
Setelah sudah ada Mamanya, Raka tentunya sangat senang bisa berjalan-jalan di taman sore itu bersama dengan Mamanya. Terlebih ketika kini Raka bisa menggandeng tangan Mamanya, rasanya begitu suka. Yang Raka pikirkan dan ingat seolah dia sudah begitu lama tidak menggandeng tangan Mamanya seperti ini.
"Kita hanya jalan-jalan?" tanya Erina kemudian kepada Raka.
Bocah kecil itu pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya Ma, jalan-jalan saja. Raka tidak mau beli Harum Manis nanti Mama marah," balasnya.
Walau di dalam hati sangat menginginkan Harum Manis, tetapi Raka enggan membelinya karena takut Mamanya marah dan berakhir bisa meninggalkannya lagi. Untuk itu, Raka benar-benar melirik untuk tidak membeli Harum Manis.
Menjelang petang akhirnya Raka mengajak pulang. Itu juga karena Raka memiliki kebiasaan jam tidur di pukulĀ 20.00. Oleh karena itu, sekarang mereka dalam perjalanan kembali ke rumah. Lantaran tadi Erina berangkat ke taman diantar oleh Erick, sehingga sekarang Erina satu mobil dengan Zaid dan anaknya itu.
"Mobilnya Mama di mana Ma?" tanya Raka yang rupanya tahu bahwa tadi ketika berangkat Mamanya membawa mobil sendiri, dan tadi Mamanya justru diantar oleh Om Erick.
"Mobilnya Mama masih di butik, Raka. Kan besok Mama juga libur, jadi tidak butuh mobil," balas Erina.
"Lalu, lusa Mama ke Butiknya bagaimana?" tanya Raka lagi.
Belum Erina menjawab, rupanya Zaid sudah menjawab terlebih dahulu. "Lusa, kita anterin Mama sama-sama ke Butik saja, Raka. Toh, Raka masih libur dulu sekolahnya," balas Zaid.
Tentu saja Erina merasa tidak nyaman dengan tindakan Zaid yang ingin mengantarkannya ke Butik. Bukankah dia sudah mengajukan syarat bahwa tidak akan ikut campur untuk urusan pribadi. Akan tetapi, beberapa kali justru Zaid terlebih ingin tahu kehidupan pribadinya.
"Benar Pa ... kita anterin Mama bekerja aja ya Pa," balas Raka dengan tertawa. Dia merasa sangat senang karena lusa nanti mereka bisa mengantarkan Mamanya ke Butik.
"Boleh kan Ma?" tanya Raka kemudian kepada Mamanya.
"Hmm, baiklah," balas Erina. Walau sebenarnya tidak suka. Namun, sekarang jika ingin menolak Raka rasanya juga tidak mungkin. Dia takut Raka akan kecewa.
Begitu sudah sampai di rumah, Erina memilih mandi terlebih dahulu. Setelahnya mereka menikmati makan malam bersama. Jujur, untuk Raka keadaan rumah seperti inilah yang dia mau. Ada Mama, ada Papa. Di meja makan pun ada kedua orang tuanya yang perhatian kepadanya. Di sisa-sisa ingatan Raka, dulu dia hanya bersama Mamanya di rumah. Dalam sepekan bisa dua hingga tiga hari Papanya bekerja ke luar kota. Bulan depannya akan berlalu seperti itu juga. Namun, sekarang ada Mama dan Papanya yang berada di rumah. Bagi Raka itu sangat menyenangkan.
Setelah Raka tertidur, Zaid dan Erina memasuki kamar mereka sendiri. Menaiki ranjang, dan tentunya tidur sendiri-sendiri. Sebab, ada dua ranjang di dalam kamar itu.
"Rin," panggil Zaid kepada istrinya itu perlahan.
"Hmm, ada apa?" tanya Erina.
"Aku mau berbicara sesuatu sama kamu, Rin. Siapakah Erick itu?" tanyanya. Zaid tidak mau banyak berbicara. Lebih baik dia sampai ke tujuannya yaitu bertanya siapakah Erick itu sebenarnya.
"Oh, dia hanya seorang desainer yang akan bekerja sama dengan butikku," balas Erina.
Zaid hanya mengernyitkan keningnya. Kenapa rasanya justru hubungan keduanya lebih dari sekadar klien. Namun, kali ini Zaid harus menyampaikannya dengan lebih hati-hati.
"Kalau aku boleh meminta, di hadapan Raka ... jangan libatkan orang lain, Rin. Anak kita masih sakit, jika dia melihat Mamanya dengan pria lain tentu menghadirkan banyak tanda tanya untuk Raka," balasnya.
Zaid hanya berusaha berbicara dengan perasaannya saja, dengan logikanya. Dia mengamati kebingungan Raka dan juga respons yang ditunjukkan Raka dengan bertanya kepada Mamanya. Untuk itu, dia meminta Erina untuk tidak bersama lawan jenis kala bersama Raka.
"Jadi, kamu membatasi pergaulanku, Zai?" tanya Erina.
"Iya, demi Raka," balas Zaid.
"Semuanya demi Raka, kenapa itu seolah menjadi sebuah senjata," balas Erina dengan melirik kepada suaminya.
"Aku hanya mengamati sikap Raka, Rin. Selain itu beri sedikit kebebasan untuk Raka. Jika hanya ingin beli Harum Manis tidak apa-apa. Toh, tidak harus semuanya dimakan habis. Terlalu ekstrem ketika anak kecil berpikiran bahwa tidak jadi beli Harum Manis karena Mamanya bisa marah dan pergi meninggalkannya," balas Zaid.
Setidaknya anak memang harus diberikan kebebasan. Harum Manis memang terbuat dari bula dan pewarna, yang memungkinkan anak bisa batuk setelahnya. Namun, biarkan mereka mencoba sedikit, memberi batasan saat makan. Ketakutan Raka bisa menjadi-jadi jika selalu berpikiran ketika dia tidak taat dengan Mamanya, maka Mamanya itu akan pergi.