Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Promosi Novel: Pembalasan Istri yang Tersakiti 2


"Bagaimana pun Daddy tidak setuju kalau kamu menikah dengan pemuda itu, Alana!"


Suara bentakan terdengar di meja makan, membuat Alana Devina bergidik takut mendengar bentakan Daddynya siang itu. Putri seorang Taipan, orang kaya raya yang tinggal di Singapura. Sementara, Daddynya David Gelael tidak menyetujui niat hati putri tunggalnya yang hendak menikahi kekasihnya yang bernama Davin.


"Dad, tapi Lana mencintainya. Lana mencintai Davin. Lana yakin bahwa Davin akan mencintai Alana dengan tulus, dia mencintai Alana bukan dari apa yang Alana miliki," katanya.


"Omong kosong, Lana! Tidak ada pria seperti itu. Yang ada Davin hanya mengincar harta Daddy saja," balas Daddy David dengan amarah yang masih berapi-api.


Sebagai putri tunggal dan sebelumnya tidak pernah mendengar bentakan dari Daddynya, Alana meneteskan air matanya. Sedih, takut, dan kecewa, itulah gambaran perasaannya sekarang. Biasanya Daddynya selalu memberikan apa yang dia inginkan, tapi sekarang ketika Alana merasa menemukan pria yang cocok, pria yang berhasil membuat harinya menjadi berbunga-bunga, tapi Daddynya justru menentangnya.


"Daddy ...."


Mulailah Alana terisak dengan meneteskan air matanya. Berharap Daddynya bisa melihat air mata dan kesedihannya hingga ada restu dari Daddy untuk rencananya bersamanya dengan Davin. Alana merasa jika ada kebahagiaan yang bisa dia rasakan sekarang itu hanyalah hidup bersama dengan Davin saja.


"Sekali Daddy bilang tidak, tetap tidak Alana! Kamu menangis sampai air matanya menjadi danau pun, Daddy tidak akan merestuinya!"


Di satu sisi Daddy David tetap pada pendiriannya. Pria berusia kepala lima itu memilih menyeka mulutnya dengan selembar sapu tangan, kemudian beranjak meninggalkan meja makan. Dengan kepergian Daddynya, tangisan Alana kian menjadi-jadi. Baru kali ini, ketika Alana menginginkan sesuatu dan Daddynya tidak mengabulkannya.


Gadis cantik itu menangis terisak-isak meninggalkan meja makan dan menuju ke anak tangga masuk ke dalam kamarnya. Hingga akhirnya, Alana menangis dengan memegangi dadanya. Beberapa saat berlalu, gadis itu pun mengambil koper di lemarinya. Dengan pikiran yang semrawut, gadis itu memasukkan baju-baju ke dalam kopernya.


"Kalau Daddy tidak bisa menerima Davin, aku sebaiknya yang pergi, Dad. Aku akan menemukan kebahagiaan di luar rumah kita ini. Aku yakin akan bahagia bersama pria pilihanku," kata Alana lirih dengan terisak-isak.


Hari itu menjadi hari terakhir Alana berada di Mansion Daddynya. Sang putri kaya raya yang rela meninggalkan semuanya. Dia merasakan ada kebahagiaan lain yang bisa Davin berikan. Walau harga yang Alana bayar sangat mahal yaitu meninggalkan mansion keluarga, dan hidup tanpa fasilitas mewah yang selama ini diberikan oleh Daddynya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Lima Tahun Berlalu ....


"Hubby, kamu ingat kan ... besok hari apa?"


Tanya seorang wanita yang berparas cantik. Dia menatap wajah suaminya, membelainya perlahan, dengan matanya yang berbinar, dia menanyakan hari spesial apakah yang terjadi esok hari.


"Beberapa hari ini pekerjaan di hotel begitu banyak, Baby. I am so sorry. Ada apa esok hari?" tanya pria itu.


Helaan napas yang berat terdengar diembuskan oleh wanita cantik itu. Walau begitu, wanita cantik yang tak lain adalah Alana mencoba bersabar dan memahami suaminya.


"By, besok anniversary pernikahan kita ke lima. Masak hari penting dalam hidup kita, kamu melupakannya sih," balasnya.


Davin, pria itu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Astaga, aku sampai tidak ingat anniversary kita. Sorry, Sayang ... kamu ingin hadiah apa untuk anniversary kita besok?" tanya Davin dengan membelai perlahan sisi wajah Alana.


