Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Rencana Khusus Zaid untuk Erina


Bukan Zaid namanya jika tidak memikirkan istrinya. Dia tahu, walau istrinya memilih resign dan meninggalkan dunia fashion begitu, tapi beberapa hari ini Zaid tahu bahwa beberapa kali ini selama berada di rumah, terkadang Erina sibuk membuat sketsa. Menurut Zaid, juga hasil desain baju buatan Erina begitu bagus.


"Baru ngapain Sayang?" tanya Zaid kepada istrinya.


"Eh, Mas ... baru gambar-gambar aja. Kelihatan gabut yah?" tanya Erina.


Akan tetapi, Zaid menggelengkan kepala. Justru dia senang karena mengetahui apa yang Erina lakukan di sela-sela kesibukannya. Zaid juga menilai bahwa hasil gambaran Erina begitu bagus.


"Enggak, lakukan saja apa yang kamu suka," balas Zaid.


Mencintai tidak mengharuskan seseorang kehilangan apa yang dia sukai. Melupakan hobinya, dan memaksakan diri menyukai apa yang sebenarnya tidak dia sukai. Zaid adalah orang yang menghargai perbedaan. Oleh karena itu, dia juga sangat senang Erina bisa terus melakukan apa yang dia sukai.


"Habis kalau Raka sekolah kan, banyak waktu tersisa, Mas, balas Erina.


Zaid kemudian menganggukkan kepala. Memang ketika Raka sekolah, banyak waktu luang. Oleh karena itu, di saat Raka sekolah, Zaid juga sering kali bekerja. Kadang kala hanya sekadar mengecek ke kafenya.


"Intinya, lakukan apa pun yang kamu sukai. Dulu, waktu membuka butik itu berapa modal kamu, Yang?" tanya Zaid perlahan.


"Lumayan, Mas ..., tapi kan waktu itu berbagi sama Mela. Modal bersama, tapi waktu aku resign kemarin, aku tidak meminta balik. Bagaimana pun, butik itu belum stabil. Belum ada satu tahun, susah juga kan untuk mengembalikan modal," balas Erina.


Sebagai orang yang berkecimpung di dunia bisnis, Zaid pun juga sangat tahu tidak akan mudah untuk mengembalikan modal dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Hasil penjualan dan laba bisa untuk operasional gedung dan membayar karyawan saja sudah bagus. Keuntungan bisnis kadang baru bisa terlihat dari sekian tahun.


"Besok ikut aku ke suatu tempat ya, Sayang," ajak Zaid kepada Erina.


"Kemana Mas?" tanya Erina.


"Sudah, ikut saja," balas Zaid.


Ya, tanpa sepengetahuan Erina, Zaid sudah menyiapkan sesuatu. Esok Zaid pikir adalah waktu yang tepat untuk mengajak Erina ke tempat yang sudah dia persiapkan selama beberapa pekan terakhir dengan baik.


***


Keesokan harinya ....


"Deket banget, yakin Mas?" tanya Erina.


Zaid menganggukkan kepala. Ya, yang dia tuju sekarang adalah tempat yang dekat. Maklum jika Erina bingung.


"Zarina Butik?" tanya Erina dengan melirik ke Zaid.


"Iya, Sayang ... Zaid dan Erina, Zarina. Untuk kamu, kamu boleh bekerja dan berkarya. Lakukan semua yang kamu sukai," balas Zaid.


Dengan mantap, Zaid menggandeng tangan Erina memasuki butik itu dan memperlihatkan tempat untuk mempublish hasil busana, jual beli, kamar pas, dan ruangan Erina di lantai dua. Butik itu didesain dengan begitu indah, desain interiornya juga bagus. Selain itu, ada beberapa bunga yang menghiasi butik itu.


"Tidak harus jauh-jauh dari rumah. Yang penting kamu memiliki tempat untuk berkarya," ucap Zaid lagi.


Sekarang Erina tak terasa untuk meneteskan air matanya. Pria yang dulu sempat dia sakiti, ternyata adalah sosok pria yang sangat baik. Tanpa dia meminta, Zaid sudah memahami apa yang dia mau. Apa yang dia minta.


"**, Terima kasih banyak, Mas ...."


Erina membalas dengan sesegukan. Sangat tidak menyangka bahwa suaminya justru memberikannya sebuah butik yang sangat bagus. Semoga tempat ini benar-benar bisa dimanfaatkan Erina dengan baik.


"Sama-sama, Sayang," balas Zaid dan memeluk Erina.


"Kamu baik banget, Mas. Padahal aku gak minta, tapi kamu memberikan lebih," balas Erina.


"Asalkan kita terkoneksi dengan hati. Tidak perlu banyak berbicara untuk mengetahui apa yang diinginkan pasangan kita," balas Zaid.


Setelah itu, Zaid memberikan kunci butik itu dan beberapa dokumen kepada Erina. "Ruko ini aku beli atas namamu. Jadi, aku serahkan ke kamu Zarine Butik. Kamu juga boleh mencari karyawan sebagai Seller atau Merchandiser. Jangan pikirkan gajinya, aku akan topang sampai kamu stabil. Pesanku hanya satu, kalau bisa karyawan kamu cewek saja, Sayang. Lebih menjaga hati," balas Zaid.


Walau sudah memberi semua, Zaid hanya meminta jika bisa Erina mempekerjakan karyawan cewek saja. Permintaan Zaid juga mendasar, karena dia tidak ingin kejadian seperti dengan Erick terjadi lagi. Jadi, lebih baik untuk menjaga hati. Selalu memprioritaskan hubungan suami dan istri.


"Baik, Mas ... aku mengerti dan aku sudah belajar dari masa lalu," balas Erina.


Bukan harus gabut di rumah, tapi sekarang Erina memiliki tempat untuk berkarya. Tidak harus jauh dari rumah, yang lebih urusan passion bekerja dan membina rumah tangga bisa berjalan selaras dan seimbang.