Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 24. Pertarungan



“Kita semakin sulit terhubung dengan Lush.” Luke yang sedang bersandar pada batang pohon berkata seraya menatap langit malam. “Lalu bagaimana selanjutnya?”


“Kita bergerak,” jawab Lynn.


Pria rupawan itu sejak tadi tengah menunggu waktu yang tepat. Sebelum memasuki kawasan Luccane The Palace, bukan kah mereka harus punya planning yang mantang? of course, yes. Oleh karena itu, mereka menunggu dengan sabar. Mereka juga sempat memantau Luccane The Palace lewat sebuah benda mistis yang bisa terhubung dengan Lush yang ada di dalam sana.


“Bagaimana cara kita masuk?” tanya Leon.


“Menyelinap seperti bayangan,” sahut Lynn. “Kita datang sebagai tamu tak diundang. Mana mungkin mereka akan menyambut dengan ramah.”


“Benar juga apa kata Kakak,” timpal Lomon. “Apalagi ini adalah Luccane The Palace. Istana tak kasat mata yang sempat menghilang keberadaannya,” tambahnya.


Sudah bukan rahasia para ras vampir jika Luccane The Palace dijuluki sebagai istana tak kasat mata atau istana yang sempat hilang. Mengingat raja vampir yang sebelumnya pernah melakukan hal luar biasa, yaitu menghilangkan Luccane The Palace dari penglihatan manusia biasa, bahkan dari sebagian besar ras Vampir dan ras lain.


“Aku juga bisa menghilang.” Leon tiba-tiba menyahut. Ia memang punya kemampuan yang mumpuni dalam berkamuflase. Leon juga bisa ‘menghilang’ pada beberapa kesempatan. Padahal kemampuan sebenarnya bukan lah menghilang, melainkan ‘gesit’ dalam mengatur kecepatan.


Keunikan lainnya, Leon bisa menggunakan bayangan untuk menjadi duplikat dari dirinya sendiri. Kemampuan ini ia dapatkan setelah melakukan latihan yang begitu panjang dan melelahkan.


Lynn tiba-tiba bergerak. “Kita akan masuk lewat jalan belakang.”


“Jalan kebun apel?” tebak Luke.


“Bukan,” jawab Lynn yang sudah bersiap. “Jalan itu sudah pasti dijaga oleh mereka.”


“Lalu jalan mana?”


“Jalan belakang bagian barat daya. Di sana perisainya mulai melemah karena sempat diserang oleh Proscris vampire.”


“Proscris vampire?” ulang Luke, Lomon dan Leon secara bersamaan. Tampak kaget dengan informasi yang baru disampaikan Lynn.


Istilah Proscris vampire bukan sesuatu yang awam di telinga mereka. Mengingat sebagai Lord Vampir, mereka juga pernah mengemban tugas sebagai pemburu Proscris vampire. Lebih tepatnya pemimpin Proscris vampire.


Proscris Vampire atau vampire buangan (Proscris dalam bahasa Rumania artinya buangan) adalah hasil eksperimen dari manusia yang menjadi vampire, kemudian menggigit manusia lain untuk dijadikan sebagai pengikut. Vampir jenis ini biasanya bersifat lemah terhadap sinar matahari, agresif, serta tidak punya akal yang rasional. Oleh karena itu mereka tidak punya untuk mengendalikan keinginan untuk menghisap darah. Berbeda dengan Raja vampir, Lord vampir, Elder vampir dan dhampir.


“Proscris vampire telah muncul kembali,” ucap Lynn seraya menutup wajahnya dengan tudung jubah yang ia gunakan. “Tugas kita bertambah setelah menyelamatkan Lucciane. Kita juga harus kembali menjadi pemburu Proscris vampire.”


Luke, Lomon dan Leon mengangguk paham. Tugas yang meraka emban sebagai Lord vampir memang tidak pernah main-main.


Stelah diskusi singkat tersebut, mereka berempat pun langsung bergerak untuk menuju lokasi yang menjadi celah paling lemah. Mengingat Luccane The Palace dilindungi oleh perisai magis yang dibuat sang pemilik. Namun, karena sempat diserang oleh Proscris vampire, pada salah satu titik terdapat celah bagi para Lord vampir untuk menyelinap masuk.


