Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Rekonsiliasi Suami dan Istri


Siang itu, Bu Lia mengajak Raka menuju ke perusahaan Teh dan menyusul Opa Ramlan. Sehingga memang sekarang hanya ada Zaid dan Erina di rumah. Sementara udara dingin masih bisa mereka rasakan. Namun, pasangan itu masih duduk di dalam kamar Erina.


"Rin, kamu sudah lebih baik?" tanya Zaid perlahan.


Wanita itu tampak menganggukkan kepalanya, memang dia lebih baik. Hanya saja dia masih bingung untuk berbaikan dengan Zaid. Namun, setelah tahu semuanya memang Erina merasa malu. Seharusnya dia menyingkapi dengan lebih positif, tidak menerka-nerka seorang diri.


"Mas," panggil Erina dengan lirih.


Zaid terkejut. Sebab, usai perceraian mereka, hingga rujuk dan sampai sekarang ini tidak pernah Erina memanggilnya Mas. Yang ada justru Erina memanggilnya langsung dengan namanya.


"Mas, aku minta maaf," ucap Erina perlahan.


Zaid merasa terkejut. Tidak menyangka bahwa baru sehari semalam di Lembang, Erina sudah bisa meminta maaf kepadanya. Bahkan sekarang Erina beringsut dan duduk lebih mendekat ke sisi Zaid.


"Mas, aku tahu keretakan rumah tangga kita dulu sepenuhnya karena salahku. Aku yang terlalu gegabah dan salah menerka. Kemarin Bapak menceritakan semuanya kepadaku, jadi aku meminta maaf, Mas."


Tidak mudah untuk meminta maaf. Namun, Erina kali itu memang sudah berniat meminta maaf kepada Zaid. Dengan berurai air mata, dia mengakui salahnya. Memang terlambat, seolah dia membutuhkan keterangan penjelas dari Bapaknya. Namun, bukankah sering kali respons manusia juga hanya setelah melihat apa yang mereka lihat.


"Tidak perlu meminta maaf, Rin. Aku juga bersalah di sini. Aku kurang bisa berkomunikasi dengan baik kepadamu. Mengira untuk semua yang kulakukan kamu tidak perlu tahu, karena memang aku setia ke kamu, Rin. Aku tidak pernah bermain-main di luar sana. Namun, ternyata kurang komunikasi dalam berumahtangga juga salah, Rin. Maafkan aku juga," ucap Zaid.


Ini adalah bentuk rekonsiliasi dari dua pasangan. Terkadang memang rumah tangga bisa menghadapi masalah karena kurangnya komunikasi. Bukan hanya Erina yang meminta maaf. Akan tetapi, Zaid juga meminta maaf. Dalam kekacauan rumah tangga, selain karena Erina yang melibatkan Erick, tapi juga kurangnya komunikasi di antara keduanya.


"Erin, jadi apakah kamu mau menerima permintaanku? Menghapus semua syarat dalam kesepakatan rujuk kita?"


Zaid sedikit beringsut. Dia kemudian meraih tangan Erina dan menggenggamnya. "Erin, asalkan kamu tahu, bahwa aku selalu cinta kamu. Mungkin caraku untuk mengungkapkan cinta itu salah dan justru kadang tidak sampai kepadamu. Akan tetapi, perasanku ini tulus," ucap Zaid.


Di sana Erina masih menangis. Proses berbaik yang membuatnya terharu dan menyadari kesalahannya. Bahkan ketika Zaid sekarang mengatakan bahwa perasaannya untuk Erina begitu tulus. Erina merasa kian merasa bersalah jadinya.


"Maukah kamu memulai semua dari awal? Memperbaiki rumah tangga kita? Memperbaiki komunikasi di antara kita berdua?"


Sekali lagi, Zaid meminta dan dia mengharap kesediaan Erina untuk mau sama-sama memperbaiki. Letak kesalahan sebenarnya ada pada mereka berdua. Sehingga untuk memperbaiki juga harus ada komitmen dari keduanya.


Tidak menjawab, tapi Erina refleks masuk ke dalam pelukan Zaid. Wajahnya terbenam di dada bidang Zaid, dengan air mata yang tumpah ruah semuanya di dada Zaid. Maka, Zaid menghela nafas, memejamkan matanya, dan merengkuh tubuh Erina dengan begitu eratnya. Apa arti dari pelukan ini hanya mereka berdua yang tahu. Akan tetapi, Zaid merasa ini adalah puncak dari rekonsiliasi keduanya. Semoga Erina benar-benar bersedia memulai lagi dari awal.


"Erina," ucap Zaid dengan mempertahankan Erina dalam pelukannya.


Begitu juga dengan Erina yang benar-benar tidak menahan diri. Dalam air matanya, syarat dengan penyesalan sebagai seorang istri. Namun, pelukan hangat Zaid sangat Erina butuhkan sekarang.


"Maafkan aku, Mas," ucap Erina dengan terisak.


"Aku juga minta maaf," balas Zaid.


Bukan menghakimi satu sama lain. Namun, lebih memilih sama-sama meminta maaf. Andai, dulu mereka lebih bisa terbuka dan membangun komunikasi dengan lebih baik, rumah tangga mereka akan terselamatkan. Tidak perlu ada perceraian dan rujuk bersyarat.