
Masuk ke dalam ruangannya di dalam butik itu, Erina memijat pelipisnya yang terasa begitu pening. Hatinya sekarang menjadi gusar. Ya, dalam satu hari usai pulang dari Kids Camp dia teringat dengan permintaan Zaid untuk bisa menerimanya. Memulai semuanya dari awal.
Pun dengan perasaannya kepada Erick. Erina sampai bingung dengan semuanya. Dulu, dia berpikir bahwa bercerai dari Zaid adalah pilihan yang tepat. Dia merasa kehilangan sisi dirinya, merasa kesepian, sementara Zaid begitu sibuk dengan pekerjaannya.
***
Beberapa bulan usai sebelum gugatan perceraian ...
Pada suatu malam kala itu, Erina terlibat pertengkaran dengan Zaid. Erina yang sudah begitu emosi merasa bahwa Zaid tidak bisa menuruti apa yang dia minta. Dia merasa fokus utama Zaid hanya tertuju kepada bisnisnya saja.
"Mas Zai ... aku ingin bercerai," ucap Erina kala itu.
Zaid yang mendengarkan ucapan Erina, tertegun. Dia tidak menyangka bahwa Erina mengatakan bahwa dirinya menginginkan bercerai. Sebagai seorang suami, Zaid pun juga begitu kaget dengan ucapan Erina sekarang.
"Kenapa Rin?"
Zaid masih bertanya dan berharap Erina bisa memberikan jawaban yang logis. Zaid merasa selama ini dia tidak pernah bermain serong dengan wanita lain. Uang bulanan untuk Erina juga terbilang banyak. Selain itu, ketika Zaid berada di rumah, dia juga yang akan mengasuh Raka. Turut terlibat untuk mengasuh putranya. Akan tetapi, kenapa Erina meminta bercerai darinya.
"Aku tidak bahagia dalam pernikahan kita. Jadi, aku ingin lepas dari ikatan yang sama sekali tidak membuatku bahagia," ucap Erina dengan menundukkan wajahnya.
"Tidak bahagia? Bukankah selama ini kamu baik-baik saja, Yang? Lantas kenapa sekarang, kamu ingin bercerai?"
Seakan Erina pun sudah memberikan penjelasan bahwa dia ingin bebas dari pernikahan yang di mata Erina terasa suram. Dia ingin mengejar apa yang pernah dia tinggalkan sebelumnya. Nama di dunia fashion, bisnis dan butiknya, hingga akses pertemanan yang terbatas ketika sudah menjadi ibu rumah tangga.
Erina sekarang sebenarnya berada dalam titik jenuh. Merasa semua yang dia kerjakan tidak maksimal dan hanya terkurung di rumah. Selain itu, Erick juga menyarankannya untuk mengejar apa yang dia inginkan mumpung masih muda. Di kala hati resah dan bujukan dari pria lain, akhirnya Erina sudah sampai pada keputusan yaitu bercerai.
***
Sekarang ...
Erina seolah berpikir kembali apakah dulu keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang didorong karena emosi sesaat. Mengapa sekarang, Erina baru bisa merasakan bahwa Erick memang terasa begitu ikut campur dengan kehidupan rumah tangganya.
Ketika kamu ada masalah dan membutuhkan bantuan, jangan mencari orang lain. Carilah aku, Erin. Aku suami kamu.
Seketika Erina teringat dengan ucapan Zaid barusan. Apakah memang dulu, dia yang terlalu banyak mencari Erick sampai dia sendiri lupa bahwa ada suaminya. Seharusnya seorang suami menjadi support sistem pertama untuk istrinya. Namun, yang Erina lakukan justru Erina lebih mencari orang lain. Orang yang Erina percayai bisa membantunya, sementara Erina justru seolah melupakan Zaid yang adalah suaminya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku menjadi bimbang seperti ini? Dulu, aku berpikir bahwa bercerai adalah keputusan yang tepat. Aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri, tapi justru masalahnya kian runyam. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
Erina benar-benar dilema dan juga bingung dengan hatinya sendiri. Menerima permintaan Zaid? Atau bertahan dalam hubungan yang sebatas hanya memberikan jerat belaka?