Tawanan Raja Vampir

Tawanan Raja Vampir
TRV 32. Portal Sihir


“Benda itu mungkin tidak berpengaruh saka sekali bagi rasa vampir. Namun, bagi ras manusia seperti kamu, benda itu bisa sangat berpengaruh.”


Kalimat Seelie terus terngiang-ngiang di kepala Lucciane sejak mereka kembali dari danau. Jadi benar, malam itu Luccane menggunakan benda mistis yang bisa mengeluarkan kidung siren? Tapi, untuk apa? Lucciane ingat betul jika malam itu ia tiba-tiba terlelap. Bahkan sampai tidak sadar akan posisi terakhir Lucy yang ditemukan di bawah jendela pada pagi hari.


Namun, setelah mengingat-ingat kembali, Lucciane sempat mengalami mimpi buruk malam itu. Mimpi buruk itu tampak tidak bersisa dalam ingatan. Kendati demikian, Lucciane yakin jika ia sempat mengalami mimpi buruk sebelum benar-benar bisa tidur tanpa gangguan.


“Sepertinya Raja vampir tidak akan menjemput kamu dalam waktu dekat.”


Suara Seelie kembali terdengar. Saat ini mereka sedang berada di sebuah area lapang yang ditumbuhi oleh berbagai jenis bunga yang belum pernah Lucciane lihat. Bunga-bunga itu tampak cantik, ditambah oleh cahaya yang berasal dari kunang-kunang. Pada beberapa sudut juga tumbuh jamur-jamur berukuran cukup besar yang mengingatkan Lucciane pada sebuah serial animasi.


Sebenarnya Lucciane bisa saja keluar dari Land of dawn dengan bantuan Seelie, kemudian melarikan diri dari cengkraman Luccane. Mengingat di luar sana sudah ada para Lord vampir yang siap menjaganya. Namun, Lucciane tidak melakukan itu karena … Luccane. Ya, alasannya karena Luccane. Ada banyak hal yang ingin Lucciane tanyakan pada Luccane.


Selain itu, selama ini Luccane juga memperlakukannya dengan baik selama tinggal di Luccane The Palace. Tidak pernah sedikitpun laki-laki itu membuat Lucciane merasa tidak nyaman. Kecuali belakangan, saat Luccane mulai mengekang. Pria itu mempersempit ruang gerak Lucciane. Padahal tanpa begitu pun, Lucciane juga tidak akan bisa pergi dari Luccane The Palace. Ia mungkin sempat shocked dan ketakutan saat mengetahui identitas asli Luccane. Namun, Luccane serta para penghuni yang lain mematahkan spekulasi tentang vampir yang terkenal sangat dingin dan agresif.


Apalagi sikap terakhir pria itu terkesan ... manis. Luccane bahkan meninggalkan satu kecupan.


“Seelie.”


“Iya, ada apa? kamu merasa lapar?”


Mahluk bersayap itu menatap Lucciane dengan kepala dimiringkan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal para Elves.


“Apa kamu bisa menolongku?”


“Apa yang bisa Seelie bantu untuk kamu?” Seelie bertanya balik.


“Keluarkan aku dari Land of dawn.”


“Mengeluarkan kamu dari Land of dawn?” ulang Seelie, tampak tidak percaya. “Mustahil. Raja vampir bisa membunuh Seelie kalau kamu pergi begitu saja tanpa pengawasan.”


“Aku harus pergi,” ujar Lucciane, mantap. “Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Luccane dan Lynn.”


“Lynn? Siapa dia?”


“Salah satau Lord vampir,” sahut Lucciane gamblang.


Seelie langsung terperangah mendengarnya. “Benarkah? Bukannya para Lord vampir sudah binasa di Castil Vamfield?”


“Entahlah. Aku juga belum terlalu yakin,” ucap Lucciane. “Lynn adalah pemilik rubah merah yang aku tolong saat berjalan-jalan di kebun apel milik Luccane The Palace. Dia datang dan menawarkan bantuan.”


“Bantuan apa?”


“Bantuan untuk keluar dari Luccane The Palace.”


Seelie tampak tertarik dengan cerita Lucciane yang satu ini. “Lalu apa yang membuat kamu yakin kepadanya?”


“Aku rasa … dia memang Lord vampir. Disisi lain, dia juga terlihat tulus ketika menawarkan bantuan.”


“Seelie rasa kamu terlalu mudah percaya,” timpal Seelie. “Bisa jadi Lynn, Lynn, itu adalah Proscris Vampire yang datang karena mencium aroma kamu. Proscris Vampire sangat berhasrat pada darah, apalagi darah suci seperti milik kamu.”


Kini giliran Lucciane yang tertegun mendengarnya. Apa benar Lynn adalah Proscris Vampire? Tapi, kenapa ia tidak mempercayai spekulasi tersebut?


“Aku rasa bukan.” Lucciane menjawab dengan gelengan kepala. “Jika dia Proscris Vampire seperti dugaan kamu, dia bisa saja langsung menghisap darahku waktu itu. Tidak perlu menunggu.”


“Kamu benar juga,” timpal Seelie. “Jika mereka benar Lord vampir yang tersisa, maka pertarungan tidak akan terelakkan lagi.”


“Pertarungan?”


Seelie mengangguk. “Pertarungan Sword master yang tersisa, yaitu Raja vampir dengan pemimpin Lord vampir.”


“Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Karena pertarungan itu tertulis dalam sebuah perkamen kuno.” Setelah berkata demikian, Seelie tampak gelisah.


Seperti dugaan Lucciane, Seelie memang punya wawasan yang luas terkait ras vampir. Maka tak heran jika sejak tadi Seelie bisa bercerita tanpa jeda. Bahkan tanpa ragu dan sangat meyakinkan.


