
Setelah dua hari berlalu, sekarang Erina berpamitan kepada Zaid dan juga Raka untuk pergi bekerja. Memang setelah bercerai dengan Zaid, Erina berpikir adalah saatnya dia kembali dunia kerja. Toh, juga ketika bercerai dengan Zaid, Erina juga tidak meminta harta gono-gini, bahkan Erina juga tidak meminta hak asuh Raka. Padahal, Erina berhak mendapatkan hak asuh Raka, karena saat itu Raka masih berusia di bawah 17 tahun sehingga hak asuhnya akan jatuh kepada Mama. Akan tetapi, Erina menyerahkan hak asuh Raka kepada suaminya, Zaid.
Namun, setelah rujuk. Erina menyertakan syarat bahwa memang dia ingin tetap bekerja. Tidak mau hanya berada di rumah. Toh, bekerja pun hanya tiga hari dalam sepekan. Zaid pun juga telah menyanggupi bahwa Erina bisa bekerja.
"Raka, hari ini Mama akan bekerja yah ... mungkin Mama akan pulang malam," pamitnya.
"Mama bekerja di mana Ma?" tanya Raka dengan menunjukkan wajahnya yang heran.
Ya, itu semua karena selama ini sisa kenangan yang Raka ingat adalah Mamanya ada di rumah, dan Papanya yang bekerja. Akan tetapi, sekarang justru Mamanya yang hendak bekerja. Sementara, Papanya berada di rumah.
"Mama bekerja di Butik, Raka. Hanya saja, hari ini pekerjaan Mama lebih banyak karena beberapa hari yang lalu, Mama tidak bekerja," ucapnya.
Raka pun mencoba untuk menganggukkan kepalanya. "Baiklah Ma ... yang penting Mama pulang," balas Raka kemudian.
Berusaha untuk menenangkan Raka, Zaid pun segera merangkul putranya itu. "Nanti sama Papa dulu yah. Kan Papa sekarang selalu di rumah untuk bisa mengasuh kamu. Jangan khawatir," ucap Zaid.
"Iya Papa ... yang penting Mama nanti pulang ke rumah kita kok," balasnya.
Akhirnya usai sarapan, Erina berpamitan kepada Raka dan juga Zaid tentunya. "Mama berangkat bekerja dulu ya Raka ... baik-baik di rumah yah. Nanti mau Mama bawain apa sebagai oleh-oleh?" tanya Erina.
"Tidak usah, Ma ... Mama pulang saja, Raka sudah senang kok," balas Raka.
Erina pun memulai hari ini dengan bekerja. Toh, dia juga menyalurkan passionnya, tentunya malam nanti dia akan pulang dan bertemu dengan Raka lagi. Seperti komitmennya untuk bisa tetap bekerja ketika sudah rujuk dengan Zaid.
"Aku berangkat bekerja dulu," pamit Erina kemudian kepada Zaid,
"Iya, hati-hati," balasnya.
Usai Mamanya berangkat bekerja, Raka menghabiskan waktu dengan Papanya. Kali ini Raka kembali bertanya, kapan dia bisa ke sekolah lagi.
"Kapan Pa, Raka bisa sekolah?" tanyanya.
"Raka mau sekolah?" tanya Zaid.
Jujur saja, Zaid merasa Raka masih butuh waktu istirahat. Patah tulang di bahunya, memang sudah dilepas, tinggal menyisakan perban dengan bentuk perekat di sana. Akan tetapi, Zaid berpikiran mungkin lebih baik Raka sekolah di rumah atau Homescholling.
"Sekolah dari rumah saja mau tidak, Raka?" tanya Zaid perlahan.
"Tidak, sekolahnya Raka dulu aja, Pa," balasnya.
"Raka masih ingat sekolahnya Raka dulu?" tanya Zaid.
"Masih Pa ... sama seperti yang lain kan Raka ingat. Apa ada yang Raka tidak ingat Pa?" tanya Raka kemudian.
Sebenarnya Zaid ingin menjawab, tetapi takut jika itu akan mengguncang emosi Raka. Sehingga Zaid menggelengkan kepalanya. "Tidak, yang penting Raka cepat sembuh yah," balas Zaid kemudian.
"Pa, memangnya Mama dulu bekerja ya Pa? Kenapa Raka ingatnya Mama itu selalu berada di rumah," tanyanya yang memang tampak berpikir sekarang.
"Mama kamu baru-baru ini mulai bekerja kok, Raka," jawab Zaid.
"Kenapa Raka ingatnya begitu ya Pa? Justru Raka ingatnya Papa sering ke luar kota untuk ke luar kota," balasnya lagi.
Kali ini Zaid hanya tersenyum. Memang memori yang tersisa di dalam otak Raka sifatnya masih begitu random. Namun, Zaid berharap bahwa putranya itu perlahan-lahan akan mengingat semuanya.