Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 54. Milady Iness


“Apa semua ini?” pertanyaan itu dilontarkan begitu saja tanpa aba-aba.


“Karena semenjak kembali lady terlihat banyak melamun, saya berinisiatif untuk menyiapkan semua ini,” ujar La’ti seraya menuntun sang lady menuju sebuah meja kayu yang di atasnya telah tersaji beberapa jenis kudapan manis serta makanan penutup favorit masyarakat Inggris, seperti eton mess—dessert dari campuran selai stoberi, potongan merinque, dan whipped cream yang konon katanya sudah ada sejak tahun 1893 silam. Ada pula Muffin, jaffa cake, welsh cake yang berasal dari daerah Wales, Victoria sponge cake, apple rhuharb crumble, Battenberg cake, sampai Madeira cake yang sering dijadikan menu pelengkap pada acara afternoon tea party.


Hampir semua jenis cake dan makanan penutup yang disajikan adalah jenis yang sangat popular, bukan saja di Inggris, bahkan ada pula yang populer sampai Irlandia. Contohnya Madeira cake. Kue ini adalah jenis bolu lembut yang dibubuhi oleh lemon dan almond.


Kadang-kadang ada kekeliruan yang menganggap Madeira cake berasal dari kepulauan Madeira, karena dinamai sama dengan anggur-anggur Portugis dari kepulauan tersebut yang popular di Inggris pada pertengahan tahun 1800-an. Padahal orang Madeira membuat kue tradisional mereka sendiri yang disebut bolo de mel, kue madu berwarna gelap, bercitarasa pedas yang sangat berbeda dengan Madeira cake. Walaupun begitu, hingga saat ini Madeira cake masih menjadi favorit di Inggris dan Irlandia. Biasanya Madeira cake kerap dinikmati dengan secangkir teh hangat atau minuman beralkohol.


“Kamu menyiapkan semua ini seorang diri?”


La’ti menggelengkan kepala saat ia menarik kursi untuk diduduki oleh dirinya sendiri. “Tentu saja saya dibantu oleh Marry.”


Lucciane manggut-manggut mendengarnya. Sore itu ia menggunakan vintage dress berwarna maroon yang serasi dengan hiasan kepala berupa pita yang mengikat sejumput rambut merah keemasannya.


“Lady kelihatan murung belakangan ini. Apa ada yang menganggu lady?”


Sebenarnya La’ti tidak disuruh siapapun untuk menyiapkan semua itu. Ia benar-benar berinisiatif. Mengingat sang lady terlihat kurang bersemangat beberapa waktu ke belakang. Mungkin dengan mengadakan acara minum teh di sore hari, La’ti bisa sedikit menghibur suasana hati sang lady. Serta bisa mengurangi sedikit beban di pikiran sang lady, apalagi setelah Lucy pergi.


“Apa lady kesepian karena Lucy tidak ada disini lagi?”


Lucciane tersenyum tipis seraya menyentuh permukaan atas cangkir keramik yang diisi oleh earl grey tea. “Iya. Aku merasa kehilangan karena Lucy tidak ada disini lagi,” sahut Lucciane. “Selain itu, memang ada hal lain yang menganggu pikiran ku.”


“Mungkin Anda bisa membaginya dengan saya, lady?” tawar La’ti. “Saya paham, mungkin sulit untuk percaya pada penghuni Luccane The Palace setelah lady mengetahui identitas kami. Namun, sejauh ini lady sepertinya mengesampingkan kesulitan tersebut.”


Selain Sebastian, memang La’ti lah yang paling ‘care’ pada Lucciane semenjak datang ke Luccane The Palace. Marry kemudian menempati posisi ke-tiga. Hanya saja wanita yang punya skill mumpuni dalam bidang memasak itu jarang memiliki waktu luang.


“Lady tetap bersikap biasa pada kami. Padahal kami bisa saja … menjadi sangat berbahaya bagi keselamatan lady.”


“Jika memang kalian berbahaya dan dapat mengancam keselamatanku, bukan kah kalian punya banyak kesempatan untuk mencelakai aku sejak awal? Tetapi, buktinya kalian semua tidak melakukan itu.” Lucciane menjawab dengan segera. Seulas senyum hangat kemudian terbit di bibirnya.


