
Menjelang sore, Zaid benar-benar bersiap untuk menjemput Erina pulang dari butiknya. Sore ini, Zaid tidak sendiri, melainkan dengan Raka yang turut serta. Bahkan Raka pun terlihat begitu senang sore ini.
"Ayo, Pa ... kita berangkat untuk menjemput Mama. Biar Mama enggak terlalu lama menunggu, Pa," ajak Raka kepada Papanya.
Terlihat jelas bagaimana Raka begitu bersemangat. Sekaligus menurut Raka bahwa ini adalah hal yang baik kepada Papanya mau menjemput Mamanya. Raka sangat senang ketika Papanya akhirnya bisa menjemput Mamanya.
"Iya, sebentar lagi ya kita berangkat," balas Zaid.
Raka kemudian menganggukkan kepala. Dia sabar menunggu Papanya. Begitu Papanya sudah siap, Raka pun tampak begitu girang memasuki mobil.
Dia begitu senang bisa diajak Papanya untuk menjemput Mamanya ke Butik.
"Sering-sering jemput Mama aja, Pa," ucap Raka.
"Boleh, nanti kita sering-sering jemput Mama yah."
Raka kecil pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa ... Mama jangan diantar sama Om Erick. Raka tidak suka, Pa."
Zaid tertegun ketika putranya itu mengatakan bahwa dia tidak suka ketika Mamanya diantar oleh Erick. Zaid yakin, anak-anak memiliki perasaan yang peka, sehingga ini adalah luapan dari ketidaknyamanan Raka dalam melihat sesuatu.
"Raka ingat kapan Mama diantar oleh Om Erick?" tanya Zaid. Pertanyaan ini juga bersifat pancingan karena Erick berusaha memberikan terapi kognitif sendiri kepada Raka. Untuk memori yang terjadi dalam kurun waktu tidak begitu lama, apakah Raka bisa mengingatnya.
"Ingat dong, Pa ... dulu waktu kita ke taman sore-sore kan Mama diantar Om Erick," jawabnya.
Zaid menganggukkan kepalanya. Untuk memori jangka pendek, rupanya Raka masih ingat. Semoga saja ini menjadi kemajuan yang baik untuk Raka.
"Pa, tapi dulu ... Mama sering dibantu Om Erick kok, Pa. Kalau Papa kerja ke luar kota," ucap Raka.
Sekarang Zaid melirik Raka sesaat. Benarkah dengan yang disampaikan Raka sekarang. Mungkinkah untuk memori yang terjadi beberapa tahun yang lalu, Raka juga ingat.
"Kapan Raka?" tanya Zaid.
"Dulu, Pa ... kalau Papa kerja, Om Erick sering ke rumah kok, Pa. Dia datang bawain makanan dan minuman untuk Mama gitu. Apa mungkin Om Erick suka sama Mama ya Pa?"
Tidak ingin membuat Raka berspekulasi terlalu jauh, Zaid segera mengalihkan pembicaraan mereka. "Mungkin mereka teman, Raka. Sama seperti Raka yang temenin sama Sean. Iya kan?"
Akhirnya, tidak begitu lama sekarang mereka sudah sampai di butik. Raka kembali menunjuk satu mobil di sana. "Itu mobilnya Om Erick, Pa," ucapnya.
"Emang Raka hafal mobilnya?" tanya Zaid.
"Iya, tahu ... B XXXX HG. Raka ingat nomornya kok, Pa," jawabnya.
"Tidak apa-apa. Mungkin Mama memang temannya Om Erick. Ya sudah, yuk kita jemput Mama sama-sama yuk," ajak Zaid.
Akhirnya Zaid dan Raka pun turun dari mobil dan memasuki butik itu. Zaid berjalan dengan menggandeng tangan Raka.
"Permisi," ucap Zaid begitu memasuki Butik itu.
Ketika Zaid dan Raka memasuki Butik itu, ada Erina dan Erick di bagian depan butik itu. Keduanya tampak usai mengobrol dan tertawa bersama. Akan tetapi, begitu ada Zaid dan Raka datang, senyuman di wajah Erina sirna sudah.
"Mama," panggil Raka dengan menatap wajah Mamanya.
"Raka ikut ke sini?" tanyanya.
"Iya, Raka ikut Papa untuk jemput Mama. Sekarang, Raka dan Papa akan sering mengantar dan menjemput Mama," balasnya.
"Tidak usah, Raka. Kan Mama bisa membawa mobil sendiri," balas Erina.
"Tidak, Ma. Kan Papa dan Raka sayang sama Mama. Jadi, kerjanya diantar Papa dan Raka aja."
Erick yang berada di sana, hanya bisa merotasi matanya dengan malas. Benar-benar tidak suka ketika Erina sudah bersama dengan Zaid dan Raka. Sampai di batas pemuda tampan itu pun berpamitan dengan Erina.
"Rin, aku pamit yah ... sampai jumpa lagi besok," pamitnya.
"Ya, Rick ... hati-hati."
Erick berlalu begitu saja, tanpa pamit kepada Zaid dan juga Raka. Setelahnya, Raka berjalan mendekat ke Mamanya. "Ayo, Ma ... pulang. Mama jangan temenan sama Om Erick. Raka tidak suka, Ma."