Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Satu atau Dua Garis?


Siang harinya Zaid ke apotek. Sama seperti permintaan Erina bahwa istrinya itu juga ingin ikut dengannya ke apotek. Oleh karena itu, Zaid pun mengiyakan. Dia sama sekali tak keberatan, justru ada rasa senang juga karena Erina tak mau jauh-jauh darinya.


"Kamu butuh vitamin atau apa enggak, Sayang? Aku beliin sekalian," ucap Zaid kepada Erina.


"Enggak, Mas. Beli testpack dan gelas tampung urin saja, Mas," jawab Erina.


Zaid menganggukkan kepalanya. Jika memang Erina membutuhkan vitamin atau sebagainya, Zaid juga siap untuk membelikan Erina. Sama sekali tidak keberatan. Bagi Zaid, bisa membelikan istrinya adalah kebahagiaan untuknya.


Begitu tiba di apotek, Zaid segera meminta testpack dan gelas takar urin. Petugas apotek pun membawakan beberapa testpack dengan berbagai merek. Hingga Zaid bertanya kepada Erina.


"Kamu butuh berapa testpack, Sayang?" tanyanya.


"Satu aja, Mas. Satu cukup kok," balas Erina.


"Tidak dua? Yang satu untuk pembanding?" tanya Zaid lagi.


Akhirnya, Erina menggelengkan kepalanya. "Gak usah, kalau positif kan hasilnya juga bakalan tetap positif. Satu saja, Mas."


Menuruti apa yang Erina mau, akhirnya Zaid membeli testpack hanya satu, tapi yang dia beli cukup mahal. Testpack digital yang akan menghasilkan bunyi dan suara. Setelah itu rupanya Erina tertarik dengan beberapa barang yang ada di apotek.


"Mas, beliin aromatherapi ini yah? Jaga-jaga aja kalau mual," pintanya dengan menunjuk aromatherapi yang bisa dihirup, dioles, dan untuk kerokan sekaligus.


"Ambil lima juga boleh," balas Zaid.


Erina tersenyum perlahan. "Uhm, dua aja deh, Mas. Yang mint dan cytrus yah," pintanya sekarang.


"Boleh, ambil saja. Mau apa lagi?" tanya Zaid lagi.


"Vitamin C itu ya, Mas," pintanya.


Zaid menganggukkan kepala. Dia hanya tertawa dalam hati. Tadi di dalam mobil ketika ditawarin tidak mau, sekarang justru berbanding terbalik. Seolah banyak hal yang diinginkan Erina. Namun, Zaid tak keberatan. Toh, selama ini dia bekerja sangat keras juga untuk Erina dan Raka.


"Jadi banyak maunya ya, Mas," ucap Erina begitu sudah di depan kasir dan suaminya mulai membayar.


"Tidak apa-apa, Sayang. Semuanya aku belin," balas Zaid.


Usai dari apotek, kemudian mereka memilih untuk langsung pulang. Di rumah sudah ada Ibu dan Ayahnya Erina yang masih berada di sana. Memang atas permintaan Erina, Ayah Harja dan Bu Lia berada di Jakarta dulu untuk beberapa saat. "Sudah pulang?" tanya Bu Lia.


"Sudah, Bu ... dari apotek langsung pulang kok," balas Erina.


"Jangan lupa, esok pagi, begitu bangun terus dicek dulu. Setelah dapat kabar yang pasti dari kamu, siangnya Ayah dan Ibu pulang ke Lembang yah?"


Rupanya Bu Lia dan Ayah Harja menunggu sampai esok siang, supaya bisa mendengar kabar baik dari Erina. Sehingga, ketika sudah di Lembang juga tidak kepikiran dengan Erina. Walau sebagai seorang ibu, Bu Lia sudah sangat yakin bahwa Erina tengah hamil sekarang.


"Baik, Bu," balas Erina.


Erina merasa senang. Tentu esok hari, dia juga akan membagikan kabar kepada orang tuanya dan ibu mertuanya juga. Tidak akan menyembunyikannya.


Keesokan harinya ....


Zaid yang terbangun terlebih dahulu pagi itu, perlahan mulai membangunkan Erina yang masih bergelung di bawah selimut. Pria itu lagi-lagi tersenyum melihat Erina yang memegangi lengannya ketika tertidur, seakan tidak mau untuk berjauh-jauhan darinya.


"Sayangku ... bangun dulu, yuk. Sudah pagi, jadi melakukan test enggak?"


Suara Zaid mencoba membangunkan Erina, dia memberikan usapan di puncak kepala dan juga wajah Erina. Tersenyum perlahan ketika mengamati cantiknya wajah Erina ketika terlelap.


"Sayang ...."


Beberapa kali dibangunkan barulah, Erina terkesiap. Wanita itu membuka kelopak matanya perlahan-lahan dan kemudian menatap Zaid yang sudah terlebih dahulu bangun. "Hm, apa Mas?" tanyanya lirih dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Jadi, test enggak. Biar tahu di dalam sini ada junior atau enggak," balas Zaid dengan mengusap perut Erina perlahan.


Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan dia mengambil posisi duduk. Merapikan rambutnya hanya dengan jari-jari tangannya dan kemudian hendak menuju ke kamar mandi. Zaid menahan Erina sesaat dan memberikan test pack dan gelas tampung urin.


"Apa pun hasilnya tidak usah dipikirkan yah," ucap Zaid.


Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, apa pun hasilnya nanti kamu selalu cinta aku kan, Mas?" tanyanya.


Zaid mengambil satu langkah, dan memeluk Erina untuk sesaat. Pria itu memeluk Erina dan menganggukkan kepalanya. "Itu adalah rumus yang absolute. Aku akan selalu cinta kamu," jawab Zaid.


"Baiklah, aku tidak perlu takut. Aku ke kamar mandi dulu ya, Mas," pamit Erina sekarang.


Akhirnya, di dalam kamar mandi Erina segera melakukan uji reaksi kimia. Dia memasukkan benda pipih itu ke dalam gelas takar dan mengamati pergerakannya sesaat. Lantaran testpacknya bagus dan digital, tidak perlu menunggu sekian menit. Kurang satu dari detik, hasilnya juga sudah didapatkan Erina.


Begitu hasil sudah didapatkan, Erina membuang gelas takar ke dalam tempat sampah. Kemudian dia mencuci test pack itu terlebih dahulu. Tidak menangis, Erina justru tersenyum ketika membuka pintu kamar mandi. Padahal Zaid yang menunggu di luar saja, begitu khawatir.


"Sudah Sayang?" tanya Zaid.


"Sudah," balas Erina yang lagi-lagi justru tersenyum.


"Hasilnya apa?" tanya Zaid lagi.


Erina kemudian memeluk Zaid. Tanpa isakan tangis dan derai air mata. Hingga akhirnya, wanita itu berjinjit sesaat dan membisikkan sesuatu kepada Zaid tepat di telinganya.


"I am pregnant."


Ah, betapa senangnya Zaid. Kecurigaan Ibu mertuanya dan juga dirinya kemarin ternyata terbukti. Sakitnya Erina secara tiba-tiba ternyata bukan karena sakit karena penyakit tertentu, melainkan karena ada kehidupan baru yang sekarang bersemi di dalam rahimnya.


"I am so happy, Sayang!"


Zaid merengkuh tubuh Erina dan memeluknya dengan sangat erat. Begitu senang karena dia akan memiliki baby. Raka juga akan memiliki adik. Kali ini, Zaid sangat senang dan dia berjanji akan selalu menjaga Erina, tidak akan melakukan kesalahannya yang dulu.