
Nikmat dan syahdu. Dua kata itu seolah mewakili bagaimana indahnya mengulang kembali memori malam pertama bagi Zaid dan Erina. Ketika sudah tidak ada yang menjadi dinding pembatas di antara keduanya. Maka, yang Zaid lakukan adalah terus melaju. Tidak peduli dengan lampu lalu lintas yang bisa berubah warna menjadi merah.
"Sakit enggak, Yang?"
Zaid hanya sekadar bertanya. Itu juga karena sudah lama tidak bercinta, mungkin saja bisa kembali menimbulkan rasa sakit dan juga tidak nyaman. Oleh karena itulah, Zaid bertanya kepada Erina.
"Gak nyaman aja, Mas. Sudah lama, tidak terbiasa," balas Erina. Memang ada sesuatu yang tidak nyaman di sekitaran pangkal pahanya. Untuk itu, Erina juga berkata jujur dengan Zaid.
Zaid tersenyum. Memang itu wajar. Zaid pun juga memakluminya. Namun, jika sudah terbiasa pasti juga akan menjadi nyaman.
"Mandi, Mas. Harus mandi besar, supaya gak berdosa," balas Erina.
"Yuk, barengan aja."
Sekali lagi Zaid tidak akan melewatkan kesempatan begitu saja. Dia dengan sumringah mengajak Erina ke dalam kamar mandi. Sama-sama berdiri di bawah guyuran air hangat. Dulu, kala keduanya masih harmonis, Erina hanya meminta mandi dengan air dengan suhu ruangan. Namun, karena sekarang di Lembang dingin dan juga hujan, sehingga Erina memilih untuk mandi air hangat. Tidak perlu lama-lama, sekarang mereka sudah sama-sama bersih.
Zaid dan Erina memunguti pakaian mereka yang berserakan di sekitar ranjang. Setelahnya, Erina kembali merapikan sprei. Barulah, kemudian mereka sama-sama menaiki ranjang.
"Sini, Yang ... aku peluk," ucap Zaid.
Sedikit tersenyum, Erina kemudian masuk ke dalam pelukan Zaid. Wanita itu mendekat di dada Zaid dan tangannya melingkari pinggang suaminya. Sembari menghirupi aroma parfum Sandal Wood di tubuh Zaid.
"Besok kita pulang ke Jakarta yah?"
"Iya, Mas. Agak siang saja yah. Aku ingin mengunjungi kedai Teh milik Bapak dulu, sekalian melihat seperti apa kedai teh itu," balas Erina.
"Iya, besok kita ke kedai teh dulu. Yang, kalau di Jakarta. Jangan menolakku lagi yah," pinta Zaid sekarang.
Seolah-olah Zaid berpikir bahwa percintaan yang panas ini karena bisa saja keduanya terbawa suasana. Sehingga, sekarang Zaid kembali berbicara supaya Erina tidak menolaknya ketika berada di Jakarta nanti. Zaid mengharap Erina yang tidak akan lagi berubah.
"Aku tolak, kan kita tidur masih beda ranjang," balas Erina dengan tertawa. Wanita itu hanya sekadar bercanda saja, bagaimana pun supaya tidak terlalu hening ketika bersama dengan Zaid.
"Aku akan singkirkan ranjangmu," balas Zaid dengan cepat. Ya, memang Zaid sudah berpikir bahwa ketika sampai di rumah, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menyingkirkan ranjang milik Erina. Toh, sekarang mereka berdua sudah saling menerima satu sama lain. Tidak perlu lagi tidur sekamar dengan dua ranjang.
Tidak marah, kali ini Erina justru tertawa. Wanita itu kian mendusel di dada suaminya. Benar-benar tidak menjaga image dan juga tidak menjaga jarak dengan Zaid.
"Yang, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Zaid.
"Hmm, mau tanya apa, Mas?"
Zaid menghela nafas terlebih dahulu. Sebenarnya dia tidak ingin berpikiran negatif, tapi kali ini dia terusik saja untuk bertanya sesuatu kepada Erina. Semoga saja kali ini Erina bisa memberikan jawaban yang jujur.
"Selama cerai denganku, dan proses rujuk. Kamu ..., maksudku tubuhmu tidak tersentuh oleh siapa pun kan? Termasuk Erick? Maaf," tanyanya.
