
Agaknya sekarang Zaid benar-benar tidak akan menahan. Toh, Erina juga sudah memberi akses kepadanya. Namun, sebagai pria sejati, Zaid tetap meminta izin terlebih dahulu kepada Erina. Tidak akan serta merta melakukan semuanya begitu saja.
"Dingin, Mas," balas Erina.
"Itulah gunanya berbagi kehangat," balas Zaid.
"Kalau Raka terbangun?" tanya Erina lagi.
Dengan cepat Zaid menggelengkan kepalanya. "Tidak akan," balasnya.
Masih dalam posisi duduk dan bersandar di headboard. Kemudian, Zaid memangkas jaraknya, membelai sisi wajah Erina sesaat. Masih bisa Zaid ingat, lima tahun yang lalu, dia dan Erina mereguk manisnya malam pertama di dalam kamar ini. Seakan ingin mengulang nostalgia manis itu.
"Boleh, Sayang?"
Sebuah pertanyaan singkat yang Zaid. Di hadapannya, Erina mengerjap. Sementara mata Zaid justru kian menyipit. Bisa Zaid lihat sekarang bagaimana dada wanita itu naik turun dengan begitu kentara dalam upaya untuk menekan gelisah di dalam dada.
Tidak ada jawaban. Namun, Zaid kian mendekat, membawa kedua tangan Erina untuk melingkar di lehernya, lantas dia mendekat, menyapa bibir Erina yang merah muda merekah dengan bibirnya sendiri.
Berbulan-bulan lebih tidak tersentuh kebutuhan biologisnya, sekarang sekadar mencium bibir Erina saja, tubuh Zaid membara dengan sendirinya.
Perlahan-lahan, Zaid mencium bibir Erina, menyapanya dengan ujung lidahnya, dan juga melu-mat bibir Erina. Sangat manis. Sangat hangat. Sampai-sampai, Zaid seolah menghisap nektar penuh sari bunga sekarang.
Di kala Zaid kian menekan dengan bibirnya untuk mencium Erina, di sana bisa Zaid rasakan remasan tangan Erina di helai rambutnya. Gerakan Erina ini menjadi bukti nyata bahwa istrinya itu juga tersulut. Lantaran atmosfer sudah sama-sama mendukung, maka Zaid memilih untuk melanjutkan semuanya. Menuntaskan semuanya.
"Erina ...."
Suara serak, parau, dan nafas. Zaid benar-benar tersulut dalam memori yang indah kala itu. Tidak bisa berhenti. Yang ada justru ingin menuntaskan semuanya. Bukan sekadar berlari dari start, tapi Zaid pastikan akan sampai pada garis finis.
Zaid menggeram. Dia memagut bibir Erina dalam tekanan yang penuh penuntutan sekarang. Bahkan kini Zaid menelengkan wajahnya ke satu sisi. Dia mendapatkan posisi yang tepat untuk melu-mat bibir Erina. Dia kecup bibir bawahnya. Tidak membutuhkan waktu lama, dalam beberapa detik saja, gairah Erina memercik seketika.
"Mas Zai ...."
Suara itu lolos juga dari bibir Erina. Tidak dipungkiri sekadar ciuman yang Zaid berikan saja membuat Erina meremang, terhuyung laksana dia usai menegak arak. Seakan mabuk.
"Kamu juga menginginkannya kan, Sayang?"
Satu pertanyaan kembali Zaid ucapkan. Kali ini, Zaid amat sangat yakin, ketika Erina memanggil namanya. Bagi Zaid itu sudah menjadi sebuah isyarat yang sangat nyata.
Tak ingin menyerah, Zaid bahkan kini dengan sengaja melepaskan kancing demi kancing di piyama yang Erina kenakan. Ada helaan nafas yang tertahan mana kala setiap kancing berhasil keluar dari sarangnya. Pun mata Zaid yang memperhatikan Erina, sengaja membuka mata untuk melihat wajah Erina yang merona.
Lantas Zaid membawa Erina mendarat di pangkuannya, pria itu membenamkan kepalanya di dada Erina. Masih bisa Zaid hirup aroma parfum vanilla yang sangat lembut itu.
Bulatan indah yang terpampang nyata. Zaid menggeram. Jujur saja, hanya dengan Erina saja Zaid bisa begini. Tubuhnya bergerak otomatis siap memberikan usapan dan hisapan dengan mulut dan bibirnya. Sembari satu tangan yang akan mempermainkan bulatan indah yang lain.
"Oh, Sayang ...."
Zaid menggigit puncak bulatan indah itu, menarik dengan giginya, hingga Erina menahan nafas, dan barulah dia melepaskannya. Ya Tuhan, ini sangat indah. Benar-benar rendezvous ke masa lima tahun yang lalu.
Semakin bergerak, Zaid menyusupkan tangannya ke area lembah di sana. Terasa basah.
"Kamu sudah siap, Sayang."
Maka, tidak ada yang perlu Zaid tunggu lagi. Dia kemudian melepaskan asal sisa-sisa busana di tubuh mereka. Dia memberikan sapaan terlebih dahulu, invansi di area lembah. Melihat geliat tubuh Erina, dengan bibir yang dikatupkan, mata yang terpejam rapat, dan juga wajahnya yang memerah.
"Oh, Mas Za ... i."
Erina mende-sah. Dia melayang. Perbuatan Zaid atasnya benar-benar membuatnya hilang kendali. Di detik yang sama, Erina merasakan tubuhnya menegang dan kemudian dia merasakan pelepasannya. Sangat puas. Hingga Erina menutup mulutnya sendiri, takut jika suaranya sampai mengganggu anggota keluarga yang lain.
Kini, Zaid mengambil posisi tepat di tengah-tengah Erina. Dia menyatukan dirinya. Hentakan pinggulnya perlahan. Bisa Zaid rasakan sambutan yang ....
Hangat.
Erat.
Basah.
Sangat memabukkan. Hampir setengah tahun tidak merasakan sensasi bercinta seperti ini. Sekarang tidak ada yang Zaid tunda. Dia menghentak dalam gerakan maju dan mundur. Tusuk-menusuk. Laju hentakan tak terkira. Zaid melayang.
Selalu nikmat ketika menyatukan diri dengan Erina seperti ini. Semoga saja, dengan mengulang memori lama, cinta dan hubungan di antara keduanya semakin erat. Zaid tersenyum dalam hati, melihat respons alamiah Erina sekarang. Mata kian terpejam, kedua tangannya meremas bagian bantal yang dia tempati. Tanpa daya. Luluh dalam percintaan bersama dengan Zaid.
Namun, lantaran lama tidak tersapa kebutuhan biologisnya. Zaid sudah merasakan dirinya hampir sampai.
Pun Erina yang sampai berkali-kali menutup mulutnya sendiri. Terkadang dia juga meremas punggung Zaid. Mungkin saja, kuku-kukunya mengenai punggung Zaid di sana. Bahkan Erina menggelengkan.
"Mas ... aku ... lemas."
Erina merasa dibatas dia memang lemas. Mungkin juga sudah lama tidak berhubungan seperti ini. Hingga, sudah merasa lemas, tak berdaya. Zaid mengangguk. Dia hanya berusaha menahan lebih lama. Hingga akhirnya hentakan Zaid kian dalam. Beberapa detik kemudian pria itu benar-benar rubuh. Memeluk Erina dengan erat.
"Aku selalu cinta kamu, Erina ... selalu cinta kamu."
Zaid menutup malam penuh memori dengan pengakuan bahwa dia akan selalu mencintai Erina. Tidak pernah Zaid membenci Erina. Namun, selalu ada cinta di hati Zaid untuk Erina.