
Beberapa minggu pun berlalu, mau tidak mau Raka pun harus beradaptasi dengan perpisahan kedua orang tuanya. Jika biasanya, pagi hari di rumah dulu, dia bisa merasakan pelukan hangat dari Mamanya dan juga sarapan yang sering kali dibuatkan oleh Mamanya. Akan tetapi, sekarang Raka harus membiasakan diri bahwa hanya Papanya saja yang menyapanya. Untuk sarapan jug hanya Mbok Tini saja yang membuatkan sarapan. Kendati demikian, Zaid seakan membalas semua waktu yang dulu dia habiskan untuk mengurus bisnis dan menjadi lebih perhatian dengan Raka.
"Papa, besok Raka ada outing class di taman, Pa ... Papa bisa mengantar Raka kan?" tanya Raka kepada Papanya.
"Iya, pasti bisa Raka ... harus sampai di taman itu jam berapa?" tanya Zaid.
"Jam 08.00 sudah harus sampai di taman ya Pa," balasnya.
Zaid tampak menganggukkan kepalanya, "Oke, baiklah ... besok akan Papa antar yah," balasnya.
"Kalau jemputnya tidak bisa sama Mama ya Pa?" tanya Zaid kemudian.
Raka menanyakan itu karena memang sudah dua minggu terakhir, Mamanya tidak pernah datang lagi untuk menemuinya. Sebagai seorang anak pun, mungkin Raka merasa kangen dengan Mamanya. Sehingga Raka menanyakan keberadaan Mamanya kepada Papanya.
"Papa kurang tahu, Raka. Akan tetapi, Papa akan coba menghubungi Mama kamu yah. Jika bisa, Papa akan datang menjemput dengan Mama kamu," balas Zaid.
Raka kecil pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Baiklah Pa," balasnya.
"Pulang jam berapa besok?" tanya Zaid lagi.
"Jam 11.00 Pa," balas Raka lagi.
Setidaknya ini adalah cara Zaid untuk bisa mengasuh Raka. Terlibat dalam kegiatan sekolah Raka, walau hanya sebatas mengantar dan menjemput. Selain itu, di setiap waktu luangnya juga dihabiskan Zaid dengan mengasuh Raka. Ada penyesalan di dalam hati Zaid karena selama ini dia justru sibuk bekerja. Walau bekerja juga untuk anak dan istrinya, tetapi Zaid sadar bahwa ada momen di mana anaknya juga membutuhkan sosok keberadaannya.
***
Keesokan harinya ...
Sebelum jam 08.00, Zaid sudah berada di dalam mobil dengan Raka di sana. Mengantarkan Raka mengikuti Outing Class di taman kota. Hanya beberapa menit berkendara, dan sekarang mereka sudah tiba di Taman kota.
Zaid pun memeriksa tas milik putranya itu. "Ini ada buku, tempat pensil, bekal, dan air putih ada juga ya Raka. Pakai topi yah? Berjaga-jaga jika cuacanya panas," tawar Zaid kepada putranya.
Akan tetapi Raka menggelengkan kepalanya, "Tidak Pa ... begini saja. Tidak panas, Pa ... kan di taman banyak pohonnya, rindang," balasnya.
"Ya sudah, hati-hati ya Nak ... nanti sebelum jam 11.00, Papa sudah sampai di sini," balas Zaid.
"Iya Pa ... Mama belum membalas pesan dari Papa ya?" tanya Raka lagi.
"Ya sudah, Pa ... Bye Papa!"
Zaid melambaikan tangannya kepada putranya itu, dan berharap hari ini Raka akan bersenang-senang selama outing class. Zaid pun meninggalkan lokasi taman, dan cuaca yang semula cerah pun berganti dengan angin yang kencang. Zaid yang sudah tiba di kafenya pun menengadahkan wajah ke atas dan menilik langit yang tiba-tiba menggelap.
Tiba-tiba Zaid merasakan hatinya yang tidak baik-baik saja, terlebih merasakan hembusan angin yang begitu kencang dan juga terdengar bergemuruh. Yang dipikirkan Zaid sekarang adalah putranya yang berada di taman kota. Apakah di sana ada tempat berteduh untuk putranya.
Hingga ketika Zaid hendak masuk ke kafe, handphonenya berdering dan itu adalah dari wali kelasnya Raka. Miss Puspa di sana. Buru-buru Zaid menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.
"Ya Miss ... ada apa?" tanyanya.
"Maaf dengan Papanya Raka? Ini Raka kecelakaan, Pa," jawab Miss Puspa dengan panik juga.
Ya Tuhan, mendengarkan Raka kecelakaan membuat Zaid merasa begitu panik. Perasaan tidak enak di hatinya apakah jawaban dari panggilan telepon dari gurunya Raka sekarang ini? Seketika Zaid tidak bisa berpikir.
"Kecelakaan apa Miss?" tanya Zaid dengan panik.
"Tertimpa pohon, Pa ... mohon segera ke sini, kami juga sudah memanggilkan ambulance," balas Miss Puspa.
Tidak usah menunggu lama, Zaid pun meminta tolong staf di kafenya untuk bisa mengantarkannya ke taman kota. Sebab, dalam keadaan panik seperti ini sudah pasti bahwa Zaid tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Farhan, tolong anterin saya ke taman," pintanya ke pekerja kafe miliknya.
"Ya, baik Pak Zaid," balasnya.
Farhan hanya bisa diam dan tidak banyak bertanya. Hanya saja, dia yakin bahwa Bosnya itu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Hanya lima belas menit berlalu dan sekarang mereka sudah sampai di taman kota.
"Oke Han, makasih," balasnya.
Zaid berlari secepat yang dia bisa, dia mengedarkan pandangannya dan mencari-cari di mana anak-anak Playgrup dari sekolah Raka berada. Beberapa saat berlari, akhirnya Zaid menemukan ada ambulance yang datang dan kerumunan anak-anak kecil di sana.
"Raka ... Raka ...."
Kenyataan pahit bagi Zaid, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Raka dengan darah di area kepalanya dan bocah kecil itu ditandu dengan hati-hati dan dimasukkan ke dalam ambulance. Seorang Papa, dirinya hancur, air matanya mengalir begitu saja. Nama Raka selalu dia lantunkan, sungguh ini akan menjadi saat terendah bagi seorang Zaid Syahputr