
Erina tertegun di sana karena Raka mengatakan bahwa dia tidak menyukai Om Erick. Dulu, Erina kira bahwa Raka akan menyukai Erick karena sewaktu Raka kecil beberapa kali mereka sempat bertemu. Namun, sekarang Raka mengatakan hal yang sebaliknya.
"Kenapa Raka?" tanya Erina.
"Om Erick suka sama Mama ya Ma? Om Erick juga tidak kelihatan suka sama Papa," balasnya.
Percayalah bahwa ini bukanlah ajaran dari Zaid, melainkan seorang anak kecil pun bisa melakukan pengamatan. Sekarang, Raka akhirnya bisa mengatakan semuanya kepada Mamanya. Dia hanya mengatakan berdasarkan dengan apa yang dia lihat.
"Sudah, Raka ... kita pulang enggak?"
Zaid pun menengahi karena tidak ingin Erina terdesak di sana. Lagipula, bagaimana pun Erina, nyatanya Erina adalah istrinya. Untuk isi hati Raka kepada Erina sebaiknya memang Raka saja yang mengungkapkannya.
"Raka cuma bicara aja sama Mama kok, Pa," balas Raka.
"Iya, Mama juga sudah pasti mendengarkan kok. Iya kan Ma?" tanya Zaid.
Di sana Erina merasa tertegun, tidak mengira bahwa Zaid akan menengahi pembicaraan antara dirinya dan juga Raka. Hingga Erina akhirnya menganggukkan kepalanya. "Iya, Mama mendengarkan Raka sekarang kok," balasnya.
Hingga akhirnya, Zaid mengajak Erina dan Raka untuk pulang bersama. Sebab, jika terus berbicara pastilah urusan menjadi panjang. Oleh karena itu, mengajak Erina dan Raka untuk pulang bersama.
"Ma, besok Mama libur kan?" tanya Raka kemudian.
"Iya, besok Mama libur. Ada apa, Raka?"
"Anterin sekolah ya, Ma. Ditungguin bisa. Pulang sekolah, Raka mau main sama Sean ke playground, Ma," balas Raka.
Rupanya Raka sudah ada janji dengan Sean ingin main di Playground bersama. Untuk itu, dia ingin ditemani oleh Mamanya dulu besok.
"Mau main Playground di mana?" tanya Erina.
"Di taman dekat sekolah kok, Ma. Enggak jauh-jauh," balasnya.
Erina pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, besok Mama akan anterin Raka bermain yah."
***
Keesokan Harinya ....
Erina menepati janjinya untuk mengantarkan Raka bermain di Playground. Itu juga karena ada sebuah taman di dekat sekolah dan di sana ada beberapa mainan. Sekarang, Erina menunggui Raka yang bermain di sana.
"Raka, pelan-pelan yah ... jangan lari, Nak," ucap Erina memperingatkan Raka.
"Rin, sendirian? Di mana suami kamu?" tanyanya.
"Rick, kok kamu bisa di sini sih?" tanya Erina dengan menunjukkan wajah kebingungan.
Erick kemudian mengambil tempat duduk di dekat Erina. "Aku tadi lewat sini, mau ke toko tekstile. Terus aku melihat mobil kamu ada di sana. Jadinya, aku putar balik. Ternyata benar, ada kamu di sini," balas Erick.
"Oh, makanya itu. Padahal enggak ada yang tahu, aku di sini," balas Erina.
Raka yang sedang fokus bermain pun menyadari ada kehadiran Erick di sana. Kemudian dia berlari ke arah Mamanya.
"Ma, kita pulang saja yuk, Ma?" ajak Raka kemudian.
Erina tampak mengernyitkan keningnya. "Kan Raka masih main. Tuh, Sean manggil Raka tuh," balas Erina.
"Raka mau pulang, Ma ... sebentar Raka pamit kepada Sean dulu," balasnya.
Raka benar-benar berpamitan dengan Sean, kemudian dia kembali berlari ke arah Mamanya. "Ayo, Ma, pulang," ajaknya.
Erina menghela nafas panjang dan melirik ke arah Erick. "Sorry, Rick ... Raka sudah ngajakin pulang. Jadi, aku pulang dulu ya, Rick."
Sebenarnya Erina juga merasa tidak enak. Sebab, baru saja Erick berada di sana dan kemudian Raka sudah mengajaknya pulang. Erick pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, Rin ... hati-hati yah. Aku melanjutkan perjalanan dulu," ucapnya.
Pria itu berlalu pergi dan kemudian melirik Raka dengan tatapan tidak suka. Sementara setelah Erick pergi, Raka menatap Mamanya.
"Mama, kan Raka sudah bilang kalau Raka gak suka sama Om Erick," protesnya sekarang.
"Kan cuma ketemu di sini enggak sengaja, Raka," balas Erina.
"Papa aja tidak pernah bertemu cewek lain loh, Ma," balas Raka kemudian.
"Benarkah, emangnya Raka tahu?" tanya Erina.
Dengan cepat Raka pun menganggukkan kepalanya. "Iya, kok ... Raka tahu kalau Papa tidak pernah bertemu cewek lain. Papa kan sayang Mama," balasnya.
Ini adalah isi hati seorang anak. Seseorang yang dinilai kecil, tapi sebenarnya seorang anak kecil adalah seorang penilai yang sangat objektif. Dia bahkan bisa merasakan ketulusan seseorang dengan hatinya. Berbekal semua itulah, Raka berkata dia tidak suka dengan Om Erick.