
“Ini adalah portal sihir,” ucap Eliót. “Cara kerjanya seperti apa yang sudah aku jelaskan. Jika berhasil melakukan tugasmu, aku akan melakukan tugasku, melepaskan energi sihir untuk membuka pintu antara dimensi. Energi sihir yang berpadu dengan kekuatan dari pikiran akan membuat partikel dari materi yang akan dipindahkan melesat sampai ke tempat tujuan dalam sekejap mata. Itu artinya, saat energi sihir berhasil berpadu dengan kekuatan dari pikiran, kamu akan berpindah ke tempat yang kamu bayangkan dalam sekejap.”
Lucciane mengangguk paham. Secara teori, ia sudah mengerti. Sekarang tinggal pemanasan dan langsung praktikkan.
“Ready to try?”
Lucciane menatap Seelie, lalu Eliót secara bergantian. “Yes. I’am ready.”
Ready to try. Siap untuk mencoba, namun bukan untuk mengulang. Lucciane mau ia berhasil dalam satu kali percobaan, karena ia harus segera tiba di Luccane The Palace. Jika terlambat, mungkin saja akan sangat berakibat fatal. Oleh karena itu, Lucciane harus sebisa mungkin membayangkan Luccane The Palace dengan sangat jelas dalam pikirannya.
Jika membayangkan soal Luccane The Palace, hal pertama yang akan terbayang dalam benak Lucciane adalah ciri khas bangunan utama yang bergaya Victoria. Gerbang yang menjulang tinggi dengan ukiran kalimat Luccane The Palace di atasnya, dua penjaga gerbang. Lalu masuk ke dalam, melewati pintu utama, kemudian disambut oleh Sebastian, butler Luccane The Palace. Menginjakkan kaki, masuk ke dalam, pikiran Lucciane dibawa bekelana pada interior bangunan dengan gaya Victoria yang sekilas mirip dengan istana Balmoral Crathie, Aberdeenshire, Skotlandia.
Ruang-ruang yang megah serta lorong-lorong yang dihiasi desain yang rumit dengan bentuk eksterior yang simetris menjadi ciri khas Luccane The Palace. Melewati semua itu, Lucciane selalu berasa dibawa ke abad 19 sampai awal dekade abad ke-20. Masa di mana arsitektur Victorian atau Victoria berjaya.
Di bawa masuk ke salah satu ruang peristirahatan, pandangan siap dimanjakan dengan interior yang tidak kalah megah dan indah. Ruangan dengan lampu chandelier cantik yang tergantung di tengah-tengah langit-langit. Tirai mewah model overlay yang menjadi salah satu ciri khas gaya Victoria, menghiasi setiap jendela. Dengan nuansa biru yang berpadu dengan warna emas serta unsur alami kayu, ruang itu juga dilengkapi dengan tempat tidur gaya kanopi kelambu yang elegan. Walaupun mengusung tema Victoria, ia masih bisa melihat gabungan dari aksitektur Gothic pada beberapa sudut ruangan. Semua itu tercetak jelas dalam ingatan.
Tidak terkecuali para penghuni di dalamnya. Sebastian, selaku butler Luccane The Palace yang punya perawakan pria matang khas Eropa serta Asia yang terdampar di daratan Victoria. La’ti yang baik hati dan ramah untuk ukuran ras berdarah dingin. Marry yang bersahabat, dan tentu saja pemilik Luccane The Palace yang sangat mempesona dengan segala auranya.
Luccane de Khayat.
Pria rupawan dengan visual hampir mendekati sempurna itu menjawab singkat dengan suara beratnya. Iris abu-abu cenderung ke biru itu suka memandang Lucciane tanpa jemu. Jika Sebatian memiliki visual matang khas pria Eropa mix Asia yang terdampar di daratan Victoria, lain lagi dengan visual sang Lord yang khas pria tampan dari daratan Britania Raya dengan sorot mata tajam, kulit yang putih cendrung pucat, serta iris mata abu-abu kebiruan.
