
TRV 87. Kemarahan Raja Vampir
“Apa saja yang kau lakukan, Sebastian?”
“Saya melakukan perintah Anda untuk mengawal para Lord vampir,” jawab pria dengan visual matang khas Eropa serta Asia yang terdampar di daratan Victoria, tanpa dusta. Ia tahu jika sang tuan tengah menahan emosi semenjak mendengar informasi yang baru saja ia sampaikan.
Namun, Sebastian tidak berniat untuk menyembunyikan apa-apa. Toh, semua telah terjadi. Ia mungkin “hampir” terlambat melindungi titisan The Goddess. Akan tetapi, sekarang semua sudah baik-baik saja.
“Lalu kenapa belahan jiwa ku bisa keluar begitu saja dari bangunan utama?”
“Melebihi saya, Anda tahu lebih banyak soal beautiful lady.” Sebastian membalas dengan anggukan kecil. Jangankan Luccane, emosinya saja sempat ter-distract ketika mengetahui kecerobohan titisan The Goddess. Namun, mau bagaimana lagi. Lucciane hanya gadis muda yang masih “naif” jika menyangkut masalah keluarga. Semoga saja untuk kedepannya gadis cantik pemilik surai merah keemasan itu tidak lagi ceroboh ketika bertindak. Mengingat nyawanya benar-benar menjadi incaran di luar sana.
“Sekarang dimana dia?”
“Sedang beristirahat, my Lord. Beautiful lady mengalami shock setelah melihat mahluk yang mengambil wujud saudari tirinya meledak di depan mata.”
Luccane menghela napas kasar seraya melepaskan dasi yang terasa mencekik leher. “Lalu apa yang kalian dapatkan ketika menyelidiki lubang raksasa di wilayah barat?”
“Tidak ada bukti yang cukup menyakinkan,” jawab Sebastian seraya menjentikkan jari, membuat sebuah gelembung berukuran sedang tiba-tiba muncul. Darah Wizard yang mengalir di tubuhnya memang bisa ia gunakan dengan baik. Dari gelembung tersebut ia bisa menggambar kondisi di dalam lubang raksasa yang ada di wilayah Barat. “Walaupun tidak ditemukan bukti apapun, sepertinya ada sesuatu di balik air terjun.”
“Air terjun?” Luccane yang sudah mengambil langkah kembali angkat bicara.
“Ada air terjun yang cukup besar di dasar lubang raksasa itu, my Lord. Kami tidak sempat memeriksa lebih lanjut, karena saya merasakan kehadiran tamu tak diundang di Luccane The Palace.”
Langkah Luccane berhenti tepat di depan ruangan yang digunakan oleh belahan jiwanya. Secara otomatis, Sebastian juga menghentikan langkahnya.
“Cari tahu apa yang sebenarnya dicurigai oleh para Lord vampir,” titah Luccane kemudian. “Aku juga akan memberi para Regent hukuman, karena mereka tidak becus menjaga wilayah hutan kegelapan.”
Sebastian hanya bisa mengangguk jika sang Lord sudah menurunkan titah. Toh, ia tidak bisa apa-apa jika sudah dihadapkan dengan kemarahan Raja Vampir.
“Kumpulkan mereka di ruang arsip. Malam ini dari lima Regent, salah satunya akan berubah menjadi abu.”
Sebastian sudah terlampau biasa akan kebiasaan para pria bermarga de Khayat. Mereka tak akan segan-segan menghilangkan sebuah jiwa dari raganya secara paksa, jika memang itu dianggap sebagai balasan yang setimpal. Sudah dari zaman dahulu, para pria bermarga de Khayat yang digariskan menjadi pemimpin punya watak keras dan kejam. Mereka tak segan merenggut kehidupan dari mahluk yang berani mengusik belahan jiwa serta keluarga kecilnya.
“Baik, my Lord.”
Sepeninggalan Sebastian, Luccane bergegas masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh sang belahan jiwa. Tanpa langkah yang menimbulkan kebisingan, ia berhasil mencapai tempat di mana sang belahan jiwa tengah duduk membelakangi pintu.
“Harus kah aku menghisap darah mu lebih banyak supaya kau tidak punya cukup tenaga untuk membuat masalah?” bisiknya kemudian.
“Puas membuat semua orang kerepotan karena ulah mu?”
“Aku … tidak bermaksud begitu.” Lucciane menunduk dalam seraya mengeratkan pelukannya pada Lucy. “Aku tahu aku salah,” lanjutnya. “Tindakan impulsif itu didasari oleh rasa penasaran yang tidak bisa aku tekan.”
Rasanya ingin menangis dan meraung, ketika ia menyadari jika hari ini ia telah banyak merepotkan. Rasa sakit di perut yang semakin menjadi-jadi, serta rasa bersalah yang merajai hati, membuat perasaannya benar-benar campur aduk.
“Little mate,” panggil Luccane dengan suara rendah. “Who told you to shed tears (siapa yang menyuruhmu menitihkan air mata)?”
“T-idak ada,” jawab Lucciane dengan suara parau. “Aku hanya merasa … bodoh karena terus merepotkan semua orang.”
“Kau memang merepotkan,” sahut Luccane.
Bukannya mereda, tangis Lucciane masih semakin menjadi. Gadis cantik tersedu-sedu dengan Lucy yang setia menemani di dalam pangkuan. Luccane yang melihatnya hanya bisa menghela napas, sebelum mengulurkan tangan guna meraih tubuh mungil belahan jiwanya.
“Lain kali jangan bertindak gegabah,” katanya ketika belahan jiwanya sudah masuk ke dalam pelukan. “Tak apa jika kau merepotkan orang-orang ku. Lagipula mereka aku kerjakan untuk melayani diri mu, sampai tiba waktunya kau … memiliki kekuatan untuk menjaga diri mu sendiri.”
“Aku benar-benar beban untuk kalian.”
“Tidak,” sanggah Luccane. “Kau bukan beban, melainkan berkat dari Tuhan.” Luccane mengeratkan rengkuhan, agar tidak ada lagi jarak di antara mereka, kecuali si mahluk berbulu fluffy yang sudah ingin ia singkirkan. Sayangnya, sang belahan jiwa sangat mengasihani siluman tersebut.
“Berhenti lah menangis, selagi aku masih berbaik hati,” titah Luccane kemudian. “Aku bahkan belum memberimu hukuman.”
Lucciane langsung membentangkan jarak ketika mendengar perkataan Luccane. “Kamu … mau memberiku hukuman?”
“Tentu saja.” Luccane menjawab dengan tangan yang bergerak mengelus sisa air mata yang membasahi wajah cantik belahan jiwanya. “Aku akan menghukum mu sampai lemas.”
🦋🦋🦋
TBC
Semoga suka 😘
Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗
Tanggerang 31-03-23