Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Raka Kembali ke Sekolah


Satu bulan berlalu, usai kecelakaan yang membuat Raka mengidap amnesia retrograde hingga bahunya patah. Bahkan pemeriksaan dan terapi juga dilakukan. Sampai pada batas Dokter Sonny mengatakan bahwa kondisi Raka sudah begitu baik.


"Raka sudah baik Pak Zaid. Kondisi mentalnya juga kian stabil. Pak Zaid dan istri tinggal menjaga Raka saja, dan berdoa ingatan Raka akan kembali pulih," ucap Dokter Sonny.


"Ketika Raka sudah menemukan kembali ingatannya, reaksi apa yang ditunjukkan Dokter?" tanya Zaid sekarang kepada Dokter Sonny.


"Awalnya bisa seperti sakit kepala itu, Pak. Jangan khawatir. Sebab, itu hanya sesaat. Ibarat kata, seperti terjadi putus aliran listrik, sehingga menghasilkan percikan. Begitu juga ingatan manusia," jelas Dokter Sonny.


Zaid pun mendengarkan dengan baik-baik penjelasan dari Dokter Sonny. Hingga akhirnya, Zaid menanyakan satu hal kepada sang Dokter. "Dokter, kalau Raka ingin kembali ke sekolah apakah memungkinkan?" tanyanya.


"Ya, tentu saja bisa Pak Zaid. Justru bagus kalau Raka kembali ke sekolah. Kemampuan sosialnya bisa terus diasah," balas Dokter Sonny.


Advice yang diberikan oleh Dokter Sonny justru mendukung Raka untuk kembali ke sekolah. Setidaknya dengan berteman dan menerima tugas dari Guru, kegiatan Raka jauh lebih bervariasi. Sementara jika hanya berada di rumah, justru Raka bisa jenuh dan terkadang hanya terfokus dengan Mama dan Papanya saja. Oleh sebab itu, Dokter Sonny justru mendukung bila Raka kembali masuk ke sekolah.


"Baiklah, Dokter ... saya juga berencana untuk memasukkan Raka ke sekolah lagi. Sebenarnya, saya merencanakan untuk home scholling saja untuk Raka. Akan tetapi, Raka menolaknya. Dia lebih suka sekolah formal, bisa bertemu dengan teman-temannya lagi," balas Zaid.


"Biasanya sih begitu Pak Zaid. Anak yang sudah terbiasa sekolah formal, akan menolak home scholling. Itu semua karena anak sudah merasa nyaman dengan sekolah umum," jelas Dokter Sonny lagi.


Sesi terapi dan konsultasi Raka untuk hari ini berakhir. Akan tetapi, masih ada vitamin yang harus diminum oleh Raka. Selain itu Dokter Sonny pun berharap bahwa Raka akan segera pulih dan bisa menemukan kembali ingatannya.


***


Satu minggu kemudian ....


Zaid benar-benar kembali menyekolahkan Raka. Seragamnya yang lama, Zaid buang karena ada bercak darah di sana. Semua seragam untuk Raka dibelikan yang baru. Bahkan hari ini, seolah menjadi hari pertama Raka kembali ke sekolah.


"Raka beneran sekolah kan Pa?" tanya Raka kepada Papanya.


"Iya, hari sekolah Raka ... Papa akan mengantar kamu dan nanti menjemput kamu waktu pulang yah," ucap Zaid.


"Iya Sayang ... hari ini Mama bekerja. Sukses untuk sekolahnya Raka yah," ucap Erina di sana.


Raka kecil pun kembali menganggukkan kepalanya. "Hmm, iya Mama ... nanti malam jangan pulang terlalu malam ya Ma. Ajarin Raka mengerjakan PR," ucap Raka.


"Apa hari pertama masuk sudah ada PR?" tanya Erina perlahan.


"Iya, ada ... kan dulu ada PR mewarnai atau menebalkan huruf, Ma," balas Raka.


Rasanya memang begitu aneh, tetapi kemampuan kognitif Raka sama sekali tidak menurun. Hanya beberapa ingatannya saja yang hilang, secara khusus perceraian kedua orang tuanya.


Hingga setelah sarapan, Raka pun diantar oleh Zaid menuju ke sekolah. Sementara Erina juga berangkat ke butiknya. Zaid hanya berusaha menikmati masa-masa di mana masa kecil Raka tidak akan kembali. Biarlah bekerja dari rumah, tapi bisnisnya masih bisa terus berjalan.


"Nanti tidak usah lari-larian ya Raka. Ingat bahu Raka kan usai sakit. Bermain yang aman saja," ucap Zaid yang seolah memberikan nasihat kepada putranya itu.


"Iya Papa ... Raka main di kelas saja nanti sama Miss-nya," balasnya.


Zaid pun tersenyum. "Oke ... begitu juga baik adanya. Daripada kamu berlari-larian. Bermain sih boleh, nunggu agak sepi yah. Usahakan tidak terjadi benturan," balas Zaid lagi.


"Siap Papa, Raka pasti akan selalu ingat nasihatnya Papa," balasnya.


Begitu sudah tiba di sekolah, Zaid menggandeng tangan Raka, menyerahkan putranya itu kepada guru-guru yang ada di sana. Juga, Zaid meminta ketika bermain memang Raka perlu sedikit diawasi terkait luka di bahunya.


"Selamat kembali ke sekolah, putranya Papa ... belajar yang rajin yah. Papa akan jemput nanti," ucap Zaid dengan memeluk putranya itu.


"Thanks Papa," balas Raka.


Bisa mewujudkan keinginan Raka untuk kembali ke sekolah membuat Zaid merasa lega. Semoga saja Raka bisa belajar dan bermain dengan teman-temannya. Tidak terlalu bosan di rumah juga.