
Raka yang kembali jatuh dan tak sadarkan diri membuat Zaid harus membawa putra semata wayangnya itu ke Rumah Sakit. Untung saja kali ini, Zaid segera menopang tubuh Raka, sehingga tidak ada benturan yang terjadi di tubuh Raka. Kendati demikian Zaid merasa begitu panik dan takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Raka.
ketika dilarikan ke Rumah Sakit, Dokter Sonny sendiri langsung turun tangan untuk membantu Raka. Zaid diminta untuk menunggu di luar dan Dokter Sonny yang memeriksa keadaan Raka sekarang. Cukup lama Zaid menunggu hingga akhirnya, Dokter Sonny keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana dengan kondisi Raka, Dokter?" tanya Zaid yang tampak begitu gusar.
"Pasien merasa terguncang dengan keadaan tidak wajar yang terjadi di sekitarnya. Sehingga membuat kepalanya begitu sakit dan akhirnya jatuh. Bisa terjadi karena kerusakan sistem limbik," balas Dokter Sonny.
Tampak Zaid mengernyitkan keningnya. Bingung juga dengan kerusakan Sistem Limbik yang disebutkan oleh Dokter Sonny. Hingga akhirnya, pria itu bertanya kepada Dokter Sonny.
"Kerusakan sistem limbik itu apa Dokter?" tanyanya.
"Sistem limbik berperan untuk mengatur emosi dan ingatan seseorang. Bagian otak tersebut bisa rusak, dan ini diawali karena benturan dengan batang pohon yang menimpa kepalanya. Untuk itu, sangat penting menjaga emosi Raka. Sebab, sistem limbik ini berpengaruh pada suasana hati dan emosi seseorang," jelas Dokter Sonny.
Zaid yang mendengarkan penjelasan dari Dokter Sonny pun menghela nafas dan kemudian bingung. Bagaimana caranya untuk menyembuhkan Raka. Sebab, prioritasnya sekarang adalah putranya itu bisa segera sembuh.
"Bagaimana caranya supaya Raka bisa sembuh?" tanya Zaid kemudian.
"Hindari ketidaknyamanannya yang membuatnya merasakan kepalanya begitu pusing. Sebab, sakit secara mental itu tidak kasat mata, tetapi dampaknya luar biasa. Oleh karena itu, kalau menurut saya, Pak Zaid bisa bekerja sama dengan istrinya. Ini juga menyembuhkan ingatan Raka yang sempat hilang memorinya," balas Dokter Sonny.
Hingga akhirnya, Zaid megusap wajahnya begitu kasar, dan memberikan diri untuk bercerita kepada Dokter Sonny. Sebenarnya ini adalah masalah pribadi. Namun, bagaimana lagi karena ini ada kaitannya dengan kesembuhan Raka.
"Sebenarnya saya dan Mamanya Raka, sudah bercerai. Hampir dua bulan ini. Semula Raka bisa menerima keadaan dan kemudian terjadi kecelakaan lantaran tertimpa pohon yang rubuh mendadak itu. Saya tidak menyangka bahwa dampaknya akan sebesar ini," ucap Zaid pada akhirnya.
"Seorang anak bisa mengidap Post Traumatic Syndrom. Mereka menjadi trauma dengan perceraian Mama dan Papanya. Walau tubuh merasa sehat, tak jarang anak-anak akan kehilangan senyuman mereka, menjadi pemurung, pendiam, atau justru kehilangan selera makan. Itu adalah gejala awal bahwa seorang anak mengalami traumatik atau tekanan mental. Di sinilah orang tua diminta untuk peka," balas Dokter Sonny.
"Jadi, apa solusinya Dokter?" tanya Zaid lagi.
"Kenapa tidak berupaya untuk rujuk? Setidaknya lakukan untuk Raka. Toh, banyak pasangan yang bisa menyingkapi perbedaan dan bertahan untuk anak-anak mereka. Mungkin Raka merasakan keberadaan orang tua mereka tidak secara penuh dan utuh," balas Dokter Sonny.
Rujuk?
Rujuk dengan Erina? Haruskah aku melakukannya?
