Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 58. Investigasi Lanjutan


TRV 58. Investigasi Lanjutan


“Bagaimana bisa gadis itu masih hidup dan baik-baik saja?” kalimat yang diucapkan dengan nada penuh rasa frustasi itu datang dari seorang wanita yang menggunakan gaun ala pengantin dengan atasan renda warna putih yang dipadukan dengan rok aksen ruffle. Ia juga menggunakan hiasan kepala fascinator (topi) ala keluarga kerajaan.


Sekarang, fascinator (topi) ala keluarga kerajaan itu sudah terlepas dari kepalanya, dan teronggok di atas sofa yang ada di ruangan khusus pemilik La Vie En Rosé.


“Mom, bagaimana ini? kenapa Alexandro tidak becus bekerja!” serunya, beralih pada wanita paruh baya yang baru saja datang dengan segelas teh chamomile yang baik untuk meredakan stress.


“Minum lah teh ini dulu, sweetheart.”


“No,” tolak putri kesayangannya. “Aku tidak membutuhkan secangkir teh untuk saat ini, Mom.”


Wanita paruh baya yang sore itu tampil dengan dress klasik berbahan lembut dan berpotongan panjang hingga betis itu menghela napas kecil. Model bajunya mirip dengan model baju yang digunakan Duchess of Cambridge saat menghadiri peringatan 50 tahun pemberian gelar Prince of Wales pada Pangeran Charles. Model baju klasik, namun menambah kesan elegan dengan pemilihan warna yang cocok.


“Kita harus memikirkan masalah ini dengan kepala dingin,” ucap Madam Gie seraya menepuk bahu putrinya yang biasa tegar, kini melemah. “Kamu bilang pria yang datang siang tadi adalah anggota dewan kehormatan?”


Gwen mengangguk lesu. Semenjak kepergian Sebastian dan pria yang sama sekali tidak memperkenalkan diri, mood-nya langsung naik-turun bak roller coaster. Bagaimana mood-nya tidak naik-turun jika ia terus-menerus over thinking. Gwen pikir halangan terbesar bagi karirnya selama ini sudah benar-benar menghilang di hutan kegelapan. Namun, setelah melihat gambar yang ditunjukkan Sebastian, Gwen sangat yakin jika adik tirinya itu masih hidup.


Siapa lagi yang punya rambut berwarna merah keemasan selain adik tirinya di Bristol? Luciana itu memiliki warna rambut yang unik. Alih-alih pirang seperti kebanyakan orang, warna rambutnya adalah merah keemasan. Unik, langka, serta cantik sekali.


Dilansir dari Wikipedia, rambut merah biasanya lazim terdapat bagi orang-orang Eropa dari Negara-negara Nordik dan Skandinavia (2-6 persen), keturunan Jemanik Utara dan Kelt. Penduduk Skotlandia memiliki proporsi tertinggi rambut merah, yaitu 13% dari total populasinya berambut merah dan setidaknya 40% dari total populasi membawa gen rambut merah yang resesif. Rambut berwarna merah biasanya tampak pada orang-orang dengan dua salinan gen resesif di kromosom 16 yang menyebabkan adanya mutasi dalam protein MC1R.


Rambut merah ini punya karakter pigmen feomelanin kemerahan berkadar tinggi dan pigmen eumelanin berkadar gelap rendah. Biasanya pemilik rambut merah punya kaitan dengan warna kulit yang terang, warna iris mata yang beragam, mulai dari abu-abu, biru, hijau dan coklat kekuningan, freckle, serta kepekaan terhadap cahaya ultraungu.


“Iya. Salah satu pegawai mengenal pria itu. Dia adalah dewan kehormatan termuda,” sahut Gwen. “Namanya Luccane de Khayat,” lanjutnya.


Gwen awalnya tidak tahu nama pria yang tidak sempat mengenalkan diri itu, namun ada salah satu pelayan yang sempat berkata jika ia mengenali pria rupawan tersebut. Namanya Luccane de Khayat. Salah satu anggota dewan kehormatan Inggris atau House of Lords. Luccane juga sorang pengusaha berwajah tampan dan mapan yang cukup terkenal, namun hanya sedikit informasi yang bisa digali tentangnya.


“Apa Mommy punya kenalan anggota dewan kehormatan? Aku … ingin tahu lebih banyak informasi soal pria bernama Luccane itu.”


