Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Berpisah Lagi


Erina terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Raka sekarang ini. Akan tetapi, dia sadar bahwa ingatan Raka akan perceraiannya dengan Zaid berarti memang hilang. Itu berarti Erina percaya bahwa memang apa yang dikatakan oleh Zaid bukan bualan semata.


"Mama, Mama enggak kangen sama Papa yah?" tanyanya lagi.


Lagi Raka mengulangi pertanyaannya, dan kemudian Erina hanya tersenyum tipis di sana. Hingga akhirnya, Erina pun memberikan jawaban, "Mama lebih kangen sama Raka sekarang," balasnya.


Raka pun tersenyum, "Sama Ma ... Raka juga kangen sama Mama. Kenapa sih, Mama sekarang sering meninggalkan Raka. Padahal Raka kangen sama Mama," balasnya.


"Sama seperti yang Papa kamu bilang Raka, sekarang Mama yang bekerja. Jadi, Mama sekarang yang harus keluar dari rumah," balas Erina.


"Papa kan tidak tiap hari pergi dari rumah untuk bisnis, Ma ... palingan seminggu cuma 3 atau 4 hari. Mama kok pergi terus?" tanya Raka.


Ya, walau pun memorinya hilang, tetapi kecerdasan kognitifnya sama sekali belum hilang. Bahkan terlihat jelas bahwa Raka masih bisa mengamati bahwa Mamanya justru lebih banyak perginya, daripada Papanya dulu.


"Mama baru merintis Raka ... jadi memang harus begini dulu. Nanti kalau sudah besar bisnisnya seperti Papa, Mama akan lebih banyak di rumah," jawab Erina.


Raka pun akhirnya menganggukkan kepalanya, "Baiklah Ma ... yang penting Mama jangan melupakan Raka aja. Kan Raka sayang sama Mama," balasnya.


Anak berusia 4 tahun itu akhirnya pun terlelap dengan satu tangan yang melingkari pinggang Mamanya. Sungguh, senang rasanya bisa tidur dan mendengarkan dongeng dari Mamanya, ada sang Mama juga yang akan menemaninya. Terlihat jelas bahkan Raka pun menempatkan diri dalam posisi di mana dia bisa memahami apa yang disampaikan Mamanya, walaupun itu hanya sekadar alibi atau kilahan semata.


Sepanjang malam, tidur Raka benar-benar terlelap. Hingga pagi pun menjelang, Raka masih tertidur dan melihat Mamanya yang berbaring di sampingnya. Raka kemudian menepuk pipi Mamanya itu.


"Morning Mama," sapanya dengan kedua bola matanya yang begitu bening.


Menggeliat, Erina pun akhirnya terbangun dan tersenyum menatap Raka yang sudah bangun terlebih dahulu. "Pagi Raka," sapanya.


"Raka senang, pagi hari ada Mama," ucapnya.


Pun dengan Erina yang perlahan terbangun dan dia memandikan Raka pagi itu. Setelahnya, dia pun memilih mandi. Barulah kemudian, keduanya turun untuk sarapan bersama.


Di meja makan sudah menunggu Zaid yang sudah duduk di meja makan dengan menyeruput kopi yang dibuatkan untuk Bibi Tini, pembantu rumah tangganya. Kemudian, Raka pun menyapa Papanya itu.


"Pagi Papa," sapanya dengan mengambil tempat duduk di samping Papanya.


"Pagi, Nak ... tidurmu semalam nyenyak?" tanya Zaid kemudian.


Zaid tersenyum di sana, dia kemudian mengisi piring kosong Raka dengan sarapan yang dibuat Bibi Tini pagi itu. Kemudian, Raka meminta Mamanya untuk menyuapinya.


"Suapin Raka dulu ya Ma," pintanya.


Erina menganggukkan kepalanya, dan kemudian mulai menyuapi Raka dengan Sup Ikan yang masih hangat itu. Tidak banyak berkomentar, Raka pun terlihat begitu lahap untuk memakan sup ikan yang rasanya benar-benar lezat itu.


"Sehabis makan minum obatnya sekalian ya Raka," ucap Erina yang sekaligus akan membantu Raka untuk meminum obatnya.


"Raka, besok kita ke Rumah Sakit yah ... kamu harus mengikuti terapi di Rumah Sakit. Supaya kepalanya bisa segera sembuh," ucap Zaid kemudian.


Raka pun menganggukkan kepalanya, "Iya Pa ... sama Mama juga enggak?" tanyanya.


"Mama besok ada kerjaan Sayang ... lusa yah, Mama ke sini lagi," balas Erina.


Raka pun tampak menghela nafas dan menundukkan wajahnya, "Yah, Raka kira akan bersama Mama juga. Ternyata sama Papa saja yah?" tanya Raka kemudian.


Erina kemudian menganggukkan kepalanya, "Maafkan Mama yah ... kalau Mama tidak sibuk, pasti Mama akan menemani Raka untuk terapi. Doanya Mama, Raka segera sembuh yah," balas Erina.


Zaid pun menatap Erina dan Raka bergantian, "Besok sama Papa dulu ya Raka, lain kali kalau Mama tidak sibuk, Mama ikut dengan kita ke Rumah Sakit yah?" balasnya.


Perlahan, Erina pun menganggukkan kepalanya, "Iya, lain kali Mama akan ikut serta," balasnya.


Usai sarapan dan menunggu Raka untuk minum obat, akhirnya Erina berpamitan kepada Raka. Sama seperti biasanya, ketika Mamanya datang Raka akan terlihat begitu senang sementara jika Mamanya akan kembali pergi, Raka juga menjadi begitu sedih.


"Raka tunggu Mama akan datang lagi ya Ma," ucap Raka dengan melambaikan tangannya.


"Iya, besok sukses untuk terapinya ya Raka. Mama selalu sayang kamu," balas Erina.


Raka terlihat berkaca-kaca ketika Mamanya memasuki mobilnya dan perlahan-lahan mobil itu keluar dari area parkir di rumahnya yang besar. Sungguh, rasanya begitu aneh. Di rumah yang begitu besar, dan Raka tidak bisa melihat Mama dan Papanya bersatu. Hatinya terlalu sedih, hingga Raka merasakan kepalanya yang kembali pusing.


Bruk!


Tiba-tiba Raka jatuh dan tidak sadarkan diri.