Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 72. Back to Bristol


TRV 72. Back to Bristol


“Don’t judge a book by its cover.”


Sama hal nya dengan Sebastian, salah seorang dokter dari Selatan juga mengutip peribahasa yang sama ketika menerangkan soal bunga anconitum.


“Bunga ini dianggap sebagai lambang dari kebencian, dendam, sampai peringatan untuk berhati-hati."


"Pada sekitar abad pertengahan, bunga anconitum digunakan sebagai racun untuk membunuh rubah. Maka tidak heran jika banyak julukan yang disematkan pada bunga yang mirip buttercup ini, di antaranya queen of poisons, monkshood, wolf’s bane, leopard’s bane, devil’s helmet atau blue rocket, conite, sampai women’s bane.”


Dengan telaten dokter berkacamata itu menjelaskan seraya melilitkan perban pada lengan kiri Luke. Sesekali ia tersenyum tipis, kala melihat lawan bicaranya. “Anconitum napellus adalah tanaman liar yang hidup di daerah bergunung-gunung di belahan bumi bagian utara. Dan mengandung sejumlah besar racun mematikan bernama alkaloid pseudaconitine. Walaupun begitu, bunga cantik ini sudah diandalkan sebagai tanaman herbal dalam pengobatan tradisional Cina sejak lama.”


“Cina?” bingung si bungsu yang memang paling tidak bisa menahan rasa ingin tahu.


“Sebuah wilayah di daratan bernama Asia,” tutur si dokter. “Dalam pengobatan tradisional Cina, bunga anconitum digunakan untuk mengatasi peradangan, meringankan gejala kedinginan yang ekstrim, sampai gangguan pencernaan. Namun, dengan catatan penggunaan bunga ini tidak sembarangan dan harus di bawah pengawasan para ahli pengobatan tradisional Cina.”


Selesai di perban dengan kasa steril, sang dokter menepuk bahu kanan Luke dua kali. “Kau adalah ras vampir murni yang istimewa. Jiwa serigala di dalam tubuh mu tidak akan terpengaruh hanya karena kandungan alkaloid dalam wolf’s bane.”


Walaupun bisa digunakan sebagai obat, bunga anconitum juga tetap membahayakan. Sebelum menjadi obat, bunga itu terlebih dahulu harus diproses menggunakan metode detoksifikasi yang rumit agar membuat kandungan alkaloid yang merupakan senyawa penurun rasa sakit bisa digunakan dengan aman. Zat alkaloid yang terkandung dalam bunga anconitum sendiri bekerja dengan cara memengaruhi sistem saraf kardiovaskular dan saraf pusat, sehingga merangsang rasa nyeri hilang.


“I’am done.”


Selesai sudah tugas sang dokter. Sekarang luka di lengan Luke sudah dibersihkan dan ditutup oleh kain perban. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena memang racun berbahaya itu tidak terlalu berefek pada ras mereka. Toh, selama ada persedian darah segar, ras mereka bisa dengan mudah mengembalikan stamina dalam tubuh.


“Terima kasih, dokter. Anda telah menolong saudara kami,” ucap Lynn mewakili. Sejak tadi Lynn, Lomon, serta Leon menemani Luke mendapatkan penanganan pertama.


“Seharusnya aku yang berterima kasih sekaligus meminta maaf,” ujar si dokter. “Kalian datang ke sini dan langsung diturunkan ke lapangan oleh pemimpin Hunter. Padahal kondisi kalian terlihat belum pulih seratus persen pasca mengalami pertarungan hebat.”


Lynn tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Mereka memang datang ke Selatan untuk ini. Menjadi bagian vampir hunter dan mengabdi pada Uskup agung. Namun, siapa yang menyangka jika aka nada insiden “naas” kesekian.


“Apa boleh aku tahu siapa yang baru saja kalian lawan?”


Lynn, Luke, Lomon, serta Leon kompak terdiam. Dokter itu kemudian menganggap jika mereka enggan membahas lawan duel maut mereka. Bagaimana pun juga mereka dalah ras vampir terakhir yang pasti punya ego. Lalu ia malah dengan sengaja menyentil ego mereka yang … baru saja mengalami kekalahan.