“Ada,” sahut Madam Gie. “Mommy kebetulan dekat dengan salah satu anggota dewan kehormatan.”


“Apa … aku mengenal orang yang Mommy maksud?”


Madam Gie mengangguk. “Kalian pernah bertemu saat kunjungan ke Bletchley Park untuk peringatan dan penghormatan pada pahlawan tanpa tanda jasa pada perang dunia kedua.”


Gwen mencoba untuk mengingat-ingat memori di Bletchley Park untuk peringatan dan penghormatan pada pahlawan tanpa tanda jasa pada perang dunia kedua. Tempat yang merupakan pedesaan dan perkebunan Inggris itu terletak di Bletchley, Milton Keynes, pusat utama pemecahan kode sekutu selama perang dunia kedua. Ia memang mengunjungi tempat tersebut pada musim panas tahun lalu. Di sana ia bertemu beberapa orang penting, termasuk anggota dewan kehormatan yang merupakan kenalan sang ibu.


Penting bagi Gwen untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, terkait Lucciane yang katanya masih hidup dan saat ini tinggal di tempat bernama Luccane The Palace. Fakta tersebut benar-benar mengejutkan, mengingat Alexandro—tangan kanan ibunya berkata jika Lucciane menghilang di hutan kegelapan bersama dua tiga orang pembunuh bayaran yang disewa ibunya. Tidak ada yang bisa selamat jika masuk ke dalam hutan kegelapan.


Hutan yang terkenal sangat berbahaya karena diisi oleh hewan liar dan tumbuhan langka yang. Bahkan pada beberapa lokasi dipasang garis polisi supaya warga sipil tidak sembarangan masuk ke hutan kegelapan. Hutan kegelapan memang mirip hutan Aokigahara yang ada di sebelah barat laut gunung Fuji, prefektur Yamanashi, Jepang. Hutan yang terkenal angker dan kerap kali dijadikan sebagai tempat untuk bunuh diri.


“Sweetheart, apa kamu yakin jika gadis itu masih hidup?”


Gwen mengangguk mantap. “Sebastian menunjukkan foto gadis itu kepadaku, Mom. Aku yakin itu adalah dia.”


“Sebastian siapa?”


“Sebastian Saunders, pria yang datang bersama kekasih gadis itu,” ujar Gwen, menerangkan. “Apa Mommy tahu, kedua pria itu sangat rupawan,” lirihnya. Tak sedikitpun ia melupakan wajah kedua pria tersebut. “Aku benar-benar masih tidak menyangka jika pria yang paling rupawan itu adalah kekasih gadis sial*n itu.”


“Tenang, sweetheart. Kamu pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dari pria yang mengaku sebagai kekasih gadis itu.”


“Aku merasa tidak yakin setelah mengingat wajah rupawannya,” dumel Gwen. Di satu sisi ia resah, di sisi lain ia merasa iri.


Jika benar adik tirinya itu masih hidup dan tinggal di istana milik pria tampan bernama Luccane, Gwen benar-benar tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Sejak dulu ia selalu ingin menjadi lebih unggul dari adik tirinya itu. Walaupun demikian, ada saja “kelebihan” yang membuat gadis bermata biru itu lebih unggul darinya. Sekarang saja contohnya, entah dari mana gadis itu mengenal Luccane de Khayat yang sangat tampan dan rupawan.


Madam Gie bertanya dengan raut bingung pada tangan kanannya yang tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah. Pria itu baru saja melewati sebuah pintu kaca yang menjadi sekat di antara ruangan satu dengan ruangan lainnya. Dari dalam, ia sudah bisa melihat tangan kanannya datang dengan tergesa-gesa.


“Ada informasi penting yang harus saya sampaikan, Madam,” kata pria berwajah latin tersebut setelah mengatur napasnya.


“Informasi apa? coba katakan.” Madam Gie kembali bersuara sebelum mengangkat cangkir keramik berisi teh hangat ke udara. Membawanya tepat ke depan bibir yang dipulas perona berwarna merah.


“Investigasi yang sempat ditunda kembali dilanjutkan, Madam.”


“Apa?” Madam Gie hampir saja menjatuhkan cangkir keramik di tangannya jika saja ia tidak sigap.


