
Menjelang siang, usia makan siang dan meminum obat, Raka tertidur. Ketika Raka sedang tidur, waktu ini dimanfaatkan oleh Zaid untuk bisa berbicara dengan Erina. Setidaknya ada beberapa hal yang harus Erina ketahui mengenai kondisi Raka. Mengingat beberapa hari setelahnya, Erina juga tidak ke Rumah Sakit, sehingga kondisi Raka yang sebenarnya seperti apa harus Zaid sampaikan kepada Erina.
"Erin, bisa kita berbicara dulu sebentar?" tanya Zaid kepada mantan istrinya itu.
Terlihat Erina memutar bola matanya dengan malas dan mengikuti Zaid menuju ke ruang tamu untuk berbicara bersama. Sebab, memang lebih baik baginya untuk bisa mengobrol bertemu muka dengan muka bersama Erina. Daripada melalui handphone yang justru bisa membuatnya salah paham.
"Ada apa Zai?" tanyanya dengan mengambil tempat duduk di hadapan Zaid.
"Ada yang perlu kita bicarakan tentang Raka, Rin ... kondisi Raka yang sebenarnya," jelas Zaid di sana.
Erin tampak menghela nafas dan kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Bicara saja. Kenapa dengan Raka?" tanyanya.
"Begini ... kamu sudah tahu kan bahwa Raka mengalami Amnesia Retrograde, di mana beberapa ingatannya hilang dan kamu tahu, ingatannya yang hilang adalah tentang perceraian kita berdua. Sekarang, dia tidak tahu bahwa kita sudah bercerai. Ingatannya hilang, Rin ... jadi, mari kita sama-sama singkirkan rasa benci dan sakit hati yang tersisa hati kita. Kita bekerja sama untuk menjadi orang tua yang bisa memenuhi kebutuhan Zaid terlebih dahulu."
Zaid sepenuhnya mengakui bahwa mengasuh anak dengan damai usai perceraian itu tidak mudah. Masih ada sakit hati dan amarah. Namun, mereka mau tidak mau harus bekerja sama dengan baik, supaya pengasuhan untuk Raka tetap bisa berjalan dengan baik.
"Kamu bilang untuk mengesampingkan amarah dan sakit hati? Berkata terlalu mudah, Zaid ... faktanya terlalu sukar untuk bisa melakukannya. Perceraian tetap memberikan luka, termasuk untuk aku sendiri," balas Erina.
Zaid menghela nafas dan memandang Erina yang duduk di hadapannya. Tetap saja, Erina memandang bahwa dirinya juga terluka. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi.
"Namun, faktanya kamu yang menggugat cerai, Rin ... aku ingin bertahan dan mempertahankan rumah tangga kita. Kamu yang memilih bercerai. Padahal perceraian bukan jalan pintas untuk mendapatkan kebahagiaan, Rin," tegas Zaid.
Bukan berniat memojokkan, tetapi memang penggugatnya adalah Erina yang memilih untuk bercerai. Bahkan ketika Zaid meminta maaf dan ingin mempertahankan rumah tangganya, Erina menolaknya. Gugatan tetap berlanjut.
"Ya, aku yang mengguggat kamu karena aku tidak bahagia bersamamu, Zai," jawabnya.
Rasanya kian pelik bukan? Termasuk ketika Erina sekarang mengatakan bahwa dia tidak bahagia bersama dengan Zaid. Apa yang dikatakan oleh Erina membuat Zaid terpukul, dadanya bak dihantam batu besar. Namun, bagaimana lagi bahwa kebahagiaan yang sejatinya tak kasat mata itu begitu berpengaruh dalam kehidupan pernikahan. Dalih tidak lagi bahagia seakan menjadi harga mati.
Dia menegaskan bahwa sekalipun rumah tangganya hancur. Akan tetapi, peran mereka sebagai Mama dan Papa, sebagai orang tua untuk Raka tidak akan pernah berakhir. Sudah selayaknya mereka menerapkan Co-Parenting.
Ya, Co-Parenting adalah pola pengasuhan bersama yang dilakukan sepasang orang tua yang telah bercerai. Sebab, walau sudah bercerai dan tidak lagi bersama-sama membina biduk rumah tangga, tetapi keduanya harus berupaya untuk memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak, memenuhi semua kebutuhan anak dan menjaga kedekatan hubungan antara anak dengan kedua orang tuanya.
Terlebih sekarang ketika Raka tengah sakit dan banyak memorinya yang hilang. Zaid merasa bahwa dirinya dan Erina harus menerapkan pengasuhan Co-Parenting ini.
"Berbicara mudah, Zai ... tapi melakukannya yang susah," balas Erina.
"Kalau kamu mau, pasti bisa, Rin ... aku tidak tahu sebenci apa kamu kepadaku sampai kamu terus-menerus memojokkanku. Aku menerimanya, Rin ... tapi jika bersangkutan dengan Raka, aku tidak bisa menerimanya. Memori Raka bisa selamanya hilang dan diikuti dengan memori lainnya. Kita, sebagai orang tuanya harus memberikan dukungan fisik dan moral untuk anak sebagai cara untuk mengatasi berbagai dampak yang terjadi usai perceraian," tegas Zaid sekarang.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Erina kemudian.
"Jangan keras kepala, Rin ... pikirkanlah Raka, anak kita. Kita bisa bekerja sama," balas Zaid.
Ketika mereka tengah berbicara rupanya Raka turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan Mama dan Papanya. Bahkan Raka mencari sampai ke ruang tamu.
"Mama ... Papa, Raka nyariin loh," ucapnya begitu melihat Papa dan Mamanya.
"Kenapa Raka? Papa sedang berbicara dengan Mama kamu," balasnya.
Raka tampak menganggukkan kepalanya, "Raka takut Mama akan pergi lagi. Mama jangan pergi yah," pintanya.
Akan tetapi Erina tersenyum di sana, "Mama harus bekerja lagi, Raka ... bagaimana? Raka di rumah sama Papa yah," balasnya.
Raka sudah nyaris menangis di sana. Dia senang dengan Mamanya yang ada di rumah. Namun, baru sesaat kenapa Mamanya berkata sudah akan kembali bekerja?