
Setelah seminggu berada di Rumah Sakit, kali ini Raka sudah diperbolehkan untuk pulang. Akan tetapi, Dokter Sonny masih menyarankan kepada Zaid untuk membawa Raka melakukan terapi minggu depan. Selain itu, Dokter Sonny pun justru makin terlihat akrab dengan Zaid, dan tak segan untuk memberikan saran kepada Zaid.
"Tolong dijaga baik-baik Raka nya ya Pak ... pastikan dia tidak mengalami guncangan emosi yang bisa semakin memperburuk kondisinya. Amnesia retrograde bisa disembuhkan. Jangan khawatir. Asalkan Pak Zaid rutin mengikuti terapi okupasi, terapi kognitif, dan juga pemberian vitamin untuk mencega kerusakan otak yang lebih parah," jelas Dokter Sonny.
"Jadi, berapa kali Raka harus mengikuti terapi, Dokter?" tanya Zaid yang tengah melakukan konsultasi dengan Dokter Sonny.
"Tergantung seberapa besar progress-nya. Pak Zaid tentu tahu dengan yang namanya proses bukan? Begitu juga untuk penyembuhannya. Pelan-pelan tak Zaid, butuh waktu untuk menghubungkan sinapsis di dalam otaknya," jelas Dokter Sonny.
Zaid pun perlahan tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Baiklah Dokter Sonny ... terima kasih banyak untuk semua advicenya," balas Zaid di sana.
Sungguh, dia akan mengingat setiap pesan dari Dokter Sonny terutama untuk mencegah terjadinya guncangan emosi pada Raka. Walau sebenarnya hal ini pun rasanya begitu sulit. Akan tetapi, Zaid akan berusaha untuk melakukannya.
"Pa, Mama mana Pa?"
Raka rupanya bertanya kepada Papanya di mana Mamanya sekarang. Sebab, dalam beberapa hari yang tersisa, Erina juga tidak sering mengunjungi Raka. Praktis dalam satu minggu, Zaid lah yang fulltime menjaga Raka di Rumah Sakit.
"Nanti Papa akan menghubungi Mama yah ... semoga Mama akan segera datang," balas Zaid di sana.
Raka pun menganggukkan kepalanya, dia pulang dengan tangan kirinya yang masih digendong karena masih terasa sakit dengan bahunya yang dipasangi pen. Walau sadar bahwa dia sangat merindukan Mamanya, tetapi Raka juga tidak ingin menangis histeris yang akan membuat kepalanya terasa begitu sakit.
Mengikuti instruksi dari Papanya, Raka pun segera masuk ke dalam mobil. Dia memilih duduk di depan, di samping Papanya. Hanya berdua dengan Papanya saja membuat Raka berpikir bahwa ada yang berbeda dengan Papa dan Mamanya. Namun, dia tidak tahu, lebih tepatnya tidak mengingat dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Beberapa puluhan menit berkendara hingga sampailah mereka di rumah mewah Zaid. Begitu memasuki rumah yang Raka lihat sekarang adalah foto keluarganya dan ada foto pernikahan Papa dan Mamanya. Namun, kali ini ingatannya merekam ada yang berbeda dengan foto yang biasanya menghiasi dinding rumahnya.
"Papa, di situ kan ada foto pernikahan Papa dan Mama. Kok sekarang fotonya tidak ada sih Pa?" tanya Raka kepada Papanya.
Semula Zaid memilih diam karena dia menerka sekarang bahwa ingatan Raka yang hilang mungkin saja tentang perceraiannya dengan Erina. Terbukti, secara kognitif Raka masih bisa mengingat bahwa di dinding itu sebelumnya ada foto pernikahannya dengan Erina.
"Nanti Papa akan pasang lagi ya Zaid ... kemarin Papa minta tolong diturunkan untuk dibersihkan debunya," balas Zaid kemudian.
Jujur saja, Zaid ingin memberitahukan kenyataan lagi bahwa dia dan Erina sudah berpisah. Akan tetapi, Zaid mengingat dengan pesan dari Dokter Sonny bahwa dia harus menjaga supaya Raka tidak terguncang secara emosi. Untuk itu, alibi inilah yang diambil oleh Zaid.
"Iya Papa ... Raka mau masuk ke kamar, Pa," ucapnya.
Zaid pun memanggil Tini dan memberikan kopernya. Sementara Zaid menggendong Raka dan membawanya untuk masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. Terlihat Raka berpegangan di leher Papanya dengan satu tangannya.
Ya Tuhan, jika Raka sudah bertanya mengenai Mamanya. Agaknya Zaid tidak bisa memberikan jawaban. Berbohong itu dosa, tapi jika berbicara fakta yang pasti Raka akan terpukul dan terguncang hingga akhirnya kepalanya terasa sakit dan pusing. Zaid pun harus mencari jawaban yang tepat untuk bisa disampaikan kepada Raka.
"Nanti kalau Mama datang, Raka tanya langsung saja yah sama Mama," balas Zaid.
Perlahan Raka pun menganggukkan kepalanya, "Iya Pa ... kapan-kapan Raka akan bertanya kepada Mama," balasnya.
Usai memasuki kamar Raka, Zaid tampak bertanya lagi kepada anaknya itu, "Kamu butuh apa Raka? Papa suapin yah ... Mbok Tini hari ini masak Sup Ayam kesukaan kamu," ucap Zaid.
"Iya Pa," balas Raka.
Zaid pun memilih turun sendiri ke bawah dan menyiapkan makan untuk Raka. Di dapur pun ketika Mbok Tini menawarkan untuk membantu, Zaid menolaknya karena memang untuk Raka, Zaid ingin melakukannya sendiri. Setelahnya dia kembali masuk ke dalam kamar Raka.
"Waktunya makan," teriak Zaid dengan berusaha untuk tersenyum dan mengambil satu sendok berisi nasi dan juga sup itu untuk Raka.
Raka pun menerima suapan pertama dari Papanya itu, mengunyahknya perlahan dan menerimanya. Hingga akhirnya Raka pun berbicara kepada Papanya.
"Pa, suapan Papa tidak seenak suapan Mama."
Deg!
Mendengar apa yang baru saja Raka sampaikan seolah mengingatkan Zaid kepada peristiwa di hari pertama usai perceraiannya dengan Erina. Kala itu, Raka juga mengatakan bahwa suapannya tidak seenak suapan Mamanya. Zaid menghela nafas dan memandang Raka di sana.
"Makan dulu yah ... supaya Raka cepat sehat. Raka mau kan untuk cepat sehat?" tanyanya.
"Mau Pa ... juga tangannya enggak digendong begini," balas Raka lagi.
"Iya, benar Nak ... sekarang buka mulutnya, makan dulu yah. Nanti obat dan vitamin dari Dokter diminum lagi ya Nak," balas Zaid.
Raka memilih menurut dan tidak melakukan protes sama sekali. Walau banyak pertanyaan di benaknya sekarang. Akan tetapi, Raka memilih memakan makanannya terlebih dahulu. Sebab, Raka takut jika dia memaksakan diri untuk berpikir, yang ada Raka justru akan kembali sakit kepala.
Sementara untuk Zaid sendiri, lebih baik menjaga Raka di rumah, daripada di rumah sakit. Kendati demikian, Zaid tetap berharap Raka bisa pulih, ingatannya juga bisa pulih, sehingga dia tidak harus mencari-cari alibi untuk menjawab pertanyaan Raka. Sebab, tidak bisa memberikan jawaban secara tepat dan jujur kepada Raka juga sangat melukai hati dan perasaan Zaid sebagai seorang Papa.