
Mendengar semua yang Bapaknya ceritakan. Erina merasa malu pada dirinya sendiri. Dia pikir bahwa Zaid yang kala itu terlampau sibuk karena lupa dengan dirinya. Rupanya, Zaid sibuk untuk mengembangkan bisnis Bapaknya yang nyaris kolaps.
"Kenapa kamu terkejut, Rin?" tanya Bapaknya kemudian.
Semua itu juga karena Erina terkejut dengan cerita dari Bapaknya. Dia benar-benar tidak tahu. Selain itu, Zaid juga tidak pernah bercerita dengannya.
"Mas Zaid tidak pernah bercerita sama sekali, Pak," balasnya.
"Tidak apa-apa. Zaid itu orang yang baik, Rin. Bahkan dia yang meminta Bapak untuk tidak memberitahu kamu. Namun, kamu harus tahu dan meneladani sikap baik suamimu."
"Kenapa Mas Zaid tidak ingin Erin kepikiran, Pak?" tanya Erina lagi.
"Kamu tidak tahu, Zaid sangat cinta sama kamu. Dia tidak ingin membuatmu sedih. Kalau kamu mendengarkan bisnis keluarga kolaps, pastilah kamu akan sedih, insomnia, dan tidak ceria. Zaid tidak ingin kamu mengalami semua itu. Oleh karena itu, dia yang rela memberikan treatment khusus untuk Bapak dan karyawan. Perusahaan keluarga boleh turun-temurun, tapi terobosan dalam bisnis itulah yang harus dilakukan."
Setidaknya itu adalah hal penting yang Zaid sampaikan. Sebab, dengan terobosan baru itulah, bisnis bisa terus relevan dengan perkembangan zaman. Jika, tidak ada Zaid, sudah pasti perusahaan teh milik Pak Raplan bisa benar-benar gulung tikar.
"Lagipula, bukankah ada pepatah mengatakan bahwa ketika tangan kananmu memberi, jangan biarkan tangan kirimu mengetahuinya?"
Erina menganggukkan kepalanya. Rupanya, Zaid adalah seorang yang mempraktikkan itu. Melakukan kebaikan untuk orang lain tidak perlu diceritakan. Di dalam hal ini, rasanya Zaid begitu mirip dengan Bapaknya. Tidak harus memberitahu orang-orang untuk bantuan dan kebaikan yang pernah dia berikan.
"Kamu beruntung memiliki suami seperti Zaid. Dia adalah pria yang bertanggung jawab. Memikirkan kamu, bahkan dia selalu berusaha supaya kamu tidak bersedih. Di mana sekarang bisa mendapatkan suami seperti Zaid?"
Sekarang, Erina baru sepenuhnya sadar. Dari dulu memang suaminya bekerja keras karena untuk dirinya dan Raka. Bentuk tanggung jawab seorang suami.
"Benar, Pak," jawab Erina dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, sudah malam. Sana istirahat. Selalu beri kabar untuk suami kamu."
Usai mengatakan semua itu, Pak Raplan kemudian meninggalkan ruang keluarga. Sementara, Erina menuju ke lantai dua, ke kamarnya. Menikmati kamar tanpa AC yang sudah dingin karena udara di Lembang memang begitu dingin. Hingga sebelum tidur, dia melihat handphone terlebih dahulu. Rupanya ada puluhan chat dari Erick.
Sekarang, Erina memilih untuk mengabaikannya. Tidak akan memberikan celah untuk Erick lagi. Agaknya, hati Erina lebih mantap setelah mendengarkan cerita dari Bapaknya. Bahkan, ada penyesalan di hati Erina karena Zaid yang ternyata begitu baik dan membantu perusahaan Bapaknya.
Wanita itu, kini merebahkan dirinya di tempat tidurnya dan berpikir. Bagaimana nanti ketika dia bertemu dengan Zaid. Dia sudah salah terka dengan Zaid dulu. Itu yang memicu Erina mengambil jalan untuk bercerai.
***
Keesokan harinya ...
Hari yang berkabut dengan awan yang turun sehingga mengakibatkan hujan. Lembang yang dingin dan juga lembab. Erina pun bangun dengan melihat jam di handphonenya.
Akhirnya Erina memilih mandi dengan air hangat terlebih dahulu, kemudian dia mulai turun ke bawah, membantu ibunya untuk menyiapkan sarapan. Kopi yang seduh dengan air yang mendidih menghasilkan aroma yang begitu harum. Aroma kopi yang selalu menjadi kesukaan Zaid di pagi hari karena dulu, Erina selalu menyeduhkan kopi untuk Zaid. Dia teringat akan suaminya.
"Mau diaduk berapa kali lagi, Rin?" tanya Bu Lia dengan tertawa.
Pagi-pagi rupanya anaknya sudah seperti orang linglung. Sampai adukan kopi di cangkir keramik itu terdengar berkali-kali.
"Eh, Bu ... maaf, Erina ingat Raka," balasnya.
"Kalau sudah menjadi ibu memang begitu, Rin. Baru semalam berpisah sudah kangen anak," jawab Bu Lisa.
Hingga akhirnya pagi itu dilalui dengan sarapan bersama. Setelahnya, Erina memilih duduk di depan rumah. Menikmati udara segar dan juga suasana tenang di kota Lembang. Hingga dari jauh, bisa Erina lihat mobil berwarna hitam yang tidak asing. Mobil itu berhenti di depan rumahnya, kemudian ada seorang anak yang turun dari sana.
"Mama, Raka datang, Ma ...."
Rupanya Raka yang datang bersama dengan Zaid. Erina tersenyum. Wanita itu segera membuka tangannya dan memeluk Raka.
"Datang kok enggak memberi kabar sih, Raka? Hmm, Mama kangen kamu," balasnya.
Raka kemudian tersenyum. "Pa, sini ... katanya kangen Mama. Ayo, dipeluk dong Mamanya," ucap Raka.
Zaid yang diam akhirnya berjalan ke arah Erina. Dia turut memeluk Erina dan Raka. Sebenarnya, Zaid juga rindu. Baru sehari semalam Erina di Lembang, tapi rasanya sudah begitu lama.
"We are family," ucap Raka.
Mendengar suara dari luar, akhirnya Bu Lia keluar rumah dan mendapati menantu dan cucunya yang datang.
"Loh, Nak Zaid dan Raka sudah kemari?" tanya Bu Lia.
"Assalamu'alaikum, Ibu. Iya, Raka sudah kangen Mamanya," balas Zaid.
Bu Lia tersenyum perlahan. "Cuma Raka yang kangen? Papanya Raka enggak kangen?"
Mendengar pertanyaan dari ibu mertua sendiri, Zaid tersenyum. "Ya, kangen juga, Bu," balas Zaid pada akhirnya.
Tak dipungkiri ada rasa rindu pada diri Zaid. Rindu dengan Erina. Dorongan itulah yang membuatnya memilih pergi ke Lembang sepagi mungkin. Ingin bertemu Erina. Walau Zaid masih yakin, Erina belum berubah dan masih dingin kepadanya.