“Anda benar-benar memiliki hati yang mulai,” puji La’ti. “Mirip sekali dengan Milady Iness.”


Nama itu lagi. Lucciane jadi kembali diingatkan dengan obrolan terakhirnya dengan Sebastian soal Milady Iness dengan raja vampir terdahulu, yaitu ayah Luccane.


“Apa kamu kenal Milady Iness dengan baik?” Lucciane bertanya dengan tatapan terpusat sepenuhnya pada La’ti.


“Sedikit,” jawab La’ti. “Kami hidup pada zaman yang sangat berbeda, lady. Saya hanya mengenal Milady Iness dari orang-orang yang lebih kenal dekat dengan beliau.”


“Apa saja yang kamu ketahui soal Milady Iness? Boleh aku mengetahuinya juga?”


“Tentu saja, lady.”


Lucciane sudah menduga jika La’ti atau Marry pasti bisa ditanyai soal Milady Iness serta sangkut paut para Lord vampir dengan kematian Milady Iness dan Raja vampir terdahulu.


“Dulu saya adalah manusia biasa yang bekerja di kediaman sorang Marquess. Tugas utama saya adalah membantu mengurus kebutuhan Marchioness Lisetté, istri dari Marquess Maximillian—tuan rumah tempat saya bekerja.”


“Saya menjadi vampir karena digigit oleh Proscris Vampire yang saat itu berkeliaran di sekitar daerah estat Marquess Maximilian. Mungkin seperti yang ada sudah ketahui, Proscris Vampire adalah vampire buangan. Vampire jenis ini bersifat lemah terhadap sinar matahari, agresif, serta tidak punya akan yang rasional,” tutur La’ti. “Saya juga sempat kehilangan akal yang rasional. Kemudian, hari itu saya bertemu dengan My Lord. Beliau memberikan saya kesempatan untuk hidup sekali lagi, walaupun bukan sebagai manusia. Namun, sebagai vampir yang bisa mengendalikan keinginan untuk menghisap darah, serta tidak lemah terhadap cahaya matahari. Karena pertolongan beliau, saya kemudian mengucapkan sumpah akan setia.”


La’ti kemudian menyentuh bagian lehernya. Berbeda dengan Lucciane yang diberi Mark (tanda) lewat hisapan, karena ia adalah soulmate Luccane. La’ti mendapatkan segel kepemilikan seperti yang lain, setelah bersumpah akan setia pada pemilik Luccane The Palace, yaitu Luccane de Khayat.


“Pada tahun-tahun pertama, saya juga kesulitan mengetahui latar belakang para penghuni Luccane The Palace, apalagi My Lord yang sangat tertutup. Sampai saya menemukan sebuah perkamen yang menuliskan nama Milady Iness dengan raja vampir terdahulu, yaitu Lucciano de Khayat,” lanjut La’ti. “Saat masih bekerja di estat Marquess Maximilian, Countess Ariadne, kerabat dari ibu Marchioness Lisetté kerap kali menyebut-nyebut nama Milady Iness ketika bercerita. Putri seorang viscount yang membuat Inggris terguncang dengan sejarah débutante paling perbincangan selama beberapa tahun. Itu lah Milady Iness.”


Lucciane yang masih mendengarkan dengan hidmat mengangguk. Débutante sendiri berasal dari bahasa Perancis débutante (debytãt) yang mengandung arti perempuan muda dari latar belakang keluarga aristokrat atau kelas atas yang telah mencapai kedewasaan, dan sebagai orang dewasa baru, disajikan kepada masyarakat pada “debut” formal. Istilah débutante juga berarti bahwa wanita tersebut sudah cukup umur untuk menikah, dan sebagian dari tujuan kemunculannya pada “debut” adalah menampilkan pada para bujangan atau pria lajang yang memenuhi syarat dengan maksud untuk menikah dengan lingkungan keluarga tertentu.