Menggambarkan Luccane The Palace bukan lah perkara yang sulit bagi Lucciane. Karena baginya, Luccane The Palace sudag seperti rumah kedua. Setiap sudut ruang yang sudah Lucciane lewati, semua terpatri dengan baik dalam ingatan. Dengan demikian, Lucciane berhasil menghadirkan tempat yang akan dituju dalam pikiran sejelas mungkin. Lalu ada Eliót yang sudah bersiap guna melepaskan energi sihir untuk membuka pintu antara dimensi.
“Kamu pasti bisa, Lucciane,” support Seelie. Ras Fairies itu tampak tersenyum tulus, cantik sekali. Berdiri di samping Eliót yang sedang melakukan tugasnya.
Energi sihir yang berpadu dengan kekuatan dari pikiran akan membuat partikel dari materi yang akan dipindahkan melesat sampai ke tempat tujuan dalam sekejap mata. Namun, sebelum itu portal sihir akan membuka penghubung antara dimensi. Ditandai dengan munculnya kaut yang tercipta di dalam cermin portal sihir. Jika tanda-tanda itu terlihat, berarti penghubung antara dua dimensi berhasil dibuat.
“Berhasil!” seru Seelie.
Lucciane yang sempat larut dalam lamunan, langsung mendapatkan kembali kesadarannya. “Apakah benar-benar berhasil?”
“Belum,” jawab Eliót. Ia menatap Lucciane dengan seksama. “Tetapi hampir berhasil. Portal sihir telah membuka penghubung antara dua dimensi.”
“Setelah masuk ke dalam sana, perjalanan antar dimensi baru akan dimulai. Portal sihir memang tidak bisa langsung menghilangkan objek, seperti keahlian teleportasi yang raja vampir miliki.” Eliót berjalan mendekat ke arah Lucciane. “Penghubung antar dimensi telah terbuka. Setelah kamu masuk ke sana, kamu akan segera tiba di Luccane The Palace.”
Lucciane tentu saja sangat senang mendengarnya. Ia pun tak lupa mengucapkan terima kasih banyak pada Eliót yang telah membantunya. Sebelum pergi, Lucciane juga menghadap Seelie terlebih dahulu. Bagaimana pun juga Seelie sudah banyak membantu dan menghiburnya.
“Terima kasih banyak untuk semuanya.”
“Jangan sungkan,” sahut Seelie. “Itu adalah tugas dari pemimpin yang sangat Seelie hormati.”
Lucciane tersenyum tulus. “Tetap saja, aku merasa sangat terbantu karena kehadiran kamu.”
“Seelie senang bisa membantu.”
Lucciane tersenyum mendengar itu. “Suatu saat nanti, jika keadaan jauh lebih baik, datanglah ke Luccane The Palace bersama Eliót. Akan aku buatkan banyak kudapan.”
“Pasti,” Seelie menjawab dengan mantap. Ia kemudian menggunakan saayapnya untuk mendekat ke arah Lucciane. “Seelie tahu kamu gadis yang baik. Seelie juga percaya jika kamu memang gadis yang sudah ditakdirkan untuk raja vampir.”
Lucciane membalas ucapan itu dengan senyum kecil. Sebelum pergi, ia sempat memeluk Seelie serta menitipkan salam untuk pemimpin Elves serta fairies dan ras lain yang ingin bertemu dengannya. Lucciane berjanji akan datang lagi ke Land of dawn jika Luccane mengizinkan. Pada saat kesempatan itu tiba, Lucciane akan menyapa mereka semua—para ras lain, penghuni Land of dawn yang ingin meminta berkat padanya. Padahal Lucciane sendiri tidak yakin bisa memberi berkat bagi orang lain. Namun, setidaknya ia diberi kesempatan untuk menyapa mereka semua.
Setelah berpamitan, dengan segala tekad serta keyakinan, Lucciane melangkah masuk ke dalam portal sihir yang akan membawanya ke Luccane The Palace dalam sekejap mata. Perjalanan antar dimensi pun dimulai.
🦋🦋🦋
TBC
NOTE : CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 😘
Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇
Tanggerang 14-02-23