“Omong-omong, kalian adalah Lord vampir terakhir, dan masih …”


“Masih apa?” tanya Leon penasaran.


Lomon juga sebenarnya penasaran, namun ia urung bertanya. Sedangkan Luke memilih untuk diam dan sabar menunggu jawaban.


“… masih perjaka,” lanjut dokter tersebut seraya membenarkan letak frame kacamatanya.


Lynn terpaku. Luke berdeham kecil, lalu mencari-cari air di atas nakas. Lomon batuk cool, sedangkan Leon sudah terbatuk-batuk dengan brutal.


Dokter yang merupakan salah satu kenalan dekat Uskup agung di Selatan itu tersenyum tipis. Ia adalah salah satu vampir yang masih tersisa di bumi. Mantan vampir Hunter yang telah non-aktif.


“Aura vampir yang sudah tidak perjaka, maksud ku sudah melakukan proses blood feeding secara sempurna itu berbeda,” jawabnya. “Seperti apa yang kita semua ketahui. Proses blood feeding itu melibatkan hubungan fisik dan psikis. Tahapan yang paling pertama dan utama adalah bertukar darah. Baru proses yang melibatkan hubungan fisik dan psikis yang akan membuat mereka saling memiliki satu sama lain secara keseluruhan.”


Lynn, Luke, Lomon, kemudian Leon mendengarkan secara seksama. Mereka memang masih … ekhem, perjaka. Dikarenakan selama ratusan tahun mereka hidup, belum ada satu pun di antara mereka yang menemukan belahan jiwa atau soulmate. Mata tak heran jika mereka belum melakukan proses blood feeding.


“Kembalilah ke Bristol. Tempat kalian bukan di Selatan.”


Dokter itu berkata dengan lugas. Dari nada bicaranya, ia tidak bermaksud untuk mengusir para Lord vampir. Namun, ada maksud terselubung dari kalimatnya barusan.


“Apa maksud Anda bicara demikian? Datang ke Selatan adalah keputusan yang kami ambil. Kenapa Anda dengan mudah menyuruh kami kembali?” Lynn melangkah maju. Menghadapi dokter tersebut.


“Kalian adalah penjaga titisan The Goddess. Simbol Moon Goddess yang ada pada tubuh kalian adalah tanda pengenal sebagai penjaga titisan The Goddess.”


“Tapi, titisan The Goddess tidak membutuhkan kami lagi,” kini giliran Lomon yang melangkah maju. “Ada Raja vampir dan pengikut-pengikutnya yang siap melindungi titisan The Goddess.”


“Tugas tetaplah tugas. Karena pada kenyatannya, kalian adalah para pemuda yang terpilih untuk melindungi titisan The Goddess,” timpal si dokter. “Titisan The Goddess akan membutuhkan perlindungan kalian saat Raja vampir dan pengikutnya dibuat kewalahan oleh serangan Proscris Vampire. Pemimpin mereka—para Proscris Vampire—menargetkan titisan The Goddess.”


“Dari mau kau tahu semua ini?” tanya Leon curiga.


Alih-alih merasa terpojok, dokter berkacamata itu malah tersenyum misterius. “Aku hanya diberkati sedikit kemampuan untuk melihat masa depan,” katanya.


Lynn, Luke, Lomon, serta Leon tentu saja dibuat terkejut plus keheranan.


“Jika Anda memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, kenapa Anda tidak bergegas untuk menanggulangi bencana yang akan terjadi?” Luke ikut buka suara. Sejak tadi ia hanya diam dan menyikapi.


“Itu bukan ranahku,” kata si dokter. “Lagipula aku telah terikat dengan penguasa tanah di Selatan. Aku hanya bisa menyampaikan apa yang aku lihat pada kalian.” Dokter itu sudah selesai mengemasi barang-barang yang ia gunakan, kemudian bergegas beranjak. “Kembali lah ke Bristol. Kehadiran kalian akan dibutuhkan disana.”


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke cerita temen Author yang dijamin seru 🤗



Tanggerang 08-03-23