“Saya tidak tahu secara rinci, namun yang jelas Milady Iness sangat dicintai oleh raja vampir terdahulu. Banyak yang bersaksi bahwa pada masa itu, raja vampir sangat mencintai serta menghormati belahan jiwa sekaligus istri serta ibu dari putranya. Namun, ada desas-desus yang mengatakan bahwa hubungan mereka ditentang oleh sebagian Elders vampir dan Lord vampir. Sekalipun sudah ada buah hati yang lahir dari hubungan mereka,” ungkap La’ti. Ia kemudian menyempatkan untuk menarik napas dalam-dalam. Tanda jika cerita yang akan ia sampaikan, agak memiliki ‘bobot’ yang lebih berat. “Milady Iness merupakan Titisan Goddess yang dipercaya dapat mengendalikan bahkan membinasakan Raja Vampir yang merupakan keturunan campuran, hasil dari perkawinan ras vampire dan ras manusia atau God dan Goddess. Namun, beberapa tahun setelah melahirkan My Lord, kondisi Milady Iness semakin melemah. Dari informasi yang telah saya dapatkan, para Elders vampir dan Lord vampir berasumsi bahwa Milady Iness telah menjadi target suaminya sendiri.”


Lucciane menutup mulutnya dengan kedua tangan, shock mendengar apa yang baru saja La’ti utarakan. Milady Iness menjadi target suaminya sendiri? maksudnya Milady Iness dibunuh suaminya sendiri? kedengarannya saja sangat mustahil.


“Terdengar sangat mustahil bukan?” tanya La’ti kala menangkap raut terkejut di wajah sang lady. “Siapapun yang berpikir rasional pasti tidak akan percaya. Namun, meraka tidak. Semenjak kematian Milady Iness, berkembang kepercayaan jika Raja vampire berikutnya juga akan membunuh titisan The Goddess yang memiliki kekuatan luar biasa. Konflik internal kemudian semakin memanas, sampai muncul gerakan radikal dari para pembelot. Mereka tentu saja menargetkan raja vampir serta putranya.”


“…”


“Hingga saat ini saya juga masih belum tahu apa sebenarnya penyebab utama kesalahpahaman yang dulu terjadi. Apa ada unsur cinta segitiga? Atau … memang ada alasan lain.” Kali ini La’ti menjauhkan tubuhnya dari tepian meja. Mencoba menyandarkan punggung pada kursi kayu yang diletakkan di bawah pohon apel. Wajahnya menengadah ke arah langit untuk beberapa saat. “Jujur, saya yang tidak mengenal secara langsung Milady Iness saja selalu terpukau setiap kali ada seseorang yang membicarakan tentang beliau. Entah kenapa, nasib Milady Iness begitu malang.”


Lucciane setuju dengan ucapan La’ti. Ia memang pernah bertemu dengan wanita pemilik nama lengkap Inessa Serenity itu di dalam mimpi. Walaupun sekejap, ia bisa melihat apa yang menjadi “alasan utama” orang-orang menyukai Milady Iness. Positif vibes lah jawabannya. Wanita cantik itu punya positif vibes yang sangat terpancar, sehingga dapat dirasakan oleh siapapun.


Hidup Milady Iness bisa saja dikatakan “sempurna”, jika kematian tidak terlalu cepat menjemput. Ia memiliki suami dan putra tampan yang sangat menyayangi serta mencintainya. Namun, ada saja halangan serta rintangan yang datang menghadang.


“Jika Anda penasaran dengan wajah Milady Iness dan Raja vampire terdahulu, lukisan mereka ada di ruang istirahat pribadi milik My Lord,” beritahu La’ti.


Padahal tanpa sepengetahuan La’ti, Lucciane sudah diberi kesempatan khusus untuk bertemu dengan meraka berdua. Siapa lagi jika bukan orang tua Luccane.


“Terima kasih atas informasinya,” ucap Lucciane seraya mengangkat cangkir berisi earl grey tea yang sudah mulai dingin. “Untuk saat ini aku lebih tertarik untuk mencari tahu penyebab utama kesalahpahaman yang dulu terjadi. Apa mungkin ada sangkut-pautnya dengan kematian Milady Iness?” gumam Lucciane. Ia pun tersenyum tipis, kemudian menatap La’ti lagi. Lekat-lekat.


“Ada apa, lady?” La’ti yang paham ada sesuatu yang hendak sang lady sampaikan, inisatif bertanya.


“Malam ini … apa kamu bisa membantu aku mencari petunjuk lain di suatu tempat?”


🦋🦋🦋


Note :


CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT PERCINTAAN NON HUMAN. MOHON DOA & DUKUNGANNYA 🤲


Semoga suka 😘


Tanggerang 25-02-23