Erina sedikit beringsut dia kemudian menatap wajah Zaid yang seolah sudah menunggu jawaban dari Erina. Hingga akhirnya, Erina menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang menyentuhku, Mas. Tidak pernah ada."
Erina menjawab dengan jujur. Walau rumah tangganya diterpa prahara, tapi tidak ada yang menyentuhnya. Erina menjaga dirinya juga. Zaid menatap Erina dengan begitu lekat, pria itu dengan sengaja menyentuh area dada Erina, memberikan sedikit remasan di sana.
"Di sini?"
Lantas, Zaid membawa tangannya menuju pangkal paha, menyentuh sekilas dari luar.
"Di sini?"
Lagi, Erina menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Cuma aku yang menyentuhnya?" tanya Zaid.
Sekarang barulah Erina menganggukkan kepalanya. "Iya, cuma kamu yang menyentuhnya, termasuk yang barusan." Jawaban yang diberikan Erina adalah jawaban yang jujur. Berbulan-bulan berlalu, memang baru kali ini saja dia kembali disentuh, dan oleh suaminya sendiri.
Barulah sekarang Zaid merasa lega. Pria itu tersenyum dan membawa Erina dalam pelukannya. "Ah, syukurlah. Jangan biarkan orang lain menyentuhmu. Semuanya kini menjadi milikku," balas Zaid.
"Posesif," sahut Erina dengan cepat.
"Harus," balas Zaid.
Erina kemudian terkekeh perlahan. "Walau aku nyebelin, kenapa kamu masih cinta sama aku, Mas?"
Sekarang Erina yang bertanya dan dia ingin Zaid bisa memberikan jawaban untuknya. Erina tahu, selama ini sikapnya mengesalkan. Namun, kenapa Zaid masih mencintainya?
"Cinta ya cinta, Yang. Dalam cinta itu ada maaf. Di dalam cinta bisa mengubah benci menjadi cinta. Ya, sesimpel itu," jawab Zaid.
"Maaf ya Mas, aku dulu nyebelin. Aku tahu, aku juga banyak bersalah," ucap Erina.
Zaid kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku maafkan, tapi ada syaratnya. Syaratnya seminggu ini temani aku olahraga malam. Mau?"
"Seminggu? Full?"
Zaid kemudian tertawa. "Full, mau? Termasuk pagi atau siang kalau Raka sekolah. Sudah lama, aku berpuasa, Yang. Ladangku kering kerontang," balas Zaid.
Erina memukul dada suaminya, gemas dengan suaminya itu. "Ish, kalau gitu pinter banget."
"Pria selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Jadi, mau yahh? Seminggu full saja. Setelahnya gak akan kok, menurut jadwal juga mau."
Terkesan gila, tapi memang Zaid menginginkan waktu seminggu ini bisa Zaid habiskan bersama dengan Erina. Pria itu beralibi bahwa sekarang ladangnya kering kerontang. Dia membutuhkan Erina untuk membuat ladangnya kembali subur. Sebab, hanya Erina saja yang bisa melakukannya.
"Ya ampun, Mas. Seminggu full, pasti tulangku copot semua. Yakin? Aku tadi aja udah lemes banget. Apalagi, lama enggak begituan."
Zaid tertawa mendengar pengakuan Erina. "Kangen kamu, Yang. Makasih, untuk memori indah malam pertama kita. Reka adegan lagi bagaimana dulu kita bercinta. Bedanya, dulu kita sama-sama menjadi yang pertama untuk satu sama lain, sekarang kan reka ulang adegan yang dulu aja," ucap Zaid.
"Hmm, iya Mas. Ya sudah, tidur ya Mas. Udah malam banget. Besok masih harus bangun pagi dan ke kedai teh," balas Erina.
Zaid tersenyum. Dia membawa Erina dalam pelukannya. Tidak ada lagi jarak. Tubuh pun saling memeluk erat. Ini adalah kehangatan yang sebenarnya. Udara dingin di luar pun, justru menciptakan kehangatan tersendiri di dalam ruangan kamar ini. Begitu syahdu. Bunga-bunga cinta juga kembali bermekaran. Indah, dan penuh pesona.