alis Lucciane terangkat. “Apa yang kamu tunggu?” lanjutnya, masih dengan kebingungan yang sama.
“Kau,” jawab Luccane. Singkat, padat, dan jelas. “Kau mungkin tidak bangun jika aku tidak meninggalkan banyak mark.”
“Apa?!”
Lucciane kontan menyentuh lehernya sendiri dengan kedua tangan. Mendengar kata ‘mark’ ia langsung waspada. Jangan-jangan apa yang tadi ia rasakan saat berada di alam bawah sadar adalah efek dari … bibir Luccane yang sedang membuat mark? Benar-benar!
“Kamu … baru saja membuat mark?”
Seolah tidak terima dengan raut wajah sang belahan jiwa yang … tidak suka diberi mark, Luccane menautkan keningnya dalam. Apakah belahan jiwanya itu tidak tahu selama ia terlelap, Luccane sudah seperti remaja labil yang baru dimabuk asmara. Apalagi godaan aroma harum yang semakin tercium dari darah suci milik belahan jiwanya yang tidak bisa ditolak.
Sejauh ini ia masih sanggup menahan diri dengan hanya bergabung dan memeluk belahan jiwanya sepanjang waktu. Sesekali menghirup aromanya rakus seraya meninggalkan mark, baru lama-kelamaan meninggalkan gigitan-gigitan kecil. Itu pun menggunakan gigi, bukan taring.
Luccane masih memiliki kewarasan dengan tidak memonopoli sang belahan jiwa. Toh, ia saja bisa menunggu dengan sabar selama ratusan tahun. Mustahil ia tidak bisa bersabar hanya dalam beberapa jam.
“Bisa kah kamu pergi dulu dari atas tubuhku?” lirih Lucciane kemudian. “Posisi ini agak … tidak wajar,” lanjutnya dengan wajah kikuk.
Luccane berdeham kecil seraya menatap Lucciane kian intens. “Siapa kau berani memberikan perintah padaku?”
Sadar akan kesalahannya, Lucciane langsung merutuki dirinya sendiri. “Ah, maaf. Aku benar-benar lupa jika kamu adalah seorang raja. Tidak seharusnya aku memberikan perintah. Apalagi …” kalimat Lucciane terpotong kala Luccane semakin mendekatkan wajah. “K-amu mau apa?”
“Kau.”
“Eh?”
“I want you, little mate.” Luccane berkata dengan iris abu-abu kebiruannya yang menyelami milik Lucciane. Ia tidak bohong soal keinginan untuk memiliki Lucciane.
“A-ku …”
“I waiting,” potong Luccane. “Aku menunggu kamu siap menyerahkan diri secara sukarela,” tambah Luccane dengan ibu jari yang menyentuh bibir belahan jiwanya. Tidak ada paksaan di dalam kalimatnya.
Setelah berkata demikian, Luccane menarik jarak. Menjauhkan tubuh dari Lucciane, bahkan beranjak pergi dari tempat tidur. Pria rupawan dengan pakaian serba hitam, mulai dari celana kain sampai kemeja itu berjalan santai menuju meja yang diletakkan tidak jauh dari tempat tidur. Lucciane kemudian menggunakan kesempatan tersebut untuk beranjak. Mengambil posisi duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
Ketika melirik melirik tubuhnya sendiri, ternyata gaun yang terakhir ia gunakan telah berganti dengan vintage night dress warna putih dengan aksen lace berbahan sangat lembut dan nyaman ketika digunakan. Walaupun demikian, Lucciane agak terganggu dengan bagian kerah model V yang lagi-lagi memiliki potongan dada lumayan rendah. Sedangkan sejak tadi Luccane … ah, raja vampir satu itu memang perlu diperingati ulang soal sopan santun.
Yang dibicarakan baru saja kembali mendekat. Datang bersama sebuah nampan yang berisi satu gelas berukuran sedang serta satu piring full English breakfast. Tidak lupa ada potongan buah segar juga yang disimpan di terpisah.
