
Di dalam brankar yang dimasukkan ke dalam ambulance, bagian kepala Raka bersimbah darah, bahkan sekarang Raka tak sadarkan diri. Sungguh, hati Zaid sangat hancur melihat putranya sekarang ini. Seketika kepalanya terasa berkunang-kunang dan juga, terasa sangat sesak dadanya.
"Raka ... Raka, kenapa bisa begini Raka?"
Suara pria itu bergetar dan juga terdengar lirih. Hanya beberapa saat waktu berlalu ketika dia meninggalkan Raka di area Outing Class, justru sekarang putranya terbaring dengan bersimbah darah seperti ini. Menaiki mobil ambulance untuk kali pertama, deru suara sirine rasanya membuat darah di sekujur tubuh Zaid terasa begitu berdesir.
Hingga akhirnya, begitu sudah tiba di Rumah Sakit, Zaid turut berjalan begitu cepat dan membantu tenaga medis untuk bisa mendorong brankar dan Raka yang terbaring tak sadarkan diri di atasnya. Pihak dari sekolah yaitu Miss Puspa pun turut menemani ke Rumah Sakit.
"Ada walinya?" tanya Dokter di sana.
"Ya, saya Papanya," jawab Zaid.
"Silakan mengisi kelengkapan dokumen dan administrasi terlebih dahulu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien," jelas Dokter.
Zaid pun menuju ke administrasi di sana ada beberapa pertanyaan yang harus dia jawab, dan juga sekaligus dia mendengarkan jawaban dari Miss Puspa, selaku gurunya Raka.
"Tadi di taman angin bertiup begitu kencang, dan ada satu pohon itu yang bergoyang. Tidak menunggu lama, pohon itu jatuh dan mengenai Raka," ceritanya.
Miss Puspa yang bercerita pun turut meneteskan air matanya. Sungguh, dia tidak mengira bahwa ada muridnya yang tertimpa pohon. Kejadiannya begitu cepat, dan Raka pun tidak bisa menghindari lagi. Bocah berusia 4 tahun itu terjatuh dengan posisi tengkurap dan batang pohon menimpa kepala hingga punggungnya. Seketika beberapa guru berteriak histeris, dan tidak menyangka bahwa Raka akan tertimpa pohon di sana.
"Maafkan kami, Pak ... semuanya adalah kecelakaan," ucap Miss Puspa lagi.
Tampak Zaid hanya bisa diam, dan tidak bisa lagi berkata-kata. Hatinya terlampau sesak. Dengan kondisi Raka sekarang, nyatanya Zaid tak bisa berpikir lagi. Hingga di batas, Zaid hanya bisa menerima semuanya hanya sebagai kecelakaan.
"Tidak apa-apa, Miss ... semoga semuanya baik-baik saja. Miss Puspa kalau ingin pulang silakan, biar saya yang akan menunggu Raka," jelasnya.
Akhirnya Miss Puspa pun berpamitan dengan Zaid dan kemudian, dia meninggalkan Rumah Sakit itu. Setelahnya, Zaid menunggu di ruang operasi, dan menunggu dengan jantung yang berdebar-debar. Tidak lupa, Zaid menghubungi Erina untuk memberitahukan kondisi Raka sekarang ini.
Berdering
"Halo, Rin," sapa Zaid begitu sambungan seluler itu tersambung.
"Ya, halo Zai, ada apa?" tanya Erina melalui sambungan seluler itu.
"Ada kabar yang tidak baik, Rin ... Raka ... putra kita, kecelakaan," ucapnya.
Terkesiap. Erina pun tidak menyangka bahwa putranya mengalami kecelakaan. Seketika, Erina pun menjadi begitu panik. Dia tampak menjawab dengan hampir menangis sekarang.
"Kecelakaan? Kenapa dengan Raka, Zai?" tanya Erina dengan suara yang seolah membentak mantan suaminya itu.
"Datanglah ke Rumah Sakit, Rin ... aku akan berikan alamatnya," balasnya.
Kemudian, Zaid menutup teleponnya. Setidaknya Erina juga harus tahu kondisi Raka sekarang, karena Erina adalah ibunya. Jika terjadi apa-apa dengan Raka, seorang Mama pun juga harus tahu. Di saat Zaid menutup teleponnya, rupanya Dokter keluar dari ruang operasi dan menemui Zaid di sana.
"Orang tua Ananda Raka?" tanya sang Dokter.
"Iya Dok, saya Papanya Raka," balas Zaid.
"Jadi, begini Pak ... Raka mengalami amnesia retrograde karena bagian dari kepalanya tertimpa pohon. Pasien yang mengalami amnesia retrograde akan kelusiltan mengingat yang terjadi sebelumnya. Gejalanya biasanya dimulai dari kehilangan ingatan yang baru saja terbentuk dan kemudian berlanjut dengan kehilangan ingatan lainnya. Hanya saja, belum diketahui ingatan apa saja yang hilang. Selain itu, ada patah tulang di area bahu, karena tertimpa pohon. Sehingga pasien dipasangi pen untuk menyangga tulangnya dan berharap pertumbuhan tulangnya bisa tetap baik. Operasi sudah berhasil dan tinggal menunggu untuk pasien sadar di kamar perawatan inap nanti," jelas sang Dokter.
Zaid menghela nafas dengan begitu berat, sungguh sakit yang dialami Raka begitu berat. Pun, dia tidak tahu bagian ingatan yang mana yang hilang. Selain itu, patah tulang di area bahu juga menjadi cidera yang sangat serius untuk anak sekecil Raka.
Vonis dari Dokter membuat Zaid benar-benar merasakan sesak yang luar biasa. Andai bisa menggantikan Raka, pasti Zaid akan melakukannya. Alih-alih dirinya saja yang kesakitan, daripada Raka yang kesakitan.