
Erina benar-benar bahagia dengan kejutan yang baru saja diberikan suaminya kepadanya. Tentu semua itu adalah wujud cinta dan kasih sayang dari suaminya. Wujud perhatiannya Zaid kepada Erina.
Di sini, Erina pun melihat bahwa mungkin dengan cara seperti ini jugalah Zaid membantu Ayahnya untuk bangkit dari keterpurukan dari bisnisnya. Terlihat jelas ketulusan seorang Zaid. Ada kalanya jika sudah begini, rasanya Erina menjadi malu kepada dirinya karena dulu dia pernah menyakiti Zaid dan bertindak begitu keras kepala.
"Aku dulu menyakiti kamu dan membuat perpisahan dalam rumah tangga kita. Namun, kamu masih begitu baik kepadamu, Mas," ucap Erina dengan menatap lekat wajah Zaid.
"Kan aku sudah berbicara bahwa cinta bisa memaafkan dan memberikan pengampunan, Sayang. Semua itu karena aku tulus mencintaimu. Aku juga tahu letak salahku dulu, maaf juga yah. Di kesempatan kedua ini semoga kita bisa berbuat lebih baik lagi. Tidak ada lagi perpisahan seusai semua ini," balas Zaid.
Sungguh, Zaid selalu berharap pernikahannya dengan Erina adalah satu kali untuk selamanya. Tidak ingin rumah tangganya putus lagi di tengah jalan. Membesarkan Raka, bahkan jika bisa juga memberikan seorang adik untuk Raka. Itu pun kalau Erina berkenan. Bagaimana pun, Zaid tidak ingin memaksakan kehendaknya.
"Aku mulai menempati minggu depan boleh? Besok aku akan membuat open rekruitmen karyawan ya Mas?" tanya Erina sekarang kepada Zaid.
"Silakan saja, Sayang. Sebagai orderan pertama, tolong buatkan seragam baru untuk karyawanku," ucap Zaid.
Wah, sekarang Erina benar-benar tidak menyangka karena suaminya bahkan melakukan order perdana untuk membuatkan seragam baru untuk karyawannya. Tentu Erina senang. Namun, juga malu karena suaminya melimpahinya dengan kebaikan.
"Seriusan, Mas? aku belum pernah melayani partai besar. Mas Zai percaya kepadaku?" tanya Erina lagi.
Dengan cepat Zaid pun menganggukkan kepalanya. "Ya, aku percaya. Pilihkan warna yang cerah yah. Nanti desainnya akan aku berikan. Sekalian aku ingin rebranding kafeku," balas Zaid.
"Baik, Mas. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan Mas," balas Erina.
Hingga akhirnya, Erina menghambur dan memeluk Zaid. Rasanya Erina sangat bersyukur. Tidak hanya dibelikan Ruko sebagai tempat butik ya, tapi Zaid juga mengorder seragam baru untuk karyawannya. Walau yang memesan suami sendiri, Erina akan mengerjakannya dengan baik dan berusaha tidak akan mengecewakan suaminya.
"Kita jemput Raka yuk?" ajak Zaid kemudian.
"Iya, makasih banyak ya, Mas," balas Erina lagi.
Zaid menganggukkan kepala, kemudian dia menggandeng tangan Erina keluar bersama dari Zarina Butik. Mengunci kembali tempat itu, dan kuncinya Zaid berikan kepada Erina.
"Simpan baik-baik," ucap Zaid.
"Tentu, Mas," balas Erina.
Baru beberapa langkah, ada seorang wanita cantik yang menyapa Zaid. Tentu saja membuat Erina juga bingung siapa yang memanggil suaminya itu.
"Zai ...."
Suara yang lembut dari seorang wanita yang berparas begitu cantik. Gaya dan penampilannya yang modis, terlihat jelas bahwa wanita itu pastilah dari kelas atas.
"Hei, Sara ...."
Rupanya wanita cantik itu adalah Sara. Dalam masa lalu Zaid, Sara adalah wanita yang pernah mencuri hati Zaid. Bertemu ketika keduanya sama-sama melakukan kursus di Kopi Lab. Hingga beberapa tahun berlalu, Zaid membantu Sara untuk mengembangkan coffee shop yang diberi nama oleh Sara dengan nama Coffee Bay.