“Lalu apa benar pertarungan itu dipicu karena aku?” tanya Lucciane, ragu-ragu.


Jika Lynn datang ke Luccane The Palace, itu sudah jelas karena janjinya pada Lucciane. Kemudian jika terjadi pertarungan antara Lynn dan Luccane, itu juga berarti karena Lucciane bukan?


Seelie tampak berpikir keras untuk menjawab. Namun, tanpa memberikan jawaban, Lucciane sudah tahu. Alasan pertarungan mereka pasti karena dirinya.


“Aku harus kembali,” ucap Lucciane kemudian. Kedua tangannya meraih punggung tangan Seelie. “Tolong bantu aku keluar dari tempat ini.”


“Kumohon, Seelie. Kamu pasti tahu cara untuk keluar dari tempat ini,” pinta Lucciane, memohon. “Aku harus menghentikan mereka.”


“Seelie … hanya tahu caranya,” lirih Seelie. Pada akhirnya mau buka suara juga.


“Tidak apa. Setidaknya jika aku tahu, aku akan berusaha sendiri.”


Seelie mengangguk kecil. Ia tampak ragu ketika hendak memberitahu. Bagaimana pun juga Lucciane adalah ‘titipan’ berharga dari Raja vampir yang harus dijaga baik-baik. Bisa tamat riwayat Land of dawn jika Raja vampir murka, karena Seelie tidak becus menjaga ‘miliknya’.


“Kamu bisa keluar dari sini menggunakan portal sihir.”


“Portal sihir?”


Seelie mengangguk. “Dengan portal sihir, kamu bisa langsung pergi ke tempat yang mau kamu tuju.”


Lucciane tersenyum mendengarnya. Ternyata memang benar, ada banyak benda magis yang punya kekuatan luar biasa. Mungkin salah satunya adalah portal sihir. Sekilas cara kerjanya mirip dengan kemampuan teleportasi yang Luccane miliki.


“Lalu dimana portal itu? segera bawa aku ke sana, Seelie. Waktuku tidak banyak.”


“Ada di menara kembar milik bangsa Elf.”


“Menara kembar milik bangsa Elf?”


Seelie mengangguk. “Iya. Letaknya ada di balik gunung itu.” Telunjuk Seelie terangkat, mengarah pada gunung yang berjajar di seberang danau. “Di sana adalah kediaman bangsa Elf.”


“Lalu bagaimana caraku pergi ke sana?”


“Untuk itu, mula-mula kita butuh tunggangan,” sahut Seelie. Tak berselang lama, ia bersiul. Mengeluarkan suara khas, berbeda dengan siulan manusia pada umumnya.


“Kamu … memanggil sesuatu?” tebak Lucciane.


Seelie mengangguk. “Kamu butuh tunggangan untuk sampai ke menara kembar milik bangsa Elf.”


Lucciane tampak mengernyitkan kening. “Memangnya apa yang kamu panggil?”


Seelie mengepakkan sayap seraya tersenyum. “Unicorn.”


“Apa?” Lucciane tak salah dengar bukan? Seelie baru saja memanggil unicorn? mahluk mitologis itu … benar ada?


Pertanyaan yang tak sempat dilontarkan itu langsung terjawab ketika mahluk mitologis itu benar-benar muncul. Siluet kuda gagah berwarna putih bersih yang keluar dari sela-sela rimbunnya pohon di hutan Land of dawn. Seperti penggambarannya, unicorn memiliki tanduk di kepala yang berbentuk spiral, memiliki bulu putih, serta surai yang panjang, dan semua itu tepat.



Lucciane tak menyangka akan melihat mahluk mitologis itu secara langsung di Land of dawn.


“Cepat naik. Kita akan segera berangkat ke menara kembar milik bangsa Elf.”


Lucciane yang masih sempat terkesima, kemudian mengangguk. Tanpa dikomando, hewan cantik itu langsung merunduk, seolah-olah siap menerima Lucciane yang akan menaiki punggungnya. Padahal Lucciane tidak punya kemampuan berkuda. Ketika masih tinggal di Luccane The Palace saja ia tidak pernah berani berkuda. Padahal La’ti kerap menawarkannya berkuda.


Seelie yang paham akan kekhawatiran Lucciane, beberapa kali mencoba meyakinkan jika unicorn satu itu aman untuk dinaiki, sekali pun oleh pemula seperti Lucciane.


“Bagaimana? Kunci utamanya adalah tenang. Maka Max bisa dengan mudah diajak bekerjasama.”


“Max?” bingung Lucciane. Sekarang ia mulai terbiasa menunggang kuda istimewa itu. Walaupun awalnya sempat ragu-ragu.


“Namanya Maximus,” kata Seelie, memberitahu. “Kami kerap memanggilnya Max.”


“Oke, Max,” ucap Lucciane seraya menyentuh pulu putih Maximus yang sangat halus. Ia harus membuat mahluk itu nyamanan akan kehadirannya. “Aku sangat butuh bantuanmu untuk mencapai menara kembar milik bangsa Elf. Jadi, mari kita bekerjasama dengan baik.”


Seolah-olah mengerti apa yang Lucciane ucapkan, Maximus tiba-tiba meringkik. Setelah itu laju langkah kakinya kian cepat, namun tetap stabil. Sehingga Lucciane bisa tetap berada dalam posisi aman. Seelie sendiri terbang memimpin jalan menuju menara kembar milik bangsa Elf.


Konon katanya, di sana ada portal sihir yang bisa Lucciane gunakan untuk keluar dari Land of dawn, tanpa menunggu kedatangan Luccane. Entah kapan pria rupawan itu datang, jika saat ini ia kemungkinan besar sedang bertarung dengan Lynn.


🦋🦋🦋


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa 👇



Tanggerang 11-02-23