
Beradaptasi dan juga menjalani hari demi hari, tidak terasa sekarang kehamilan Erina sudah menginjak delapan bulan. Sebenarnya tidak ada kondisi serius yang di alami Erina. Walau, sampai di bulan ke delapan ini, Erina masih begitu nempel dengan suaminya.
Sementara hubungan Erina dengan Raka juga semakin membaik. Raka sudah sepenuhnya percaya bahwa Mamanya itu sudah berada di rumah dan akan selalu menemaninya. Tak jarang, Erina juga turut kala menjemput Raka di sekolah. Satu bukti, bahwa memperbaiki hubungan juga membutuhkan usaha dan tekad. Erina mau melakukannya dan mendapatkan kembali kepercayaan dari Raka.
"Ma, Mama ... perutnya Mama semakin buncit loh, Ma," kata Raka sekarang.
"Iya, Kak Raka ... palingan bulan depan, adik kamu sudah lahir, Kak," balas Erina.
"Yeay, Raka senang, Ma ... tambah senang karena adiknya cewek. Sama, Ma ... adiknya Sean juga cewek. Katanya Sean nanti kalau adiknya sudah akan besar, mau minta adik lagi yang cowok," cerita Raka.
Mendengarkan cerita dari Raka, kemudian Mama Erina tertawa. Dia mengusapi rambut putranya itu. Menyelami dunia anak-anak dengan fantasi mereka. Namun, memang itulah lucunya anak-anak.
"Kalau adik bayi sudah lahir, Mama tetap sayang Raka kan?" tanya Raka kemudian kepada Mamanya.
Dengan cepat Erina pun menganggukkan kepalanya, satu tangannya merangkul putranya itu. "Iya, Mama akan selalu sayang Kakak Raka. Kakak sendiri nanti sampai gede masih sayang Mama enggak?" tanya Erina.
"Sayang dong ... Raka selalu sayang Mama. Walau Raka sudah besar, sebesar Papa ... Raka selalu sayang Mama."
Mendengarkan jawaban Raka, hati Erina menjadi begitu hangat. Sesaat kemudian babynya yang ada di dalam perut pun menendang-nendang. Terlebih dengan usia kehamilan yang sudah delapan bulan membuat gerakan si baby begitu terasa.
"Eh, adik kamu nendang, Kak," kata Erina.
"Mana, Ma ... pegang Ma," balas Raka.
Akhirnya Erina membawa telapak tangan Raka, dan mendekatkan ke bagian perutnya di mana terasa pergerakan si baby. Tangan kecil Raka berada di perut Mamanya, dan benar-benar terasa pergerakan si baby di sana.
Terlihat Raka begitu senang merasakan pergerakan adik bayinya itu. Hingga akhirnya, Papa Zaid menyusul Raka dan Erina yang sedang bounding itu. Jujur, Papa Zaid juga semakin senang karena Raka dan Erina semakin dekat.
"Mama dan Raka heboh banget sih?" tanya Zaid.
"Iya, Pa ... adik bayinya gerak, nendang-nendang," balas Raka.
Oh, rupanya kehebohan Mama dan anak itu karena merasakan tendangan si bayi. Zaid pun kemudian duduk di sisi Raka, merangkul putranya itu. Sementara satu tangan Zaid yang lain mengusapi perut istrinya yang sudah membesar itu.
"Sudah semakin buncit, Mama," kata Zaid.
"Iya, Pa ... kan tidak lama lagi adiknya Kak Raka lahir," balas Erina.
"Menunggu adik bayi lahir, Pa ... nanti namanya siapa, Pa?" tanya Raka kepada Mama dan Papanya.
Berbicara nama, Zaid dan Erina mempersiapkan nama apa pun. Keduanya hanya tahu bahwa bayi mereka berjenis kelamin perempuan. Mungkin memang sudah saatnya bagi mereka berdua untuk segera mempersiapkan nama untuk putrinya nanti.
"Berawalan R saja, Pa ... biar seperti Raka," pinta Raka sekarang.
"Coba nanti Mama dan Papa mencari nama yang bagus berawalan R untuk adiknya Kak Raka yah," balas Papa Zaid.
"Iya, Pa ... adiknya Sean juga berawalan S kok, Pa. Namanya Sherine," balas Raka.
Sekarang Zaid dan Erina tertawa. Raka sekarang mudah mengingat. Bahkan putranya itu bisa mengingat apa pun. Termasuk dia bisa mengingat nama adiknya Sean. Semoga saja, semuanya berjalan baik dan mereka akan menyambut bayi perempuan mereka satu bulan lagi.