Walau Sara kala itu sudah menikah dan memiliki seorang bayi, Zaid benar-benar tulus mencintai Sara. Namun, beberapa tahun berlalu, Sara memilih kembali dengan suaminya. Zaid pun harus rela dan ikhlas menjadi sad boy. Melepaskan Sara dengan ikhlas untuk kembali kepada suaminya, Belva Agastya.
Usai itu, Zaid memilih menjomblo beberapa tahun lamanya. Sampai akhirnya, orang tuanya menjodohkannya dengan Erina. Kini, Zaid dipertemukan lagi dengan Sara, wanita yang di masa lalu dicintainya.
"Zai, kamu dari sini?" tanya Sara dengan menatap Zaid.
"Iya, abis dari ruko ini. Oh, iya, Sara ... kenalkan Sara, dia istriku Erina," ucap Zaid.
"Wah, akhirnya saya bisa bertemu dengan istrinya, Zaid ... salam kenal. Dulu, saya temannya Zaid sejak di Kopi Lab, sampai membuka coffee shop di Bogor," sapa Sara memperkenalkan diri.
"Salam kenal juga Bu Sara," balas Erina.
"Panggil saya, Sara saja ... mungkin usia kita tidak selisih jauh," balas Sara.
Erina pun akhirnya memanggil Sara hanya dengan namanya saja. Tidak mengenal wanita cantik dan modis itu adalah sosok yang ramah. Semula, Erina pikir Sara adalah sosok yang tidak begitu ramah.
"Tumben sendiri, Ra? Di mana nih pawangnya?" tanya Zaid.
Baru saja Zaid bertanya demikian, ada Coffee shop yang tidak jauh dari Zarina Butik, keluarlah suami Sara. Yang disebut Zaid sebagai pawangnya Sara itu. Ya, Belva Agastya sudah pasti selalu ada bersama-sama dengan Sara. Di berbagai kesempatan jika bisa bersama, pastilah keduanya akan bersama-sama.
"Wah, ternyata ini pawangnya," ucap Zaid dengan tertawa.
"Bro, ketemu kita," sapa Belva dengan melakukan salam dengan saling tos, dan memberikan pelukan kepada Zaid.
"Sehat, Bro?" tanya Zaid.
"Alhamdulillah ... sehat," balas Zaid.
"Kamu keterlaluan, Bro ... katanya teman, tapi kamu menikah dan tidak memberikan kabar," balas Belva.
"Sorry, pernikahanku dengan Erina waktu itu dilakukan secara sederhana. Hanya dua keluarga," balas Zaid.
Sampai akhirnya dua pasangan itu saling bertemu. Zaid dan Erina juga kaget karena kedai kopi yang berada dekat Zarina Butik itu adalah milik Sara. Sangat kebetulan bukan?
"Kalau haus selama bekerja boleh lah, jajan kopi di sini," canda Sara.
"Siap, pasti," balas Erina.
"Desainer juga ya Erin? Kapan-kapan bisa dong didesainkan uniform untuk karyawanku," ucap Sara.
Wah, Erina seolah mendapatkan durian runtuh. Butiknya belum dimulai, tapi sudah ada dua orderan yang dalam jumlah besar untuk Erina. Sungguh, dia tidak menyangka.
"Yakin?" tanya Erina.
"Iya, aku sungguh-sungguh. Minta nomor whatsapp-nya yah. Nanti bisa saling konsultasi," balas Sara.
"Beri harga yang mahal, Sayang ... uang suaminya tidak akan habis," balas Zaid.
Belva dan Sara pun terkekeh perlahan. "Harta manusia sejatinya hanya titipan Tuhan, Zai. Kamu juga sudah tahu itu. So, semua ini hanya titipan. Jadi, selama bisa bekerja ya harus kerja keras. Semoga semua lelah kita menjadi lilah," balas Belva.
"Kamu benar, Pak Belva ... dan tidak pernah berubah. Beruntungnya Sara memilikimu," balas Zaid.
"Erina juga beruntung memiliki kamu. Pria yang baik," balas Belva.
"Benar, kamu orang yang baik, Zai," imbuh Sara.
Sekarang Erina yang menganggukkan kepala. Ya, dia beruntung memiliki Zaid sebagai suaminya. Terlebih orang-orang lain menilai Zaid adalah pria yang baik. Itu sangat benar, Erina bisa merasakan sendiri sekarang kebaikan hati Zaid.