Sebagai ras vampir murni yang tersisa di dunia ini, mereka tentu telah dibekali dengan cara untuk bertahan hidup dengan baik. Jadi, tidak perlu ragukan kemampuan mereka. Lynn, Luke, Lomon dan Leon, keempatnya punya skill mumpuni yang masing-masing bisa digunakan untuk saling melindungi.


Setelah berhasil menyelinap masuk, ternyata meraka tidak menemukan kendala apapun ketika menuju bangunan utama Luccane The Palace. Rasanya begitu janggal.


“Tetap siaga,” komando Lynn.


“Ternyata ini lebih mudah dari dugaan,” ucap Lomon ketika mereka berhasil tiba di depan pintu utama bangunan Luccane The Palace. Tidak ada satu pun halangan atau rintangan yang menghadang. Bahkan dua penjaga gerbang juga tidak berada di posisinya.


“Tetap waspada,” ucap Lynn. “Ada yang datang,” lanjutnya.


“Mundur!” seru Luke. Ia memang paling peka terhadap insting. Bola mata kanan Luke yang kuning tembaga yang tampak berwarna kian pekat.


Serempak, mereka berempat mundur dari depan pintu yang tiba-tiba terbuka dari dalam. Menampilkan wajah butler Luccane The Palace yang tidak memasang ekspresi apapun.


“Akhirnya kalian berhasil mencapai pintu masuk.”


Bukan lagi ucapan selamat yang Sebastian ucapkan ketika menyambut tamu, kali ini basa-basi yang terdengar sangat tidak bersahabat.


“Tidak ada ucapan selamat datang bagi para penyusup. Jadi, terima saja kemurahan hati saya selaku butler Luccane The Palace.”


Setelah berkata demikian, Sebastian tidak lagi berada dalam posisi tenang seperti biasanya. Ia melancarkan serangan guna menjemput sambutan. One by four. Sebastian langsung menyerang mereka secara bergantian tanpa pandang bulu.


Vampir yang sudah hidup selama 1.500 tahun itu tampak menikmati pertarungan solo nya setelah sekian lama. Ketika menemukan kelemahan pada salah satu lawan, ia langsung melancarkan serangan dengan gesit. Sehingga Leon—targetnya terpental jauh dan menghantam sebuah pilar. Menimbulkan bunyi gaduh yang cukup menganggu. Bungsu Lord vampir itu sepertinya lengah.


“Kena kau, anak muda,” kata Sebastian yang sudah kembali pada posisi formalnya, yaitu berdiri dengan sikap siap.


“Kena apanya?” itu suara Leon. Lynn serta yang lain mengenalinya. Namun, suara itu bukan berasal dari Leon yang baru saja menghantam sebuah pilar. “Anda terlalu cepat merasa bangga, Pak Tua.”


Leon yang gesit dalam mengatur kecepatan ternyata berhasil mengecoh Sebastian. Leon yang tadi terpental bukanlah wujud aslinya, melainkan bayangan.


“Barusan cuma pemanasan. Sekarang kita masuk ke inti permainan,” ucap Lomon dengan kekehan kelewat santai.


“Kau boleh juga,” respon Sebastian, datar.


Namun, sebelum mereka sempat kembali bertarung, suara dentuman keras tiba-tiba terdengar. Mereka tentu saja kompak menoleh ke sumber datangnya suara tersebut. Ternyata Lynn pelakunya.


“Lucciane harus diberi komando jika para pelindungnya sudah datang.” Lynn berkata seraya memasang kuda-kuda. Siap kembali melawan Sebastian yang menjadi benteng pertahanan pertama Luccane The Palace.


Sebastian sendiri masih dalam posisi siap. Walaupun terlihat tidak terlalu berniat untuk memulai pertarungan, posisi kaki vampir satu itu dalam kondisi terbuka dengan titik tumpu mengarah ke depan—kepada para Lord vampir. Bahunya tampak rileks untuk ukuran vampir yang siap menyerang. Namun, dalam posisi itu justru ia bisa cepat bergerak. Posisi Sebastian mirip seperti kuda-kuda kickboxing dalam diam … bisa menyerang kapan saja dengan mendadak.


Pengalaman hidup memang guru terbaik. Setidaknya itu yang bisa dilihat dari Sebastian. Selama 1.500 tahun hidup, ia pasti sudah mengalami banyak sekali pertarungan dengan berbagai jenis ras yang punya teknik dan cara tersendiri saat bertarung. Maka tak heran jika Sebastian menjadi garda terdepan bagi Luccane The Palace.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 05-02-23