Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Ingin Diantar Mama ke Sekolah


Hari pertama masuk sekolah membuat Raka begitu excited. Dia bisa kembali belajar dan bertemu dengan teman-temannya. Walau tidak semua nama temannya dia hafal karena memang Raka kehilangan ingatannya. Hanya ada satu teman yang dia ingat namanya, itu juga karena hubungan keduanya yang akrab. Dia adalah Sean, yang adalah teman baik Raka.


"Kamu sakit ya, Ka?" tanya Sean kepada Raka.


"Iya, jatuh," balas Raka. Bahkan anak kecil polos itu menunjukkan bagian bahunya dengan bekas jahitan di sana, tanda memang dirinya terjatuh dan mendapatkan beberapa jahitan di sana.


"Pasti sakit ya Ka ... sampai kayak gitu," ucap Sean dengan meringis di sana. Rasanya melihat bekas sayatan dan jahitan membuat Sean merasa ngeri. Tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya bahu Raka kala itu.


"Ya dulu sih sakit, Sean ... tapi sekarang enggak lagi kok. Mamaku juga ada di rumah, Sean," cerita Raka kemudian kepada Sean.


"Wah, selamat yah. Terus tadi antar Mama?" tanya Sean.


Dengan cepat Raka pun menggelengkan kepalanya. "Enggak ... Mamaku bekerja. Jadi, aku diantar Papa," balas Raka.


"Kenapa yang bekerja tidak Papamu, Ka? Di rumahku yang bekerja itu Papaku loh ... Mama di rumah mengurus aku," balas Sean.


Mendengar apa yang Sean ucapkan, Raka kemudian terdiam. Ya, biasanya di keluarga lain atau di film-film kartun yang dia lihat Papa lah yang bekerja. Sementara sekarang di rumahnya, justru Mamanya yang bekerja.


"Kan kamu diurus Babysitter, Sean?" tanya Raka.


"Iya, tapi kan Mama selalu di rumah, Raka. Tidak bekerja," balas Sean lagi. Memang begitulah di rumah Sean, ada babysitter yang turut mengasuhnya dan satu adiknya di rumah. Akan tetapi, Mamanya sendiri selalu berada di rumah. Tidak bekerja. Sebagaimana kebiasaan yang terjadi bahwa seorang Papalah yang bekerja, dan Mama kebanyakan berada di rumah untuk mengasuh anaknya.


"Bye Raka ... Mamaku sudah menjemput. Besok sekolah lagi yah," pamit Sean dengan melambaikan tangannya kepada Raka.


"Bye Sean," balas Raka.


Sampai sesaat kemudian Papanya datang untuk menjemput, dan Zaid langsung melambaikan tangannya kepada putranya. "Hei Raka ... gimana sekolahnya hari ini?" tanya Papa Zaid.


"Seru, Pa ... Papa, kenapa teman-temannya Raka yang menjemput Mamanya, sementara Raka dijemput Papa?" tanyanya.


"Itu karena Mama bekerja, Raka," balas Papa Zaid.


"Di rumah temenku yang bekerja Papanya loh Pa, bukan Mamanya," balas Raka lagi.


Papa Zaid sedikit berlutut di depan Raka, dan berkata kepada putranya. "Mama bekerja cuma tiga hari dalam satu minggu. Besok Mama libur, Raka coba minta tolong Mama untuk mengantar Raka ke sekolah yah?"


"Iya, Pa ... kalau Mama mau," balasnya.


"Nanti Papa bantuin Raka untuk bicara sama Mama," balas Papa Zaid. Walau sebenarnya tidak yakin, tapi Papa Zaid tidak ingin meruntuhkan harapan Raka. Semoga saja besok Erina mau untuk mengantar Raka ke sekolah.


Raka pun bisa menerima penjelasan Papanya itu. Sembari berharap bahwa besok Mamanya mau mengantarkan dia sekolah. Dia juga ingin memiliki pengalaman seperti temannya yang sekolah diantar dan dijemput Mamanya. Semoga saja apa yang Raka inginkan bisa diwujudkan oleh Mamanya.