Lucciane terlebih dahulu menerima gelas berisi air untuk menyegarkan tenggorokan. Baru menerima nampan yang dibawa oleh Luccane.
“Habiskan. Kau butuh itu untuk mengisi energi.”
Lucciane mengangguk dalam diam. Full English breakfast adalah salah satu jenis menu breakfast yang sangat populer di kalangan masyarakat Inggris. Dulu full English breakfast yang terdiri dari sosis, telur mata sapi, bacon, baked beans, black pudding, kentang, tomat goreng, serta jamur tumis itu dianggap makanan mewah dan ekslusif.
Namun seiring berjalannya waktu, anggapan ini tidak dihiraukan semenjak menu ini menjadi salah saru menu wajib untuk sarapan masyarakat Inggris. Menu sarapan satu ini juga selain mengenyangkan, sarapan lengkap ini dapat meningkatkan metabolisme kerena jenis makanan yang tersaji dipanggang, bukan digoreng.
“Kamu tidak makan?”
Luccane yang mengambil posisi duduk di bibir tempat tidur menjawab, “tidak.” ia kemudian tersenyum miring. “Aku masih kenyang berkat darah suci mu.”
Lucciane tidak bertanya lagi. Ia memilih untuk mulai menikmati full English breakfast yang pasti buatan Marry. Rasa masakannya sudah pasti tidak mengecewakan. Bohong jika Lucciane tidak kelaparan. Banyak hal yang membuat isi kepalanya penuh, sampai-sampai ia mengesampingkan lambungnya yang kosong. Bagaimana pun juga ia tetap manusi biasa. Membutuhkan makan dan minum sebagai salah satu bahan pokok sebagai sumber energi.
“Lihatlah, betapa cantiknya.”
Jemari Luccane tiba-tiba kembali terangkat, hendak menyentuh leher Lucciane. Namun, si empunya terlebih dahulu menghindar dengan cara menarik diri.
“Kamu … apa-apaan?”
“Mark is mine.” Alih-alih menjawab pertanyaan Lucciane, Luccane malah mengeluarkan kalimat deklaratif. Supaya belahan jiwanya tahu jika mark itu miliknya. Darinya. Untuk kepentingannya.
“Y-a, itu milik kamu,” ucap Lucciane menyetujui.
“Karena kau memang milikku,” timpal Luccane.
“Tapi aku bukan barang,” balas Lucciane.
Luccane tersenyum sangat tipis saat membawa jemarinya ke bawah dagu sang belahan jiwa. Kemudian membawa wajah mungil pemilik iri biru itu untuk menatap ke arahnya. “Siapa yang berani mengatakan jika kau adalah barang?”
“…”
“Kau adalah pasangan raja vampir,” tambah Luccane dengan pandangan hanya tertuju pada Lucciane. Menegaskan bahwa tidak akan ada seorang pun yang berani semena-mena pada belahan jiwanya. “Yaitu aku.”
Lucciane tersentuh dengan kalimat tersebut. Munafik jika ia mengatakan tidak. Sedikit banyak sudah ada perkembangan pada hubungan mereka. Luccane juga menjadi lebih ekspresif dan tentu saja jadi lebih banyak bicara. Walaupun masih terkesan suka seenaknya dan otoriter. Namun, sepersekian detik berikutnya, Lucciane seolah-olah baru menyadari sesuatu saat mulutnya tengah mengunyah baked beans.
Sejak kapan Luccane berhenti bertarung? Bukan kah ia terlibat pertarungan dengan Lynn dan Lord vampir lain saat Lucciane hampir kehilangan kesadaran? Lalu, sekarang bagaimana kondisi para Lord vampir? Apa hasil akhir dari pertarungan tersebut?
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 🤲
Semoga suka 😘
Tanggerang 20-02-23