
Sekalipun Erina sudah memberikan penegasan, tetapi Erick seakan tidak mau menyerah. Sekarang justru Erick berbicara yang kian menyudutkan Erina. Sampai Mela pun tidak mengira Erick bisa berbicara seperti itu.
"Gue udah muak dengernya, Rin. Gue bahkan sekarang sangat yakin bahwa loe sebenarnya gak beneran cinta kepada laki loe itu. Yang loe pikirkan hanya Raka, anak loe. Gue jadi kasihan sama Raka, karena selalu menjadi alasan utama. Semua diatasnamakan Raka!"
Ucapan Erick kian pedas. Sekarang, dia berpendapat bahwa semua itu hanya alasan saja. Bahkan Erick menuding bahwa Erina tidak benar-benar mencintai Zaid.
"Rick, udah Rick ... gak usah ikut campur rumah tangga Erina. Bagaimana Erina memiliki keputusan dan kendali penuh atas hidupnya, atas rumah tangganya. Kita hanya temennya, sahabatnya," sela Mela.
Sementara di mata Mela sekarang Erick justru terlalu ikut campur dalam rumah tangga Erina. Mela bukannya tidak tahu, Mela juga tahu bagaimana dulu Erina yang memilih bercerai dan akhirnya rujuk. Namun, kesempatan kedua untuk Zaid dan komitmen untuk memperbaiki rumah tangga bagi Mela itu sepenuhnya adalah hak Erina. Dia dan Erick yang hanya teman tidak perlu dan tidak berhak ikut campur.
"Gue berhak, La ... karena apa? Karena dia sudah berjanji akan menceraikan Zaid dan memberi harapan untuk gue. Gue yang ada di sisinya kalau suaminya itu mengurus bisnis ini lah, bisnis itulah. Gue yang bantu dia ke rumah sakit saat dia tumbang karena menyapih anaknya seorang diri. Gue yang menenangkan dia, menghiburnya kala Raka, putranya itu kecelakaan dan hilang ingatan. Gue yang selalu ada buat dia, bukan Zaid!"
Luapan emosi Erick tak terbendung lagi. Dia merasa menjadi pria yang selalu berada di sisi Erina. Namun, Erina mencampakkan Erick dan lebih memilih Zaid. Erick merasa diperlakukan Erina dengan tidak adil.
"Sumber semua masalah ini memang gue, Rick. Dulu, gue merasa sebagai istri yang tidak diperhatikan. Gue merasa kesakitan sendiri, bersedih sendiri. Semua itu terjadi karena gue juga salah. Gue gak terbuka dengan Zaid. Andai gue lebih membuka diri, bisa mengutarakan apa yang gue mau. Gue yakin, Zaid bisa memperlakukan gue dengan lebih baik. Namun, semua sudah berubah kan Rick? Menjalani perceraian hingga rujuk kembali, ada hal-hal baru tentang diri Zaid yang baru gue lihat. Itu membuat gue malu dengan tindakan gue dulu. Semakin mengenal Zaid, gue jatuh cinta lagi kepada suami gue, Mas Zaid ...."
Sekarang, Erina pun mengatakan perasaannya. Semua terjadi memang karena kesalahannya yang tidak bisa membuka diri dan mau mengomunikasikan perasaannya kepada Zaid. Dengan seiring berjalannya waktu, Erina mengakui di hadapan kedua sahabatnya, dia justru jatuh cinta kepada suaminya.
Sekarang rasanya Erina begitu kesal dengan Erick. Jika yang Erick hina adalah dirinya, Erina bisa menahan dan bisa memaafkan Erick. Namun, ketika yang dihina adalah putranya sendiri, Erina mengakui sangat kesal kepada Erick.
"Jangan bawa-bawa Raka di sini, Rick. Raka sudah semakin baik dan semakin sehat. Anak mana sih Rick, yang mau melihat perpisahan kedua orang tuanya? Anak mana sih yang mau hidupnya dibagi dengan beberapa hari ikut Mama dan beberapa hari ikut Papanya? Tidak ada yang mau, Rick. So, jangan menyinggung dan menyudutkan Raka. Dalam perceraianku dan Mas Zaid, dia adalah korbannya," balas Erina.
"Benar, Rick ... yang dikatakan Erina benar. Raka adalah korban di sini," sahut Mela.
Merasa pembicaraan selalu mendapati jalan buntu dan seolah Erick berbicara kian tajam. Erina kemudian berdiri dan dia menatap Erick. "Rick, maafkan gue. Gue yang salah. Namun, jangan desak gue lagi untuk berpisah dari suami gue. Ini adalah kesempatan baik untukku dan Mas Zaid untuk memperbaiki hubungan kami berdua. Menyemikan cinta kami. Gue bahkan sekarang lebih dan lebih jatuh cinta dengan suami gue. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik buat gue. Namun, jangan menyudutkan dan mendesak gue. Untuk pria sebaik Mas Zaid, kesempatan untuk memperbaiki diri dan keadaan, kupikir tidak hanya datang dua kali, tapi tiga hingga berkali-kali, Rick. Sekali lagi gue minta maaf."
Bagaimana pun, Erina juga mengakui salahnya kepada Erick. Sekarang, baru Erina ketahui bahwa berdekatan dengan pria lain yang bukan mahramnya, dan ada niat menginginkan dirinya justru membuat semua kian runyam. Erina akan belajar dari kesalahan.
"Mela, kalau memang ide-ide gue tidak segar dan juga kuno. Hari ini, gue memilih mengundurkan diri. Gue pernah meninggalkan suami dan anak gue untuk mengejar karir. Kini, setelah memiliki keduanya, Mas Zaid dan Raka, gue rasanya tahu tujuan apa yang ingin gue capai. Makasih guys untuk segalanya."
Erina pun menundukkan kepalanya sesaat. Keputusannya sudah bulat. Bahwa sekarang dia tahu dengan keputusan apa yang bakal dia ambil. Selain itu, Erina merasa bahwa bekerja dengan Erick justru akan menciptakan kondisi yang toxic. Yang pasti dia sudah meminta maaf. Dia sudah mengakui salahnya dulu, dan sekarang Erina sendirilah yang akan memutus mata rantai itu. Lepas dari hubungan toxic dengan Erick.
Dulu, Erina pernah meninggalkan suami dan anaknya untuk kembali mengejar karir. Namun, ketika kian mengetahui besarnya cinta yang diberikan Zaid dan Raka kepadanya. Erina sangat tahu dengan tujuan hidupnya. Rasanya, Erina ingin memeluk dua pria hebat dalam hidupnya. Dari Zaid, Erina belajar apa itu bersabar dan menikmati proses. Sementara dari Raka, Erina belajar ketulusan memberikan kasih sayang. Kini, Erina tak akan melakukan kesalahan yang sama. Menghabiskan hari dan waktu dengan Zaid dan Raka dirasa Erina lebih berharga dan bermakna sekarang.