Investigasi yang dimaksud adalah investigasi terkait kasus hilangnya Lucciane di hutan kegelapan bersama tiga orang pembunuh bayaran yang dikirim Madam Gie. Kasus tersebut sempat dikabarkan akan diberhentikan, karena pencarian tidak membuahkan hasil. Toh, semenjak dulu jika ada kasus yang berhubungan dengan hutan kegelapan memang tidak pernah ada hasil yang memuaskan. Jadi, otoritas setempat meyakini bahwa nasib yang sama akan menimpa Lucciane. Namun, keputusan soal penutupan kasus tersebut belum dikabulkan. Sekarang, kenapa tiba-tiba ada investigasi lanjutan?


“Kenapa tiba-tiba dilakukan investigasi lanjutan?” tanya Gwen yang ikut merasakan kecemasan. “Bukan kah kasus itu akan segera ditutup?”


Alexandro mengangguk. “Seharusnya kasus ini ditutup saat memasuki bulan keempat hilangnya nona Lucciane. Namun, tiba-tiba ada warga sipil yang mengajukan laporan.”


“Laporan?” Madam Gie, ibu tiri Lucciane tampak menautkan kening mendengar penuturan tangan kanannya. Aneh sekali, tiba-tiba ada laporan masuk mengenai anak tirinya yang sudah menghilang berbulan-bulan lamanya.


“Benar, Madam. Dua hari yang lalu ada laporan masuk ke kantor polisi yang menangani kasus hilangnya nona Lucciane. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa nona Lucciane masih hidup di suatu tempat.”


Madam Gie dan Gwen kompak membantu mendengar kalimat itu. Alexandro yang menyadari perubahan raut wajah keduanya langsung menelan saliva susah payah. “Apa … isi laporan itu benar? Jadi, nona Lucciane masih hidup?”


“Tidak,” bantah Madam Gie cepat. “Kau sendiri yang mengatakan jika mustahil selamat setelah masuk ke dalam hutan kegelapan,” tambahnya. “Kau juga berkata sudah mengunjungi desa di tepi sungai yang membatasi wilayah hutan kegelapan untuk memastikan. Lalu apa hasilnya? Gadis itu tidak ada bukan?”


Alexandro mengangguk kecil. “Saya sudah memastikan dengan sangat teliti, Madam. Hasilnya memang tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan nona Lucciane di desa tersebut.”


“Lalu kenapa bisa ada laporan yang mengatakan jika gadis itu masih hidup!” Gwen meradang. Ibunya telah menghabiskan puluhan juta poundsterling untuk menyingkirkan adik tirinya. Namun, bagaimana bisa pekerjaan mereka tidak becus seperti ini? merepotkan saja.


“S-aya sudah mengerahkan orang untuk menyelidiki lebih lanjut terkait laporan tersebut, nona.”


“Lakukan dengan cepat!” titah Gwen, bossy. Hilang sudah sifat elegan yang diterapkan ibunya sejak kecil jika sudah out of control.


Di sisi lain, Madam Gie sendiri mulai merasakan nyeri di salah satu bagian kepalanya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba anak tirinya bisa kembali dikabarkan masih hidup. Bahkan ada dua pria misterius yang mengatakan dengan penuh keyakinan jika anak tirinya masih hidup dan sekarang dalam kondisi baik-baik saja.


“Alexandro,” panggilnya dengan suara rendah.


“Iya, Madam.”


“Siapkan supir, saya akan pergi ke London malam ini juga.”


Alexandro mengangguk mantap. Bertahun-tahun bekerja di bawah perintah Madam Gie, sedikit banyak ia tahu tabiat wanita yang terkenal selalu anggun dalam berbagai kesempatan itu. Madam Gie bahkan dijuluki mistress berkelas atau wanita simpanan berkelas di kalangan para sosialita. Walaupun Madam Gie memang menjadi mistress Chef Gustaff sebelum mereka resmi menikah, kehadiran Gwen yang lebih tua satu tahun dari anak biologis Chef Gustaff dengan istri pertamanya sedikit-banyak menyelamatkan nama Madam Gie. Sebagian orang beranggapan jika memang ada kisah cinta lama yang bersemi kembali di antara Chef Gustaff dan Madam Gie, sehingga melahirkan Gwen. Bahkan sebelum lahirnya Lucciane yang notabene anak dari pernikahan sah Chef Gustaff dengan istri pertamanya.


“Gadis itu tidak boleh kembali dalam keadaan hidup,” gumam Madam Gie sebelum mobil yang ia tumpangi membawanya pergi dari pelataran La Vie En Rosé.


🦋🦋🦋


TBC


Note : Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 27-02-23