Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Memberi Penegasan


Selang beberapa hari setelahnya, Zaid mengantarkan Erina lagi ke butik. Jika di beberapa kesempatan, Erina memilih pulang siang dan ikut menjemput Raka. Kali ini, karena Mela juga datang, sehingga Erina tetap akan pulang sore seperti biasanya.


"Pulang jam berapa nanti, Sayang?" tanya Zaid.


"Jam 16.00 seperti biasanya, Mas ... jemput aku dan jangan telat yah," balas Erina.


"Pasti ... nanti aku jemput tepat waktu. Mana pernah suamimu ini telat menjemput," balas Zaid dengan tersenyum cerah.


Sekarang ketika hubungan sudah menjadi lebih baik. Tidak ada lagi wajah masam. Yang ada justru senyuman cerah di wajah Zaid dan Erina. Zaid melirik Erina sesaat dan menunjuk bagian lehernya Erina.


"Leher kamu masih merah tuh, Sayang," ucap Zaid.


"Ulah kamu sih, Mas ... hobi banget sih bikin gigitan kayak gini," balas Erina dengan manyun.


Akan tetapi, Zaid justru tertawa. "Tanda cinta kok, Yang. Makin hot aja bawaannya," balas Zaid.


Akhirnya, Erina mengambil syal dari handbagnya dan memasangkannya di lehernya. Sekadar untuk menutupi tanda merah di lehernya. Setelahnya Erina pun berpamitan dengan Zaid. Serta mengingatkan supaya nanti Zaid tidak terlambat kala menjemputnya.


Begitu tiba di butik, Erina mulai bekerja. Sembari menunggu meeting nanti dengan Mela. Menyelesaikan semua pekerjaannya terlebih dahulu, setelahnya menjelang siang barulah Mela datang. Kali ini Mela tidak sendirian, tapi dengan Erick.


"Kita rapat sekarang, Rin," ajak Mela sekarang.


Erina menganggukkan kepalanya. Dia mengikuti Mela menuju ruang rapat. Ada Erick yang sejak tadi mengamati Erina, seakan ada yang hilang sejak Erina benar-benar menerima Zaid kembali. Dulu, komunikasi di antara keduanya begitu intens dan akrab, tapi sekarang tidak lagi.


"Ada saran untuk season jelang Ramadhan ini?" tanya Mela kemudian.


"Mengedepankan unsur warna hijau, menurutku masih relevan. Dengan sedikit ornamen dengan tema gold," balas Erina.


Akan tetapi, Erick dengan cepat menyanggah pendapat Erina. "Ide darimu terlalu kuno, Rin. Seharusnya kamu melihat pangsa pasar dan desain sekarang. Ramadhan tidak harus dengan warna hijau. Terlalu kuno," balas Erick.


"Kadang orang bisa berbeda selera, La. Toh, ide dari Erina itu sudah kuno," balas Erick dengan terdengar begitu pedas.


"Masalah pribadi gak usah dibawa-bawa, Rick," balas Erina sekarang.


Menurut Erina, sikap Erick sekarang sangat tidak profesional. Ucapan pedas sekarang pastilah karena Erina yang pada akhirnya memilih untuk kembali ke pelukan Zaid. Memberikan kesempatan kedua untuk suaminya lagi.


"Kalian ini sebenarnya kenapa sih? Biasanya akrab banget, karib banget. Sekarang malahan kayak gini," tanya Mela yang merasa bahwa apa yang dia lihat sekarang justru hubungan Erick dan Erina yang tidak lagi akrab.


Padahal biasanya Erick dan Erina begitu akrab. Ide mereka berdua selalu kompak. Namun, sekarang yang terjadi justru sebaliknya.


"Tanya saja sama Erina," balas Erick dengan kesal.


Sementara Erina juga jengah dengan sikap Erick yang menurutnya tidak profesional. "Kalau tidak suka ideku, lakukan saja yang bener menurut kamu, Rick."


"Gak gitu juga, Rin. Kan kita kerja sama. Menyamakan ide dan pendapat. Bukan jalan sendiri-sendiri," ucap Mela berusaha untuk menengahi.


"Sekarang, gue tanya deh, Rin. Sejak balikan sama suami loe itu. Loe keliatan kehabisan ide. Ide loe selalu gak segar. Itu tandanya dia memberi pengaruh buruk," tuding Erick sekarang.


Mela kemudian menatap Erina. Wajah Erina pun tampak kesal. "Rick, menurut gue mau balik atau gimana pun, itu keputusan Erin deh. Kita orang luar di rumah tangganya. Tidak seharusnya berbicara demikian," balas Mela.


"Fakta kok. Buktinya di ruangan kerja aja, dia ***-*** sama suaminya. Gak bermoral," tuding Erick lagi.


Mela sampai melirik kepada Erick. Hingga akhirnya Erina benar-benar kesal jadinya. "Please, Rick. Tolong ... tidak usah ikut campur masalah rumah tanggaku. Aku memberikan kesempatan kedua untuk Zaid karena aku memiliki alasan tersendiri. Aku pun bersalah dalam masalahku dengan Zaid. Namun, dia tak pernah menyalahkan aku. So, hargai keputusanku dan Zaid. Kami akan memberikan kesempatan kedua untuk pernikahan kami. Memberikan kasih sayang yang penuh untuk Raka."


Erina hanya ingin mempertegas hubungan. Kacaunya rumah tangganya dulu juga karena salahnya. Oleh karena itu, Erina juga ingin memperbaiki kesalahan, memberikan kesempatan kedua untuk pernikahan dan rumah tangganya lagi.