Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Membiarkan Terjadi


Cukup lama Zaid menunggu Erina bekerja. Tidak terasa sekarang waktu sudah menunjukkan jam 10.00 Waktu Indonesia Barat. Merasa waktu semakin berjalan, maka Zaid segera mengambil langkah. Setidaknya bertindak terlebih dahulu, risiko bisa belakangan. Andai Erina memintanya berhenti pastilah Zaid akan berhenti.


Sekarang, Zaid berjalan ke kursi kerja Erina. Dia tanpa banyak berbicara mulai mengecup leher Erina. Meninggalkan jejak-jejak basah di sana. Erina yang sekarang fokus dengan tabletnya pun seketika menjadi tidak fokus.


Wanita itu mengedikkan bahu, merasa gelisah dengan bibir dan lidah Zaid yang menyusuri lehernya. Bahkan Zaid membawa untaian rambut Erina ke satu sisi, agar dia bisa kian mengeksplorasi leher jenjang Erina yang begitu harum dengan aroma vanilla.


"Mas Zaid," panggil Erina kepada suaminya dengan menggigit bibirnya sendiri.


"Hm, kamu fokus bekerja saja," balas Zaid.


Sebenarnya tadi Zaid sudah menyusun itu di kepalanya. Hingga ketika Erina sangat sibuk dan fokus dengan pekerjaannya, Zaid mengunci terlebih dahulu ruangan kerja Erina. Sekarang, Zaid sangat yakin bisa melakukan apa yang dia bayangkan barusan.


"Hh, bagaimana aku bisa fokus bekerja, jika ...."


Menyelesaikan ucapannya saja, Erina tidak bisa semua itu karena tangan Zaid yang bergerak nakal dan kemudian meraba area dadanya perlahan-lahan. Membuat tubuh Erina bak tersengat arus listrik sekarang. Benar-benar tak bisa bekerja dengan baik, jika godaannya seperti ini.


Sekarang bisa Zaid dengarkan bagaimana Erina mende-sah. Itu berarti tindakannya sudah benar. Erina masuk dalam atmosfer yang dia ciptakan. Hingga akhirnya, Erina mematikan tabletnya, dan Zaid kemudian mengangkat pinggul Erina, mendudukkan Erina di meja kerjanya.


Berhadap-hadapan, kini posisi Zaid dan Erina menjadi lebih enak. Lantas, tidak ada lagi yang Zaid tunggu selain menundukkan wajahnya, dengan tangannya mencapit dagu Erina, dan mulai mengecup perlahan bibir Erina yang merekah merah muda itu. Ah, Zaid seketika limbung. Bibir Erina begitu lembut, kenyal, dan manis. Sangat manis, sampai Zaid ingin menghisap semua nektar madu yang bersembunyi di rongga mulut Erina.


Tanpa banyak berbicara, Zaid melepaskan satu demi satu kancing di kemeja Erina. Membuat Zaid bisa melihat bagian depan tubuh istrinya yang putih bersih. Sembulan dada yang ranum. Tidak disangka rupanya Erina melakukan hal yang sama. Dia melepaskan kemeja suaminya. Melepaskan kaos yang dikenakan Zaid, membuat suaminya itu tampil shirtless.


Telapak tangan Erina yang halus pun meraba bagian dada Zaid. Merasa dadanya. Mengusap dengan gerakan samar di bulatan cokelat di dada suaminya. Zaid memejamkan mata. Sudah bisa dipastikan bahwa mata Zaid berselimut kabut sekarang. Sama halnya dengan Erina. Namun, ketika gayung bersambut, maka tak ada lagi yang Zaid tunda.


Dengan pelan, tapi pasti tangan Zaid menyelinap meraba paha bagian dalam milik Erina. Satu tindakan yang membuat Erina meremang. Pun dengan meremas di area dada Erina.


Ini adalah hal tergila yang keduanya lakukan. Bukan di rumah atau hotel, melainkan di kantor. Desakan gairah yang seakan sudah sampai di ubun-ubun membuat mereka membiarkan saja semuanya terjadi.


Sekarang, Zaid mengeluarkan bulatan indah milik Erina dari wajahnya, pria itu menunduk dan mulai memasukkan bulatan indah itu ke dalam mulutnya. Menciumnya, menghisapnya, bahkan ada tarikan dengan gigi yang membuat Erina melenguh jadinya.


"Mas ... Zai ...."


