Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Tidak Ada Lagi Dua Ranjang


Keesokan harinya, Zaid, Erina dan Raka berpamitan dengan Bapak Raplan dan Ibu Lia. Masa liburan di Lembang sudah berakhir. Mereka akan kembali ke Jakarta dengan serangkaian aktivitas mereka.


"Bapak dan Ibu, Erin pamit untuk pulang ke Jakarta bersama Mas Zaid dan Raka yah," pamitnya.


"Iya, Rin ... sehat selalu yah. Bahagia bersama suami dan Raka. Lain waktu main ke Lembang lagi, nginep yang lebih lama," balas Bu Lia.


Erina kemudian menganggukkan kepalanya. "Nanti kalau Raka liburan sekolah, kami nginep di sini lebih lama, Ibu," jawabnya.


Pulang dari Lembang, juga mereka membawa teh, hasil asli perkebunan Teh milik Bapaknya. Tidak lupa Pak Raplan kembali berterima kasih kepada Zaid. "Makasih ya Nak Zaid ... berkat kamu semuanya bisa berjalan normal. Laba perkebunan pun menjadi surplus. Terima kasih banyak," ucapnya.


"Sama-sama, Bapak ... kalau senggang kami main ke sini lagi yah,' balas Zaid.


Setelah berpamitan, Zaid membawa Raka dan Erina menuju ke dalam mobil. Mulai berkendara dengan kecepatan sedang dan menikmati panorama di sekitaran perkebunan teh. Beberapa jam mereka lalui, hingga akhirnya mereka sekarang sudah sampai lagi di Jakarta.


"Sudah sampai di rumah. Kapan-kapan, ajak Raka ke Lembang lagi ya, Pa," ucap Raka.


"Raka senang ke Lembang?" tanya Zaid sekarang.


"Seneng, Pa. Sebenarnya mau ikut Opa memetik daun teh itu loh, Pa. Sayangnya, waktu kita terbatas. Padahal, Raka masih ingin di sana," balasnya.


Erina kemudian merangkul putranya sembari memasuki rumah. "Kalau Raka libur sekolah, kita menginap lama di Lembang mau?" tanyanya.


"Mau, Ma ... mau banget," jawab Raka dengan senang.


"Oke, kapan-kapan kalau Raka libur, kita ke rumahnya Oma dan Opa lagi yah," balas Erina.


Melewati sisa hari, kemudian ketika malam sudah beranjak dan Raka sudah tertidur. Barulah Raka dan Erina memasuki kamar mereka. Erina pun terkejut karena di dalam kamar mereka sekarang hanya ada satu ranjang. Suaminya itu tidak main-main. Memang ada satu ranjang yang disingkirkan. Walau, untuk sprei yang digunakan sekarang bermotif Floral. Ya, motif Floral adalah motif kesukaan Erina.


"Cuma ada satu tempat tidur, Mas?" tanya Erina.


Terlihat jelas bahwa Zaid tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar memberikan bukti bahwa dia sudah menyingkirkan ranjang itu. Tidak perlu pisah ranjang dan juga tidur dengan saling memunggungi. Sebab, sekarang mereka bisa saling memberi kehangatan untuk satu sama lain.


"Sudah, ayo tidur ... hari ini pasti kamu capek kan? Jadi esok pagi saja, saat Raka sekolah," ucap Zaid.


Namun, Erina kemudian menatap suaminya itu. "Besok, aku harus bekerja, Mas. Ada satu desain yang harus aku kerjakan," balas Erina.


Zaid menghela nafas panjang dan kemudian menatap Erina. "Harus banget bekerja besok yah?"


Sebenarnya, Zaid masih ingin menikmati masa rekonsiliasi yang indah dengan Erina. Terlebih berbulan-bulan lamanya, dia sudah berpuasa panjang. Ingin meluapkan semua kerinduan.


"Iya ... apa besok Mas ikut aku ke butik?" tawar Erina sekarang.


"Boleh?" tanya Zaid.


"Boleh saja, kalau tidak bosen nungguin aku menggambar," balas Erina dengan sedikit mengedikkan bahunya.


Zaid akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan dan memeluk Erina dari belakang. Tangannya melingkari pinggang ramping Erina, dan membawa dagunya untuk berada di bahu Erina, menggerak-gerakkannya perlahan.


"Baiklah, aku besok akan ikut kamu ke butik. Kalau bertemu dengan Erick?" tanya Zaid sekarang.


"Biarkan saja, Mas. Percayai aku kali ini," balas Erina.


Akhirnya Zaid mengeratkan dekapannya. "Baiklah, aku percaya kepadamu."


Ya, esok Zaid untuk kali pertama akan menunggui di butik. Menunggu Erina untuk bekerja hingga jam sekolah Raka. Siangnya, dia akan menjemput Raka di sekolah. Sesekali menunggui istri dan juga melihat suasana butik milik Erina dengan temannya itu.