"Pikirkan lagi Pak Zaid ... tidak mudah untuk membina kembali menyatukan cermin yang retak. Akan tetapi, cermin yang retak masih bisa dipakai untuk berkaca dan juga memantulkan bayangan. Walau kehidupan pernikahan kalian retak, tapi Raka masih bisa melihat dari cermin itu. Keberadaan dan kebersamaan orang tuanya sangat dibutuhkan Raka sekarang ini," ucap Dokter Sonny lagi.
Lagi, Zaid diam. Kemudian dia mengajukan pertanyaan lagi kepada Dokter Sonny. "Raka harus menginap di Rumah Sakit atau bisa dibawa pulang?" tanyanya.
"Setelah sadar nanti, pasien bisa dibawa pulang. Mohon untuk menjaga keseimbangan mental Raka. Juga, ambil keputusan Pak Zaid ... lakukanlah untuk Raka," nasihat Dokter Sonny lagi.
"Apa masih bisa Dokter?" tanya Zaid kemudian.
"Pasti bisa. Jika tidak ada masalah krusial sudah pasti bisa diselesaikan dan kembali rujuk. Banyak juga pasangan yang memilih rujuk untuk anak-anak mereka," jawab Dokter Sonny.
Zaid pun tahu bahwa memang banyak pasangan yang sudah bercerai pada akhirnya memilih untuk kembali rujuk. Tentu dengan berbagai alasan. Ada yang karena anak, dan ada juga pertimbangan lainnya. Akan tetapi, untuk Zaid sekarang ini dia tidak tahu apakah Erina mau untuk rujuk dengannya. Di saat Zaid tahu bahwa kemungkinan besar Erina akan menolaknya.
"Demi Raka, Pak Zaid ... kasihan jika anak sekecil Raka harus bolak-balik ke Rumah Sakit. Padahal dia memiliki peluang untuk sembuh, tentu dengan dukungan dari Mama dan Papanya," balas Dokter Sonny lagi.
"Sebenarnya sulit, Dokter," aku Zaid sekarang.
Dokter Sonny pun menganggukkan kepalanya, "Saya juga seorang Papa yang tidak sempurna, Pak Zaid. Bedanya kami cerai mati. Ya, istri saya meninggal karena kecelakaan, sehingga traumatik kehilangan yang diderita anak saya lebih besar. Namun, saya tidak bisa memperbaiki semuanya karena support sistem untuk anak saya hanya saya sendiri. Makanya melihat Raka, hati saya sangat terkutuk dan berharap bahwa Raka bisa pulih. Perceraian yang terjadi bukan karena kematian, masih bisa diperbaiki Pak Zaid."
Mendengar cerita Dokter Sonny, Zaid pun merasa kasihan dengan Dokter Sonny. Rupanya apa yang menimpa Dokter Sonny lebih berat dari kesulitan hidupnya selama ini. Rasanya Zaid turut bersimpati untuk Dokter Sonny.
"Terima kasih untuk sarannya Dokter Sonny. Coba, saya akan menemui Mamanya Raka," balas Zaid.
"Benar Pak Zaid. Untuk anak sendiri. Kalau terjadi apa-apa dengan Raka yang akan menyesal adalah orang tuanya sendiri, Papa dan Mamanya. Oleh karena itu, selagi bisa diperbaiki lebih baik diperbaiki terlebih dahulu," saran dari Dokter Sonny.
Usai mengobrol panjang lebar dengan Dokter Sonny, Zaid masuk ke dalam kamar Raka. Pria itu menatap kosong pada Raka yang belum sadarkan diri. Dalam hatinya, dia berpikir dan menimbang-nimbang, benarkah harus rujuk dengan Erina.
"Papa harus bagaimana Raka? Haruskah Papa rujuk dengan Mamamu? Untuk kamu, Papa siap berkorban apa pun, Raka. Asalkan kamu sembuh dan ingatanmu kembali pulih," ucap Zaid yang seolah bermonolog sendiri.
Ya Tuhan, situasi yang membuat Zaid harus berpikir begitu keras, Semuanya harus dia pikirkan untuk Raka, putranya satu-satunya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang berserius dengan Raka. Lebih baik, dia mengambil langkah, sebelum jika terjadi hal-hal yang lain, tentu Zaid juga yang akan menyesal.