
“Kapan kamu akan menjawab pertanyaanku?”
Suara itu datang dari gadis cantik yang menggunakan vintage dress warna putih dan peach dengan motif ruffle di bagian bawah rok serta bagian ujung lengan yang panjangnya ¼. Penampilannya dipermanis dengan hiasan pita warna putih berukuran sedang di bagian belakang kepala. Terjepit di antara helai surai merahnya.
“Setelah kau menghabiskan makanan itu.”
Pria rupawan yang sedang memeriksa sesuatu di kertas-kertas yang memenuhi meja kerja terbuat dari kayu itu menjawab tanpa mengangkat pandangan.
“Ini terlalu banyak untuk dimakan seorang diri. Apa kamu mau membantu menghabiskannya?” usul sang gadis.
“Tidak,” tolak pemilik Luccane The Palace itu mentah-mentah. Berhasil membuat lawan bicaranya mengerucutkan bibir sebal.
“Berry galatte ini sangat banyak,” keluhnya dengan suara kecil.
Pai dari Prancis berukuran kecil dan rata dengan topping buah beri itu baru dimakan seperempat, sedangkan Lucciane sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari pertanyannya. Ia tidak sanggup untuk menghabiskan semua Berry galatte tersebut.
“Luccane, tolong lah,” pintanya dengan suara memelas. Berhasil membuat pria rupawan yang sejak tadi hanya fokus pada kertas itu mengangkat pandangan.
“Mendekat lah, little mate.”
Lucciane tersenyum sumringah, lalu segera beranjak. Ujung rok dari gaunnya tampak bergoyang cantik saat ia berjalan mendekat. Aroma harum khas dari darah suci yang sejak tadi menggoda sang pemilik ruangan, kini tercium semakin pekat. Mungkin karena objeknya semakin mendekat.
“Duduk,” perintah Luccane.
Lucciane melirik ke kanan dan kiri. Di depan meja kerja pria itu tidak ada kursi maupun sesuatu yang bisa dijadikan sebagai tempat duduk. Lalu, di mana ia harus mendaratkan tubuh bagian belakangnya untuk duduk?
“Here,” intruksi Luccane. Ketika berhasil menangkap maksud dari intruksi tersebut, Lucciane kontan menggelengkan kepala.
“No!” tolaknya. “Aku bisa berdiri di samping kamu.”
Alih-alih menurut untuk duduk di atas pangkuan Luccane, Lucciane lebih memilih untuk berdiri di samping pria itu. Dihimpit oleh tembok serta meja kerja.
“Why you say no, little mate (kenapa kau bilang tidak)?”
“Karena tindakan itu tidak sopan dilakukan oleh seseorang yang … bukan pasangan,” dalih Lucciane. “Pasangan dalam arti yang sesungguhnya.”
Luccane tertarik mendengar dalih yang dipilih belahan jiwanya itu. Bukan pasangan? Bagaimana bisa belajan jiwanya itu berkata demikian dengan sangat lantang, padahal mereka sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan, jauh sebelum kelahiran itu sendiri datang.
“Kita adalah belahan jiwa, little mate. Kau tahu apa artinya?”
Lucciane yang berdiri dengan tangan memegang piring keramik berisi Berry galatte tampak membeku. Ia tidak bisa melakukan apa-apa saat Luccane menarik pinggangnya dengan sangat mudah untuk mendekat. Pria itu sangaja menempatkan Lucciane di antara kedua kakinya yang dipenuhi otot liat. Menahan pergerakannya.
“Melebihi arti pasangan biasa yang bisa berpisah. Hanya maut yang bisa memisahkan kau dan aku,” lanjut Luccane. Kali ini tangannya bergerak untuk menyimpan piring berisi Berry galatte di atas meja kerjanya.
“A-pa yang mau kamu lakukan?”
“A-kan aku ambilkan,” inisiatif Lucciane. Ia pun dengan segera mengambil satu potong Berry galatte, namun tangannya yang memegang sendok ditahan oleh Luccane.
Luccane memberikan isyarat untuk melepaskan sendok tersebut. “Gunakan tangan mu.”
“A-pa?” kaget Lucciane.
“Aku tidak suka mengulang kalimat yang sama.”
Lucciane menelan ludah susah payah saat mendengar suara berat Luccane yang kembali mengalun. Ia pun mengangguk kecil, kemudian mengambil satu potong kecil Berry galatte dengan tangannya sendiri. “Buka mulut,” ucapnya dengan pandangan tertuju pada wajah Adonis di depannya.
Pemilik wajah Adonis itu tersenyum, kemudian membiarkan sedikit rongga tercipta di antara celah bibirnya yang berwarna merah. Membiarkan jemari lentik belahan jiwanya memasukkan sepotong Berry galatte. Alih-alih hanya Berry galatte yang terhisap masuk ke dalam mulut, ia juga sempat menahan jemari belahan jiwanya. Bahkan sempat membuat si empunya risau dibuatnya.
“Luccane!”
“Hm.” Pemilik nama itu menggeram kecil, namun tak kunjung dilepaskan.
“Lepas,” pinta Lucciane. Jari telunjuknya yang tertahan terasa mendapakan perlakuan yang tidak seharusnya di dalam sana. Menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuhnya. Terutama bagi organ jantung.
Luccane mengambulkan permintaan tersebut. Namun, setelah ia menggigit jari belahan jiwanya.
“Sakit,” protes Lucciane. Tatapan tak suka kemudian ia layangkan. Akan tetapi, itu sama sekali tidak membuat Luccane jera. Ia malah semakin gesit mempersempit jarak di antara mereka.
“Sweet,” katanya. Ia kemudian membawa tubuh gadis mungil bersuari kemerahan itu ke atas pangkuan. Walaupun sempat memberontak, ia kembali mengeluarkan maklumat. “Duduk dan dengarkan baik-baik jawaban dari pertanyaan yang kau ajukan.”
Lucciane pun tidak punya piliha lain, selain menuruti perintah. Toh, ini yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Mendengar jawaban dari pertanyaannya.
“Para penjaga mu itu …” Luccane menggantungkan kalimat saat Lucciane dibuat penasaran setengah mati. Dengan santai Luccane malah bermain-main dengan surai kemerahan milik belahan jiwanya. Bukannya langsung menyelesaikan kalimatnya. “… ada di bagian paling tandus dan berbahaya di Land of dawn.”
“S-edang apa mereka di sana? Bukannya mereka ada di Castil Vamfield?” tanya Lucciane, tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
“Sedang menjemput ajal, sebelum kembali ke Valinóë.”
🦋🦋🦋
TBC
Note :
CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 🤲
Semoga suka 😘
Tanggerang 23-02-23