
Zaid berusaha bersikap tenang dan begitu santai. Sampai dia bisa tersenyum saat ini, walaupun isi hati manusia tidak pernah ada yang tahu. Namun, sejauh ini Zaid sangat bisa untuk menguasai keadaan.
"Raka jalan-jalan di taman yah?" tanya Erick kepada Raka.
"Iya, Om … Raka mau jalan-jalan sama Mama dan Papa," balas Raka.
Erick yang mendengarkan jawaban Raka pun tersenyum. "Baiklah, Om Erick pamit dulu yah. Segera sehat, Raka," pamitnya.
Bahkan sekarang Erick hanya melirik Zaid sekelas dan enggan untuk menyapa Zaid di sana. Akan tetapi, Zaid tak ingin ambil pusing. Alih-alih memikirkan perasaannya, yang jauh lebih penting adalah Raka bisa melihat Mamanya. Walau hanya sebentar, tetapi mereka bisa berjalan-jalan di sore yang teduh. Merasakan angin yang semilir, birunya langit berpadu dengan gumpalan awan putih, dan juga dengan hiruk-pikuk anak-anak yang bermain di taman kota.
"Kita jalan-jalan bersama ya Ma," ucap Raka kemudian.
Tentu saja Raka merasa sangat senang karena Mamanya datang. Memang yang dia inginkan adalah bisa menikmati sore bersama Mama dan Papanya. Kesempatan yang sangat jarang dia dapatkan karena dulu Papanya sibuk untuk bekerja. Sekarang, ketika Papanya berada di rumah, kondisinya justru berbalik karena Mamanya yang giliran bekerja.
Tampak Raka menggandeng tangan Mamanya di tangan kiri, dan tangan Papanya di tangan kanan. Anak ini berada di tengah-tengah Mama dan Papanya yang sejatinya masih berseteru. Namun, bisa dekat dengan Mama dan Papanya saja sudah cukup untuk Raka.
"Kalau begitu, Raka kayak anak-anak itu. Digandeng Mama dan Papa," ucapnya lagi.
Sementara Erina dan Zaid sama-sama tersenyum, walau keduanya juga tidak menjawab pertanyaan Raka sama sekali. Percayalah, tidak mudah pastinya menjadi sosok seperti Erina dan Zaid. Mereka berpura-pura tersenyum, walau dalam hatinya nyaris perasaan itu kian terkikis.
Hingga akhirnya sekarang, Raka mengajak Mama dan Papanya duduk di rumput di depan sebuah kolam buatan dan ada beberapa ikan di dalam kolam itu. Raka menatap Mama dan Papanya secara bergantian.
"Mama dan Papa, nanti beliin Harum Manis itu yah," pinta Raka menunjuk salah seorang penjual harum manis di area taman.
Erina dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak Raka, jika memakan itu kamu bisa batuk," sergahnya.
"Papa," tanya Raka kepada Papanya.
"Boleh, tapi tidak harum dimakan semuanya loh yah. Sedikit saja, benar yang Mama katakan nanti kamu bisa batuk," balas Zaid.
Bahkan untuk sekadar pengambilan keputusan sederhana saja, Erina dan Zaid tampak tidak sepakat. Secara sederhana, pengambilan keputusan yang tidak sepakat seperti ini membuat anak bingung. Mereka akan bimbang harus mengikuti keputusan Mamanya atau Papanya. Padahal sebaiknya memang kedua orang tua bisa memiliki kesepakatan dalam mengambil keputusan, walaupun itu adalah keputusan sederhana.
"Jadi, bagaimana? Mama tidak boleh, Papa boleh," tanya Raka.
"Tidak boleh."
"Boleh."
Zaid dan Erina pun kembali menjawab secara bersamaan dan itu tentunya membuat Raka sedih dan bingung. Lagi-lagi orang tuanya tidak sepakat. "Ya, sudah … Raka tidak jadi beli saja. Takutnya nanti Mama marah dan pergi dari rumah karena Raka nakal," balasnya.
Alihkan kesedihan Raka, Zaid pun mengajak Raka untuk melihat beberapa ikan di kolam. Menunjukkan jenis ikan dan namanya kepada Raka. Sapa tahu dengan dialihkan rasa kecewanya, Raka bisa kembali bahagia.
"Raka sini, Nak … kamu tahu enggak itu ikan apa?" tanya Zaid kepada putranya.
"Ikan yang mana Pa?" Raka bertanya dan berjalan mendekat ke arah Papanya.
"Yang warnanya putih, oranye, dan hitam itu namanya ikan apa?" tanya Zaid lagi.
"Itu ikan koi, Pa," balas Raka.
Zaid tersenyum di sana. Rupanya Raka bisa cepat tanggap dan bisa tahu nama-nama ikan. Sementara Erina mengamati interaksi keduanya dari jauh sembari berselancar dengan gadgetnya.
"Kita pelihara ikan di rumah mau, Pa?" tanya Raka kepada Papanya.
"Boleh, mau membuat kolam atau membuat akuarium?" tanya Zaid.
"Kolam kecil saja, Pa. Dikasih air mancur," pinta Raka.
Zaid pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Oke, nanti Papa akan bikinkan kolam ikan yah. Kecil saja yah?"
"Iya Papa, kecil saja," balas Raka.
Setelahnya Raka kembali duduk di samping Mamanya. Rupanya bocah kecil itu mengamati Mamanya yang terlihat berbalas pesan dengan nama chat Mr. E.
"Mama chat sama siapa?" tanya Raka.
"Temannya Mama," balas Erina.
Raka kembali melirik Mamanya. "Kenapa itu Mama tidak membalas pesannya Papa, Ma?" tanya Raka yang melihat ada pesan dari Papanya yang belum terbalas.
"Ah, iya … Mama lupa," balasnya.
Sementara Zaid yang mendengarkan pembicaraan Erina dan Raka hanya membatin dalam hati. Dalam benaknya sudahlah pasti Mr. E itu adalah Erick. Sementara pesan darinya tak terbalas karena memang bukan Zaid prioritas utama Erina sekarang. Rujuk pun hanya sekadar untuk Raka.
Mungkinkah Erina jatuh di dua hati? Atau sudah tidak ada rasa yang tersisa untuk Zaid kini?