
Mencoba mengingat di mana dia berada nyatanya membuat Raka memegangi kepala. Anak kecil itu memejamkan matanya dengan begitu erat dan meringis kesakitan. Sontak saja, Zaid menjadi panik karenanya.
"Nak, kenapa Nak? Sudah, tidak usah dipikirkan. Ada Papa di sini," ucap Zaid yang berusaha untuk menenangkan Raka.
"Mama, Pa … Mama."
Sekadar mengucapkan itu, Raka sudah merasakan begitu pusing. Agaknya reaksi dari amnesia retrograde mulai bisa Raka rasakan karena ada kepingan ingatan yang hilang. Ketika Raka mencoba mengingatnya, yang ada justru Raka merasakan kepalanya kian kencang.
Buru-buru Zaid merangkul Raka di sana dan menenangkan putranya. Meminta Raka tidak usah berpikir terlalu keras karena ada Zaid yang akan selalu menemani putranya itu.
"Kepala Raka sakit, Pa … sakit."
Terlihat Raka masih memegangi kepalanya. Tak ingin terjadi apa-apa pada Raka, Zaid pun memilih untuk menekan tombol yang terarah langsung kepada perawat di Rumah Sakit. Hingga tidak berlangsung lama, ada perawat yang datang dan memeriksa kondisi Raka.
"Ya, Pak … ada yang bisa dibantu?" tanya perawat itu kepada Zaid.
"Ini suster, tolong Raka. Dia mengeluh kepalanya sakit," balas Zaid.
Tidak berselang lama Dokter Sonny pun tiba dan mulai memeriksa keadaan Raka lagi. Dengan kata-kata yang diucapkan dengan lembut, Dokter Sonny berhasil untuk menenangkan Raka.
"Raka, dengarkan saya yah ... tidak usah terburu-buru mengingat semuanya yah. Kalau Raka berusaha mengingat banyak, kepala akan terasa sakit. Jadi, pelan-pelan saja ya Nak. Kalau Raka sakit seperti ini, Papanya Raka juga sakit dan sedih. Yuk, dengarkan Dokter yah ... kalau Raka kepalanya sakit cukup lihat Papa yah. Papanya Raka juga sakit kalau Raka sakit. Yang Raka mau apa?" tanya Dokter Sonny kemudian.
"Mama ... Raka mencari Mama," balasnya.
Dokter Sonny pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia melirik ke Zaid. Sedikit banyak terlihat bahwa kedua orang tua Raka sudah bercerai, karena sebelumnya Dokter Sonny pernah mendengar orang tua Raka yang adu mulut. Ya, kondisi orang tua yang tidak harmonis pun bisa mengguncang mental anak.
"Raka istirahat dulu yah, Dokter ingin berbicara dengan Papanya Raka. Raka anak yang baik dan taat kan? Ikuti nasihatnya Dokter yah," balas Dokter Sonny.
Hingga akhirnya, Dokter Sonny mengajak Zaid untuk keluar dan berbicara sebentar. "Pasien mencari Mamanya, Pak," ucap Dokter Sonny dengan singkat.
"Benar Dokter ... tapi Mamanya sedang tidak ke sini," balas Zaid.
"Apa Bapak dan istri bercerai?" tanyanya.
"Benar ... kami baru saja bercerai, satu bulan yang lalu," balasnya.
"Begini Pak ... bukannya saya ikut campur urusan keluarga Bapak. Hanya saja Raka butuh pendampingan dari kedua orang tuanya, dia harus stabil secara mental, dan juga dia perlu mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mungkin ingatannya yang tersisa adalah Mama dan Papanya belum bercerai. Sehingga dia mencari keberadaan Mamanya. Seorang anak tidak mudah untuk menerima perpisahan orang tuanya."
"Tidak bisakah memperbaiki semuanya lagi Pak? Untuk Raka," ucap Dokter Sonny kepada Zaid.
"Jalan kami sudah berbeda, Dokter. Banyak perbedaan mendasar di antara kami berdua. Jika sudah tak sejalan, rasanya akan semakin sulit," jawab Zaid.
Di satu sisi, Zaid memahami bahwa tidak mudah bersatu ketika dia dan Erina sudah sama-sama tak sejalan. Bahkan sekarang sekadar bertemu saja mereka selalu saja adu mulut, dan saling memojokkan. Memperbaiki semuanya terasa sukar dan terasa tidak mungkin.
"Jika melakukannya untuk Raka?" tanya Dokter Sonny sekarang.
Zaid tertunduk, dia menghela nafas yang terasa begitu berat. Apakah mungkin bisa bersatu dan memperbaiki jika semua itu adalah untuk Raka. Apakah kali ini dia tidak bisa menahan egonya?
"Tolong pikirkan sekali lagi," ucap Dokter Sonny dengan berjalan perlahan dan meninggalkan Zaid di sana.
Sepeninggal Dokter Sonny, Zaid kembali masuk ke kamar perawatan Raka. Dia merasa iba melihat Raka yang berbaring dengan kening yang masih membengkak di sana. Perlahan, Zaid pun mengambil duduk di tepi brankar yang ditempati Raka.
"Papa," ucap Raka dengan lirih.
"Ya, Nak ... Papa di sini," balasnya.
"Raka tidak mau sakit kepala lagi Pa ... Raka gak mau Papa sedih," balasnya.
Sekadar mendengar ucapan Raka membuat Zaid begitu terharu. Wajahnya memerah, dan matanya terlihat berkaca-kaca sekarang. Bahkan ketika Raka sakit pun, anak kecil itu bisa memahaminya.
"Makasih Raka ... fokus untuk sembuh dulu yah. Papa akan selalu menjaga Raka," ucapnya.
"Iya Pa," balas Raka.
Raka kemudian menatap Papanya di sana, "Jangan nangis Pa," ucapnya karena Raka melihat Papanya menunduk dan berusaha menyeka air mata di sudut matanya.
Zaid tampak menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak, Papa tidak menangis kok. Cepat sembuh ya Raka. Papa akan selalu menjaga kamu," balasnya.
Raka pun tampak menggelengkan kepalanya, "Iya, infusnya kapan boleh dilepas Pa? Tangannya Raka sakit," balasnya.
"Sabar ya Raka."
Hanya ini yang bisa Zaid lakukan. Dia meminta kepada Raka untuk sabar. Memang rasanya sakit, tapi selang infus memang harus dipasang untuk menyuntikkan obat ke dalam tubuh Raka.