Ada gelengan kepala samar dari Alana, dia bawa perlahan satu tangan Davin yang kini tengah membelai sisi wajahnya. "Aku tidak meminta apa pun, By. Aku bahagia hidup bersamamu. Hanya saja, putri kita ... Ayudisha, dia menginginkan makan malam dengan Mama dan Papanya. Bisakah besok kamu menyempatkan waktu, By?"


Davin terdiam, sebagai seorang Papa, Davin juga ingat mungkin sudah beberapa bulan yang lalu dia baru mengajak jalan-jalan putri semata wayangnya. Sekarang, Alana mencoba mengatakan keinginan Disha kecil yang ingin makan bersama dengan Papanya. Keinginan sederhana dari seorang anak kecil.


"Hm, aku masih belum tahu besok akan pulang bekerja. Begini saja ... kamu dan Disha ke restoran terbaik di negeri ini saja, Sayang. Biarkan Disha memilih mau makan di restoran mana, besok aku akan menyusul kalian berdua," balas Davin.


"Baiklah, usahakan besok datang. Jangan membuatnya menunggu lagi, By."


"Aku akan berusaha, Sayang. Kamu juga tahu sendiri, aku bekerja sangat keras sampai tidak pernah mengambil cuti liburan supaya bisa membahagiakan kamu dan Disha," balas Davin.


Ya, lima tahun lalu walau tanpa restu dari Daddy David, keduanya tetap melangsungkan pernikahan di kantor kedutaan besar Indonesia yang berada di negeri singa. Tidak ada pernikahan mewah, walau begitu pernikahan keduanya tetap dicatatkan secara sipil. Lantaran Davin berwarganegara Indonesia, sementara Alana berwarganegara Singapura, sehingga administrasi pernikahan harusnya dicatatkan melalui kantor kedutaan besar.


Hilangnya semua fasilitas mewah yang Alana miliki, nyatanya tak menyurutkan Davin untuk tetap meminang Alana. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Davin juga bekerja sangat keras untuk memberikan penghidupan dan ekonomi yang layak untuk Alana dan Ayudisha, putri kecilnya.


Alana datang kepada Davin benar-benar sebagai seorang putri yang meninggalkan semuanya. Tidak ada lagi kemewahan yang Alana miliki. Semua Alana tinggalkan karena cintanya yang begitu besar untuk Davin Mahendra.


"Aku tahu itu, By. Terima kasih dalam lima tahun ini, kamu sudah bekerja dengan sangat keras. Aku sangat bangga padamu, By. Hanya saja, besok tolong sempatkan waktu untuk Disha, dia membutuhkan waktu untuk bonding dengan Papanya juga," balas Alana.


Bonding adalah menjalin keterikatan antara hati, biasanya dilakukan orang tua dengan anak-anaknya hingga terjadi ikatan emosional. Bonding antara orang tua dan anak sangatlah penting agar anak merasa dirinya aman, nyaman, mendapat dukungan, dan diakui keberadaannya oleh orang tuanya sendiri. Sekarang, Alana mengatakan semua itu karena memang sangat minim waktu bonding antara Davin dan Disha semua tentu karena Davin yang sangat sibuk bekerja.


"Iya, iya ... sampaikan kepada Disha esok yah. Aku akan usahakan datang," balas Davin.


"Ingat, dan jangan terlambat. Aku bisa menunggumu, By, tapi ... kasihan Disha kalau dia menunggu terlalu lama."


Walau tanpa kemewahan, walau jauh dari keluarga dan seolah membangun hidupnya sendiri, Alana selalu mengatakan pada dirinya bahwa memiliki Davin dan Disha adalah sesuatu yang amat sangat baik dalam hidupnya. Kebahagiaan ini nyata, walau banyak yang dia tinggalkan dalam hidupnya. Akankah esok hari, Disha juga bahagia karena bisa menikmati makan malam dengan Mama dan Papanya?


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Halo seluruh pembaca setia,


Bagaimana kabarnya? Author kembali menyapa dengan karya baru nih yang berjudul Pembalasan Istri yang Tersakiti 2. Mengisahkan rumah tangga Alana dan Davin yang goyah lantaran kehadiran pihak ketiga. Akan tetapi, kisahnya semata pelik karena kehadiran putri semata wayang mereka. Andai membalas, Alana berkomitmen tak ingin membuat Ayudisha, putrinya bersedih.



Cerita itu terbit setiap hari yah. Dukung, berikan like dan komentar di setiap Bab-nya yah. πŸ₯°


Love U All,


Kirana🧑