
Erina sudah meninggalkan pesan kepada stafnya di Zarina Butik bahwa dia akan mulai bekerja dari rumah. Lantaran jarak butik dan rumah yang tidak begitu jauh, staf yang ingin konsultasi desain dan sebagainya bisa langsung datang ke rumah. Erina siap untuk membantu stafnya, hanya saja dia melakukannya dari rumah.
Semua itu, Erina lakukan karena waktu bersalin tinggal beberapa pekan. Selain itu, Erina juga lebih nyaman di rumah, setidaknya jika dekat dengan suaminya jika tanda-tanda bersalin hadir sewaktu-waktu ada suaminya yang siaga.
Selain itu, ada kalanya Erina merasakan punggung dan pinggang yang lebih pegal dan juga harus buang urin beberapa kali. Oleh karena itu, Erina memilih berada di rumah. Namun, walau berada di rumah, Erina tetap menciptakan desain busana, dia masih menggambar di buku miliknya. Selain itu, Erina juga mengecek laporan dari butiknya.
"Jangan capek-capek, Yang," kata Zaid kepada istrinya itu.
"Enggak capek kok, Mas ... kan cuma duduk dan menggambarkan aja. Daripada tidak ada kegiatan," balas Erina.
Zaid mengangguk, dia paham bahwa itu dilakukan Erina untuk beraktivitas dan mengisi harinya. Dengan demikian, Zaid juga membiarkan Erina yang penting Erina bisa beraktivitas dan tidak kesepian di rumah. Sebab, kadang kalau Raka sekolah, Erina juga kesepian.
"Nanti kamu mau bersalin normal atau caesar, Sayang?" tanya Zaid kepada istrinya itu.
"Kalau sekiranya memang posisi bayinya sudah masuk panggul, tidak ada lilitan, dan baik semua, kelihatannya aku normal lagi aja, Mas," jawab Erina.
Zaid menghela napas panjang. Sebab, dia cukup trauma mendampingi Erina dulu. Waktu melahirkan Raka secara normal, Erina mengalami proses pembukaan yang sangat panjang. Selain itu, Erina terus-menerus menangis kala gelombang kontraksi itu datang. Sehingga, Zaid sesungguhnya berharap Erina mengambil persalinan secara caesar saja.
"Gak caesar saja, Yang? Aku gak tega deh, melihat kamu kesakitan seperti itu," kata Zaid.
"Iya, Sayang. Ya sudah, lanjut aja Sayang. Aku kerja sebentar yah," pamit Zaid.
Erina menganggukkan kepalanya. Memang suaminya itu bekerja dari rumah. Adakalanya Zaid untuk menjadi nara sumber untuk berbisnis bagi kalangan muda. Oleh karena itu, mitra yang dimiliki suaminya pun semakin banyak. Namun, Erina sekarang sudah bisa berpikir dewasa. Dia tahu bahwa suaminya bekerja untuk dirinya dan Raka. Sehingga tidak merasa sedih atau sendirian.
Erina pun juga banyak belajar. Tidak ingin kesalahan yang dia lakukan dulu akan terjadi lagi. Banyak menyingkapi beberapa hal yang terjadi.
"Kali ini Mama akan belajar, Nak ... Mama ingin menjadi sosok Mama yang jauh lebih baik untuk kamu dan Raka."
Gumaman seorang Erina dengan mengusapi perutnya. Dia cemas sebenarnya, terutama dengan gerakan bayinya yang kian terasa kadang nyeri di ulu hati. Juga dengan frekuensi buang urin yang jauh lebih banyak dan sering.
Benar ini bukan kehamilan pertama, tapi rasanya seperti kehamilan pertama dulu. Tentu juga suasananya jauh berbeda. Sebab, Zaid juga lebih banyak stay di rumah sekarang. Selain itu, Raka juga sepenuhnya sehat dan pulih. Sehingga, memang banyak yang Erina syukuri sekarang.
"Sekarang, Mama tinggal fokus untuk menunggu sinyal dari kamu, Nak ... kita akan bertemu nanti ya, Nak. Buah cintanya Mama dan Papa, sekaligus adiknya Kak Raka."
Erina berusaha mengalihkan kecemasannya dengan harapan positif. Semoga saja nanti, semuanya akan baik adanya dan juga babynya akan memberikan sinyal terlebih dahulu, sehingga Erina juga bisa bersiap untuk segera menuju ke Rumah Sakit. Erina juga ingin menyambut buah hatinya itu. Buah hati yang pastinya akan semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.