
Sehari usai Kids Camp, semua kegiatan kembali normal. Dengan Raka yang kembali sekolah, dan juga Erina yang hari itu akan bekerja. Sementara, Zaid masih pada keputusan awal bahwa dia akan mengantar dan menjemput Erina. Ini pun menjadi upaya Zaid untuk mendapatkan hati Erina kembali.
Sama seperti sekarang ini, Zaid tampak mengantarkan Erina ke butiknya. Walau sebenarnya, Erina menolak, tapi Zaid bersikeras untuk bisa mengantarkan Erina. Akan menjemput Erina juga di sore hari nanti.
"Nanti sore, aku akan jemput seperti biasanya," ucap Zaid sekarang.
"Ya, baiklah," balas Erina.
Zaid tampak mengernyitkan keningnya. Biasanya Erina akan memiliki seribu satu cara untuk menolaknya dan berharap dia tidak menjemputnya seusai bekerja. Akan tetapi, Erina kali ini tidak memperlihatkan penolakannya. Zaid sampai menjadi heran dibuatnya. Terlebih juga, Erina juga tidak mengajak berdebat kali ini.
"Tumben kamu tidak menilakt, Rin? Biasanya untuk apa yang aku tawarkan, dengan cepat kamu akan menolaknya," tanya Zaid sekarang.
Ketika seseorang terbiasa menolak bantuan dan bentuk perhatian apa pun itu, kemudian dia tidak memberikan penolakan itu terasa aneh. Seolah sikap defensif Erina hilang begitu saja.
"Tidak apa-apa, Zai ... aku hanya tidak ingin berdebat," balas Erina.
Begitu sudah tiba di butik, Zaid beringsut untuk menatap wajah Erina di sana. "Erin, pertimbangkan lagi permintaanku kemarin, Rin. Kita bisa memperbaiki semuanya. Memperbaiki rumah tangga kita. Aku akan belajar dari kesalahanku, dan kamu pun juga sama. Mari kita sama-sama mengambil jalan damai untuk mengasuh dan membesarkan Raka. Selain itu, di dalam hatiku ... aku cinta kamu, Rin."
Sekarang Zaid benar-benar mengungkapkan perasaannya bahwa dia mencintai Erina. Dia ingin Erina tahu bahwa perasaannya untuk Erina selalu sama. Cinta yang tetap tersimpan di dalam hatinya.
"Zai, terlalu cepat untuk mengatakan cinta," balas Erina.
Akan tetapi, Zaid dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Cintaku untukmu mungkin terkesan membosankan dulu dengan pekerjaanku yang begitu banyak. Akan tetapi, sebenarnya cintaku penuh dengan ketulusan, Rin. Mungkin caraku mencintaimu yang tidak sampai ke hatimu. Sekarang, aku akan berjuang untuk cintaku. Juga, tolong, Rin ... jangan beri ruang untuk orang ketiga. Di dalam rumah tangga kita hanya ada aku, kamu, dan Raka. Jangan undang orang ketiga untuk masuk."
Zaid mengatakan semuanya dengan jujur dan dia berharap Erina bisa menerima apa yang baru saja dia ucapkan. Salah satu cara untuk menyelamatkan rumah tangga adalah dengan tidak melibatkan orang ketiga. Sebab, ketika orang ketiga sudah masuk dan ikut campur, semuanya bisa menjadi runyam. Oleh karena itu, Zaid benar-benar meminta kepada Erina sekarang.
Erina pun akhirnya turun dari mobil suaminya dengan perasaan gamang, Terlebih ada mobil Erick yang berhenti di sana. Kemudian Erick pun keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya. Erina sangat yakin Zaid pun tahu bahwa Erick sedang mengunjungi butiknya sekarang.
"Erin," sapa Erick ketika dia sudah berdiri di hadapan Erina.
"Hm, ya, Rick," balas Erina.
"Kenapa semakin hari, kamu semakin dingin, Rin? Apakah memang suamimu itu pada akhirnya berhasil untuk mengambil hatimu?" tanya Erick secara langsung.
Erina terdiam. Perasaan kini menjadi tidak menentu. Ada kalanya muncul rasa bersalah di dalam hati karena benar dia sudah melibat orang ketiga dalam rumah tangganya dulu. Sekarang, Erina juga bingung dengan permintaan Zaid sekarang yang memintanya untuk tidak melibatkan orang ketiga.
"Rick, sebaiknya ... kamu tidak terlalu sering datang ke mari. Bagaimana pun sekarang statusku adalah wanita bersuami, Rick."
Sementara Erick berdecih dan merasa tidak senang dengan ucapan Erina sekarang. "Apa kamu lupa, siapa yang selalu ada di sisimu, ketika pria itu mengurus bisnisnya, Rin?"
"Namun, Zaid bekerja keras juga untuk aku dan Raka, Rick," balas Erina.
"Oh, jadi kamu sudah berubah, Rin ... pria itu sudah berhasil meyakinkan kamu ternyata. Kalau sampai kamu mau kembali ke pelukannya, kamu bodoh, Rin. Kamu memberi kesempatan untuk pria yang membuatmu menunggu, membuatmu kehilangan pesonanya di dunia fashion. Apa kamu ingin kembali tenggelam, Rin?"
Ucapan pedas khas Erick yang Erina dengar sekarang. Pun dengan rasa Erick menyudutkan Zaid terdengan begitu tajam. Hingga Erina kemudian menggelengkan kepalanya.
"Mohon, Rick ... hormati permintaanku ini. Bagaimana pun sekarang aku adalah istrinya," balas Erina.
Jika tadi Zaid mengucapkan perasaannya. Sekarang, Erina juga menyampaikan perasaannya kepada Erick, meminta Erick untuk menghormati keputusannya. Tidak ada yang bisa menyelami isi hati wanita, sama seperti Erina yang mulai goyah dalam hal perasaan. Lantas, siapa yang akhirnya Erina pilih nanti?