Seketika tubuh Erina meremang. Bulu romanya berdiri dengan sendirinya. Hingga Zaid mengulangi berkali-kali tindakannya. Mengulumnya, menghisapnya, dan memberikan gigitan. Benar-benar bahagianya Zaid bisa melakukan semua ini.


"Ya, Sayang ... enak?"


Tak ada jawaban, tetapi Erina membenamkan wajah Zaid di dadanya. Bahkan refleks, dia membawa satu tangan Zaid untuk menangkup satu bulatan indah yang lain. Zaid langsung tahu apa yang Erina inginkan, maka dia segera meremasnya dengan gerakan memutar, dan memilin ujungnya.


Erina nyaris menjerit, sehingga Zaid segera menutup mulut Erina dengan tangannya. "Jangan keras-keras, Yang ... kita di kantor," ucap Zaid mengingatkan.


Barulah Erina ingat bahwa sekarang, mereka ada di kantor. Erina menutup mulutnya sendiri dengan tangannya ketika dirinya merasakan gila dan terbang. Terutama ketika Zaid menurunkan segitiga berendanya. Bahkan sekarang, pria itu berlutut di hadapannya dan memberikan sapaan hangat di bibir cawan surgawinya. Ada usapan berpadu dengan tusukan yang membuat Erina melenguh dan meringkik berkali-kali.


"Nikmat, Mas ... enak ....!"


Pinggul Erina pun bergerak kacau mengikuti ritme yang diciptakan Zaid sekarang. Sementara ketika Erina telah mengalami pelepasannya, Zaid tetap memberikan sapaan di sana, bak tidak memberi ampun kepada Erina.


Hingga akhirnya, Zaid menurunkan celananya. Membiarkannya teronggak nyaris di mata kaki. Lantas dia menarik pinggul Erina, dan mulai menyatukan diri. Erina masih terduduk di meja, sementara Zaid berdiri.


"Nikmat, Yang ... kamu selalu nikmat. Kamu selalu membuatku gila," ucap Zaid.


Dengan posisi seperti ini tidak menjadi kendala bagi Zaid untuk memasuki Erina. Begitu mulus, bahkan terdengar suara benturan di sana. Sangat indah. Sangat panas. Bahkan sekarang, Zaid sudah begitu berpeluh.


"Iya, Mas ... nikmat. Iya!"


Erina juga mengakui bahwa semuanya ini sangat indah. Sekarang, Erina mengakui suaminya yang hebat dan perkasa. Begitu mudahnya membuatnya terbang dan membumbung tinggi di awan. Hingga Zaid menambah tenaga dan ritmenya.


"Sampai, Yang ... astaga!"


Sekarang, keduanya sama-sama meledak. Laksana kembang api. Sayangnya bunga-bunga api itu berhamburan di siang hari, ketika matahari bersinar begitu terik. Sehingga ledakan warnanya tak bisa Zaid dan Erina lihat.


"I Love U," ucap Zaid dengan memeluk erat tubuh Erina.


"I ... Love ... U, too!"


Erina juga membalas dengan terengah-engah. Tidak mengira keduanya bisa menggila bersama. Tidak mengira ruangan pribadi Erina bisa menjadi tempat panas dengan atmosfer yang tentunya turut memanas.


"Santai dulu, tenang dulu. Habis ini kita mandi," ucap Zaid kemudian.


"Iya, sebentar yah ... aku ... lemes ... banget," aku Erina.


Zaid terkekeh perlahan, dua kali bercinta dan Erina mengakui lemas mungkinkah itu Erina mengakui bahwa sekarang cara Zaid menyentuhnya berbeda? Bukan sekadar jatah wajib seperti dulu kala.


"Kamu puas? Jika belum, aku akan memuaskanmu," ucap Zaid.


"Puas ... pake ... banget," jawab Erina.


Zaid tentu merasa senang dan bangga bisa memuaskan Erina. Sehingga bukan hanya dia saja merasa dipuaskan. Erina pun sangat puas.


***


Beberapa menit kemudian ....


Tanpa Zaid dan Erina sadari ada sosok yang mendengarkan suara Zaid dan Erina dari balik pintu.


"Kamu senikmat ini, Yang ...."


"Iya, Mas ... nikmat. Iya."


Sosok yang mendatangi butik dan sudah diperingatkan untuk tidak naik ke lantai dua, nyatanya sekarang harus mendengar suara-suara erotis itu. Dia sangat geram. Mendengar dari balik pintu, hingga akhirnya menuruni anak tangga dan memilih menunggu di lantai bawah.


Siapakah dia?